Skip to main content

To Feel the Need to Share

Kapan terakhir kita berbicara dengan seseorang, begitu dalam, begitu ringan, seolah tidak ingin berakhir? Bercerita tentang hal-hal hebat yang terjadi hari ini, membagi pikiran serta opini pada yang terjadi, lalu menertawakan hal-hal remeh namun konyol yang tidak bisa dibagi pada orang lain. Sepekan? dua pekan? atau jangan-jangan.. setahun yang lalu?

Karena memang sulit membagi diri, membuka cerita dengan seseorang yang benar-benar mau mendengarkan. Distraction is the new disease, komunikasi tidak lagi berjalan dengan dua arah, selalu ada notifikasi yang terselip di sela-sela percakapan hebat antar dua manusia.

Makanya, kalau punya teman yang bersedia menyimpan ponselnya demi menghabiskan waktu denganmu, jaga dia, dan utamakan dirinya. Jangan sampai dia hilang karena sakit hati merasa diabaikan.

Kita semua selalu ingin berbagi, bercerita, dan beropini. Bisa terlihat orang-orang yang kesepian, akan memenuhi sosial medianya dengan celoteh-celoteh yang dianggapnya penting, mulai dari keseharian diri, hingga pendapat-pendapat mengenai yang sedang terjadi di televisi. Ada juga orang yang bersembunyi, dia tidak ingin sendiri, tapi tidak juga ingin publikasi, jadilah dia melakukan pendekatan-pendekatan dengan rekan terbaik melalui fitur-fitur komunikasi.

Minimalist memaknai sharing sebagai caring, yang justru penting. Lebih mengutamakan memory ketimbang berbelanja benda-benda. Jika ada uang sepuluh ribu, lebih baik dipakai untuk pergi tamasya ke kebun raya, beli tiket masuk, lalu duduk-duduk di bawah pohon rindang, ketimbang membeli baju atau sepatu baru.

Moment berharga adalah yang dihabiskan bersama dengan mereka yang dicinta, minimalist akan mengutamakan kebersamaan ketimbang mengganti nya dengan benda-benda sebagai hadiah.

Manusia adalah makhluk sosial, yang selalu butuh teman bicara. Jangan heran ketika seseorang abai pada pasangannya, si pasangan tersebut akan cenderung mencari sandaran lain untuk bercengkrama. Kehadiran fisik, jauh lebih penting meskipun komunikasi kini bisa dilakukan secara virtual.

Untuk itu, saya selalu mengutamakan teman-teman terdekat ketika sedang bisa memilih. Memilih untuk menghabiskan waktu secara fisik dengan mereka yang juga mau menghabiskan waktu secara fisik dengan saya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, untuk itu make memory hari ini jauh lebih penting ketimbang berkata 'maaf saya tidak bisa hadir kemarin karena bla bla bla'.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert