Skip to main content

Cemburu Nadhira (2)

"Mungkin Allah tahu, kau tidak akan kuat menanggung pahitnya perceraian. Maka Dia telah pisahkan kalian, sebelum akad"

Penulis buku 'Ketika Dhira Jatuh Cinta' itu pun bercerai. Menjadi janda di usianya yang baru seperempat abad. Jika saya, ataupun anda, baru mengalami pahitnya putus cinta, ditinggal kekasih atau gagal menikah, maka Nadhira, perempuan yang luar biasa kuat, mengalami pahitnya berpisah dengan seseorang yang ia sangka Sang Pangeran.

Tiga tahun silam saya pernah menulis tulisan dengan judul serupa (tanpa angka dua), di blog dengan nama domain nama saya sendiri. Saat itu saya masih berstatus 'in a relationship' dengan seseorang yang saya sangka adalah pangeran yang ditakdirkan untuk saya. Tulisan itu saya buat karena terpancing membaca tulisan di blog ayah Nadhira: Jamil Azzalini. Yang membuat saya menelusuri blog sang putri, dan terkagum-kagum sendiri.

Saat itu Nadhira masih tinggal di Jerman, dan menghadapi perasaan cinta yang (mungkin) mendalam pada seseorang. Namun dengan kuat dan tegarnya, ia memilih untuk diam dan memendam, sambil mengkomunikasikan perasaannya pada Sang Maha Pemilik Rasa. Tidak putus mengingatkan pada para pembaca, untuk terus meminta hanya pada Allah. Padahal mungkin dalam kenyataan yang dia hadapi, doa-doanya tidak kunjung membawa dia mendekat pada sang pujaan hati.

Saya cemburu, karena di usia yang sama, saya justru mengumbar perasaan berlebih pada seorang laki-laki. Merasa yakin dan percaya bahwa dialah yang terakhir, padahal jalan terbentang masih panjang, dan segala kemungkinan masih ada. Saya mendahului ketentuan Allah dengan memaksakan keinginan hati, menetapkan dia sebagai pusat semesta saya berotasi. Bukan Dia, tetapi dia.

Setelah membaca tulisan Nadhira tentang mengendalikan hati, terus terang saya malu. Saya malu dan merasa terlanjur tanpa bisa mundur. Saya terlanjur menjalin hubungan selama empat tahun (saat itu) tanpa tahu bahwa sembilan bulan kemudian segala sesuatunya berubah seratus delapan puluh derajat.

Namun saya memantapkan hati, sambil yakin bahwa jika seseorang berkehendak untuk berubah, Allah pasti berikan dia jalan. Jika seseorang yakin mau mendekat pada Tuhannya, maka Dia akan beri jalan dan membuka pintu ampunan seluas-luasnya. Tuhan kita Maha Pengampun. Hanya setan saja yang tidak pernah lelah menggoda, bahwa Tuhan tidak akan beri ampun.

Singkat cerita, sembilan bulan setelah tulisan itu saya publish, segala sesuatu berubah menjadi terbalik. Saya harus memulai dari nol lagi, membangun diri saya lagi, menemukan benteng yang tadinya kokoh telah menjadi puing, dan mendapati bahwa ternyata.. saya tidak mengerti apa-apa tentang cinta, perasaan, apalagi empati.

Saya sebut sembilan bulan setelah tulisan itu dipublish sebagai titik nol. Dan kini, lima belas bulan telah berlalu sejak titik nol. Hidup saya sudah jauh berbeda dengan saat saya masih menggantungkan diri pada seorang laki-laki yang saya sebut pacar.

Begitupun dengan Nadhira. Dia sudah menikah, dan saya melihat bahagia hari pernikahannya dari kejauhan, (meskipun kita tinggal di kota yang sama), dia tersenyum cantik mengenakan gaun yang dijahit oleh ibunya sendiri, bergandengan dengan seseorang yang.. yah mungkin benar kata orang, kalau jodoh biasanya ada mirip-miripnya.. yang tidak menyamai manisnya senyum Nadhira.

Lalu kita tahu Nadhira mulai mempublish kalimat-kalimat bijak, menguatkan, dan untaian doa-doa bagi para perempuan yang tengah mengalami kesulitan hati. Saat itu saya mulai curiga, pasti ada sesuatu dibalik kalimat-kalimat baik itu. Namun saya enggan berkomentar di kolom instagrammnya. Buat apa, toh kalau dia ingin memberi tahu para pengikutnya, pasti di publish juga. Jika dia pilih untuk menyimpannya sendiri, berarti memang bukan untuk diketahui oleh umum.

Sampai akhirnya kecurigaan tersebut dikonfirmasi dengan tegas. Barulah saya berani menulis ini lagi.

Ya. Saya cemburu. Pada perempuan luar biasa tabah yang hatinya terluka. Luka yang mungkin hanya didapati oleh orang-orang bermental baja. Ia sebut, keluarganya bukanlah keluarga yang akan membiarkan mereka berpisah jika urusannya sepele. Sampai disitu saya berhenti ingin tahu apa penyebab perceraian itu. Pasti buruk sekali, dan saya tidak ingin menggali lebih jauh lagi.

Yang saya tahu, Nadhira menyikapinya tanpa postingan buruk tentang wanita dewasa, merdeka dan tidak butuh laki-laki. Nadhira tidak menentang pernikahan, atas nama sakit hati. Tidak juga menolak fitrahnya sebagai perempuan, yang pasti kelak akan menjadi tempat bersandar.

Ia terus menunjukkan dirinya yang tengah berevolusi. Lembut namun tegar. Teramat berbahaya seperti sarang laba-laba yang menjerat. Ia berevolusi menjadi perempuan kuat, karena hanya ibu yang bermental baja yang bisa melahirkan pemimpin-pemimpin berjaya.

***

Kita semua pasti punya pertarungan di dalam diri masing-masing. Pernah merasakan jatuh cinta, merasa jatuh karena ditinggalkan cinta, dan tenggelam dalam gelap yang seolah tanpa ujung. Hanya orang bodoh yang ingin mengalami bercerai setelah menikah. Berpisah sesaat sebelum akad. Terpuruk itu pasti. Menangis, malu, dan yang lebih menyakitkan.. mengenang masa-masa indah yang jadi dua kali lebih indah ketika telah menjadi kenangan.

Move on menjadi nasihat klise yang kita dengar dimana-mana. Yang lambat laun menjadi bahan bercanda tanpa makna, tanpa tahu bahwa sedikit demi sedikit hati teriris mendengar kalimat-kalimat yang ditertawakan. Rasulullah SAW pernah melarang tertawa terlalu berlebihan, karena bisa mematikan hati. Semoga saja tidak terjadi pada kita semua.

Setiap orang pasti mengalami tingkatan jatuh yang berbeda-beda. Tapi berempatilah, karena rasa sakitnya pasti tidak jauh berbeda. Ada yang jatuh dari lantai satu, merasakan sakit yang sama dengan rasa sakit orang yang jatuh dari lantai empat puluh sembilan. Jangan terburu-buru merasa dirinyalah yang paling tersiksa, dan terpuruk. Tapi yakinlah bahwa dia tidak sendiri dalam menghadapi kenyataan yang sedang buruk.

Hadapi bahwa dalam sekali duakali, ada momen di mana kita harus benar-benar terpuruk untuk tahu, betapa buruknya perilaku kita selama ini. Dan hanya akal yang cerdas, serta hati yang lapang saja yang bisa menemukan hikmah dalam hati yang terguncang. Seperti Nadhira, yang kini menjadi perempuan teramat bijak, dalam kalimat-kalimatnya yang meneduhkan.

Dia mungkin tidak pernah tahu, apakah kelak akan menemukan tambatan hati yang benar membuatnya bahagia seperti negeri dongeng yang ia impikan. Atau mungkin, justru Nadhira telah berhenti memimpikan negeri dongeng dan sadar bahwa tidak ada sosok pangeran. Tapi yang kita tahu bersama, melalui untaian kata indah yang ia tampilkan untuk kita, Nadhira selalu yakin akan adanya Tuhan yang berperan.

Allah Sang Maha Cinta, Sang Pengabul Segala Doa. Setiap kali hati ini teriris melihat seseorang yang begitu baik, begitu tepat, berlalu dan ternyata bukan untuk kita, ingatlah bahwa ada Allah yang mendengar bisikan paling lemah sekalipun.

Allah Nadhira, Allah saya, Allah kamu, adalah satu. Kita punya Tuhan yang sama. Cara menyebutnya saja yang berbeda. Dan dalam setiap yakin yang kita peluk, dalam setiap bisik yang kita ungkap, Allah mendengar, dan Dia tahu semua yang kita resahkan.

Jika Dia diam, bukan berarti dia membiarkanmu terpuruk tanpa menyiapkan sesuatu pengganti apapun. Karena dalam setiap fase menunggu, ada jeda waktu untuk terus bergerak maju. Memantaskan diri pada hadiah yang akan kita dapati jika telah mencapai level tertentu.

Bergerak maju akan sulit, jika kita terus terkenang masa lalu. Dan bayangan masa lalu akan terus menghantui, hati yang menggenggamnya terlalu erat. Lepaskanlah. Perlahan. Baca buku, pergi bertualang, temui teman lama, bicara dengan orang dewasa, temui orang baru, buat dia tersenyum. Tenggelamlah dalam kebaikan. Yang setiap langkahnya, ditujukan untuk mendekat pada Allah. Pada Tuhan kita yang sama. Setiap hari baru yang kita dapati, yakinkan bahwa itu adalah hari dimana dirimu semakin mendekat pada-Nya.

Dia yang Allah sudah siapkan, jauh sebelum engkau diciptakan, menunggumu di level itu. Menunggumu menjadi pribadi yang siap. Yang kuat menghadapi gelombang kehidupan bersamanya. Siap melepas sauh, dan berlayar sampai jauh. Dia akan menemuimu, ketika energi kalian telah berada dalam satu frekuensi yang sama.

Dan ketika itu terjadi,. Tidak ada yang bisa memisahkan atau menggagalkan rencana kalian berdua. Karena dalam rencana itu, perekatnya adalah ridho Allah. Bahkan langit pun bergetar, mengiringi bersatunya dua cerita, yang telah lama ingin saling menemukan.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …