Skip to main content

A Wedding Speech for D&A

Here I come.. to the special day of my housemate, and I feel honour when she asked me to deliver a speech at her wedding. So I want to memorise, and freeze it here so everyone could read.

***

"Saya kenal Kak Puji - that's how I call the bride - baru satu atau dua tahun belakangan. Sempat tinggal se rumah selama enam bulan, dan hanya dengan beberapa kali bertemu, saya merasakan 'klik' untuk kemudian memutuskan pindah ke rumah yang kita sebut pink house.

Satu tahun yang lalu, Ka Puji mencari rumah untuk dia tempati. Meskipun banyak yang protes dan menyarankan untuk nge kost saja, dia tetap pada pendiriannya to live a decent life in a house she pay her self. She's indeed have a strong will about this one. Waktu itu dia juga tidak tahu kenapa begitu yakin harus tinggal di sebuah rumah ketimbang kamar kost-kostan. Setahun kemudian kita semua tahu, ternyata dia kesana... untuk bertemu dengan jodohnya.

Siapa yang sangka dua orang dengan latar belakang begitu berbeda, akhirnya bisa dipertemukan dan disatukan dalam waktu kurang dari sepuluh bulan. Saya masih ingat malam itu, ketika pertama kali Mas Adam - that's not exactly how I call the groom - menyampaikan keinginannya untuk bertemu, bersilaturahim sekaligus mengutarakan niat jika memang jodoh. Malam itu, semesta menyaksikan kesungguhan seorang laki-laki yang ingin bertemu dengan seorang perempuan, melalui cara baik-baik. Meskipun ada saja halangan; mulai dari musibah yang baru saja menimpa sehingga beliau harus jalan kaki dari rumahnya ke rumah pink kami, alamat rumah yg ditulis di handphone yang kehabisan batrei,.. Tapi tetap bisa sampai ke rumah pink itu. Kesungguhannya, membawa kita semua berkumpul di sini merayakan kebahagiaan kedua mempelai.

As for the bride.., malam itu berdandan rapi, tapi justru cuek sama tamunya. Saya - yang jauh dari rapi, karna baru mendarat dari Kalimantan Barat dan akan terbang lagi ke Sumatera Utara dan hanya punya waktu delapan jam di rumah untuk unpack&pack - justru yang lebih banyak meladeni obrolan Mas Adam dan Koko yg waktu itu ikut menemani juga dan menjadi penengah. Tapi Ka Puji bukan cuek karna tidak peduli loh ya, maklum.. nervous. Haha

Saat itu dari delapan jam yang saya punya, setengahnya saya pakai untuk menemani pertemuan perdana kedua mempelai, dua jam saya pakai untuk berkemas dan bersih-bersih, dan yah.. selebihnya untuk istirahat as peaceful as possible. But it all worth it in the end, because then.. I could witness a lovely story that universe brings. 

Memang saya hanya sempat tinggal satu rumah dengan Kak Puji selama enam bulan, tapi cukup untuk saya bisa mengerti perempuan seperti apa dia. Yang cerdas, punya kemauan kuat untuk mencapai sesuatu, dedicated, strong, dan loyal terhadap apa yang sedang dia hadapi - dan ternyata juga adalah Mapres IPB di angkatannya., saya baru tahu hari ini - haha. Insya Allah Mas Adam memang tidak salah pilih.

Saya merasa terhormat bisa berkenalan, tinggal serumah -dan belajar banyak mulai dari cara mengurus rumah, memasak, merawat tanaman- dengan Ka Puji, the bride. Sejak pertama kali kita bertemu untuk saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu sebelum tinggal serumah, oh yes we did that, like Sherlock and Watson when they first live in together,  Ka Puji memang bilang bahwa dia memang berniat untuk menikah, padahal saat itu belum punya pacar sama sekali. Ternyata semesta memang selalu punya jalan untuk mewujudkan keinginan seseorang yang tahu apa yang dia inginkan.

After all, adalah suatu kehormatan bagi saya untuk bisa turut menyaksikan proses perjalanan sepasang suami istri yang sedang berbahagia ini, terlebih bisa menceritakannya disini. This is the end of the beginning, it still a long road ahead, and  I hope you both make a perfect team for each other. Side by side. 

Dan karena jodoh bukan hanya selalu tentang pasangan, melainkan teman yang baik pun juga adalah jodoh yang diberi oleh Tuhan, maka saya mendoakan semoga pertemanan ini pun adalah jodoh yang diberikan agar kita bisa saling mengingatkan. Perempuan harus selalu saling menguatkan. Dalam sepuluh atau dua puluh tahun lagi, ketika kita sudah hilang di jalan masing-masing, saya harap kita masih bisa saling menemukan, berbagi cerita dalam ringannya ayam goreng Cak Joyo, dan tertawa pada hal-hal receh yang hanya kita yang mengerti.

It's a great honour for me to know you, sis. And I'm here if you need anything, besides.. what's the point of having a perfect husband if you don't have a best friend to talk about it. :)

Cheers"

***

To the happy couple, D & A

XOXO,
HSL

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …