Skip to main content

Sang Pengelana ~ Tempat Singgah

Entah apa yang meneguhkan tekadku, menggenggam tangan perempuan yang bahkan belum kutahu siapa namanya itu, meminangnya dalam balutan kalimat singkat yang tidak sempat kupersiapkan.

Biar kuceritakan terlebih dahulu, bahwa sebagai seorang pengelana, aku tidak lah baru dalam urusan cinta. Bahkan patah hati ku terhadap Alena, juga bukan untuk yang pertama.

Tahun-tahun awal ku meninggalkan kampung halaman, aku bertemu dengan seorang perempuan. Ia ramah juga rupawan. Sayangnya, saat itu dia telah menikah. Mengikat kasih dengan seseorang yang tidak ia cinta.

Singkat cerita kami berdua saling terpikat, hanya dalam waktu tiga hari, aku berhasil mengajaknya pergi berdua. Menikmati semilir angin di pinggiran sungai besar, yang senjanya teramat memukau. Kami bercerita tentang seisi dunia, dan juga tentang cinta. Disanalah aku tahu, bahwa pernikahannya adalah karena orang tua. Klasik memang. Bahkan aku yang saat itu masih sangat belia pun tahu, betapa klise nya alasan itu. Usia kami terpaut belasan tahun, namun aku mampu membuatnya rela memberikan segalanya padaku. Jika saja aku mau.

Dalam kurun waktu sepuluh hari, desas desus tentang kami telah beredar luas. Seorang muda pengelana, bermain cinta dengan seorang perempuan yang sudah menikah.

Saat itu aku masih sangat muda. Terlalu muda untuk bisa berpikir panjang. Terlalu muda untuk bisa mengambil tindakan yang tepat.

Kuputuskan meninggalkan negeri itu di tengah gelap malam yang pekat. Entah apa jadinya jika malam itu aku masih saja berada di sana, karena ku dengar, keesokan harinya orang beramai-ramai mendatangi penginapan tempat ku menginap, dengan membawa obor dan berteriak-teriak marah.

Aku sudah tidak mendengar kabar lagi tentang perempuan itu. Apa daya, tiada yang bisa kuperbuat. Cintaku pun tak sebesar itu padanya. Aku hanya ingin tahu, dengan keadaanku saat itu, apakah aku bisa memikat perempuan seperti dirinya.

Perempuan yang begitu haus akan cinta. Perempuan yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Perempuan yang selalu menginginkan sesuatu yang dia tidak punya.

Lama kemudian aku jatuh cinta lagi. Pada seorang gadis yang teramat jelita. Kecantikannya tersebar ke tiga negara. Semua orang datang ingin melamarnya, dari berbagai kalangan. Konon, ayahnya mematok harga sangat tinggi, teramat tinggi untuk pria yang ingin menikahi gadisnya. Harga yang disyaratkan, seakan hanya untuk dipenuhi oleh para penghuni istana, bukan untuk rakyat jelata.

Aku bertemu dengannya saat ia tengah membeli bunga. Didampingi oleh beberapa pengawal, dengan anggun dia memilih beberapa tangkai dan dibawa pulang.

Untuk siapa? Tegurku pelan. Akulah penjual bunga itu. Terkadang aku perlu bekerja untuk mencukupi kembali perbekalan ku.
Ibu, jawabnya singkat dengan senyum tipis. Kuakui dia memang manis. Cara dia menggerakkan bibir untuk tersenyum, menundukkan mata untuk menghindari temu tatap, menunjukkan derajat kebangsawanan yang tinggi.

Kuambilkan beberapa tangkai lain yang cantik..yang jauh lebih cantik dari yang ia pilih. Tangkai bunga yang jarang terlihat oleh orang banyak karena tampilannya yang tidak begitu menarik jika dikumpulkan bersamaan dengan bunga-bunga lain. Bunga itu hanya cantik jika berdiri sendiri.

Kosodorkan padanya, dan ia nampak terkejut. Merasa tidak membeli bunga-bunga tambahan yang telah kujalin tipis. Hanya tiga tangkai, namun kesan mewahnya mampu mengalahkan buket bunga yang telah ia rangkai. Kuberi isyarat agar dia mau menerima, karena ini gratis sebagai hadiah perkenalan. Meskipun dia telah sering membeli bunga disini, tapi ini kali pertama ia dilayani oleh orang sepertiku.

Sejak saat itu ia banyak datang ke toko bunga tempat ku bekerja. Rupanya, dia terkesan dengan pengetahuan ku yang langka.

Darimanakah paman, berasal? Tanyanya suatu ketika. Setelah kurang lebih empat kali kami berjumpa.

Kuceritakan padanya tentang negeri asalku, juga negeri-negeri yang telah kujelajahi. Seperti perempuan cerdas lainnya, dia menyukai kisah-kisah tentang perjalanan dan petualangan. Layaknya candu, dia pun memintaku untuk terus bercerita. Bahkan saat aku sedang tidak bertugas menjaga toko, dia bersikeras menemuiku di penginapanku yang sempit dan pengap.

Dan hanya dalam hitungan minggu, seorang perempuan yang kecantikannya tersebar hingga tiga negara itu telah jatuh ke dalam pelukanku. Dia memintaku untuk membawanya menjelajah, mendatangi negeri-negeri yang jauh dan tak pernah terbayangkan. Selama ini hidupnya selalu dipenuhi kemewahan, jejamuan dan pesta. Tidak pernah sedikitpun ia menjejakkan kaki ke luar lingkarannya.

Jika aku menolak, dia mengancam untuk menyudahi kehidupannya. Dia memang masih muda. Masih sangat muda untuk berpikir matang. Bisa saja ancaman itu benar terjadi, jika aku nekat meninggalkannya begitu saja. Gadis seperti itu, tak mungkin akrab dengan rasanya dicampakkan.

Aku tinggal beberapa minggu lebih lama dari perkiraan. Berusaha menetralkan keinginannya dan mencegahnya melakukan hal-hal konyol di luar kebiasaan. Ku dengar negeri ini adalah negeri yang santun. Negeri yang tidak pernah mendengar omong-kosong, apalagi sampai merenggut nyawa sendiri.

Jika sampai itu terjadi, apalagi pada putri yang amat disayangi, entah bagaimana aku bisa menebus rasa bersalah ini.

Tapi aku tidak bisa membawanya berkelana. Bahkan pada saat itu, aku yang masih belia ini pun tahu aku tidak bisa berkelana sembari menambatkan hati. Belum waktunya aku bersandar, apalagi pada seorang gadis muda yang teramat menginginkan dunia.

Hingga suatu malam di bawah mewahnya gemintang, aku berkisah padanya tentang cinta. Tentang hati yang terpaut ruang angkasa. Namun cinta itu tetap nyata, terpancar dari seorang wanita, yang kini menjelma menjadi bintang paling cerah.

Kutunjukkan bintang tercerah yang saat itu ada. Seolah tahu dirinya sedang diajak bicara, bintang itu berkerlip-kerlip manja, seperti mengajak bercanda.

Dia tertawa. Tawa termanis yang pernah ku dengar. Tawa yang menyembunyikan ketakutan, juga kesedihan. Aku tahu betapa besar cintanya pada ku, dan aku juga tahu, dibalik genggamannya yang begitu erat, dia takut kehilanganku.

Paman, bisakah paman tidak pergi? Tanyanya seusai menikmati cerita tentang cinta dan bintang. Kuusap pipinya pelan, lembut bagaikan sutra. Ia menutup matanya, mengeluarkan sebulir air mata.

Aku tidak pergi,. Jawabku pelan, mengangkat dagunya. Mata kami bertemu, dan aku menemukan gelombang ketakutan di sana. Aku selalu ada disini, menunjuk ke dahinya, dan disini, menunjuk ke hatinya.

Aku tidak mau paman pergi. Aku tidak bisa berakhir dengan para lelaki yang tidak pernah bertualang.. Aku.. aku tidak mau.. Dia kembali terisak. Ku dekap tubuh mungilnya yang terguncang oleh ketakutan.

Sungguh, saat itu, nyaris aku memutuskan untuk mengakhiri pengelanaan ku, dan meminangnya pada sang ayah. Tak peduli seberapa mahal pun harga yang ia pinta. Akan kutebus dengan kerja keras berpuluh kali lipat.

Tapi jiwaku berkata lain. Belum genap seratus tahun ku berkelana. Masih banyak sudut bumi yang harus aku jejaki, dan aku pelajari.

Maka di pagi yang dingin berselimut kabut tebal, aku pergi. Meninggalkan negeri yang teramat santun dan baik hati.

Kudengar gadis itu mendadak berubah. Tak lagi periang, tak lagi sopan berwibawa. Kecantikannya perlahan memudar, lingkar hitam matanya menjawab betapa sedikit waktu istirahat yang dia habiskan. Ia tidak lagi pergi ke toko bunga, tidak lagi mengenakan gaun berwarna ceria. Meski senyumnya masih sama, dan matanya kadang memperlihatkan kebahagiaan, orang-orang tahu bahwa itu semua hanyalah pura-pura. Ia lebih banyak mengenakan gaun hitam. Menutupi sebagian wakah dengan topi dan kain tembus pandang. Bibirnya dipoles semerah mungkin, dan ia berubah menjadi perempuan yang amat ditakuti. Meski tetap dicintai.

Dari situ aku tahu, begitulah perubahan perempuan selepas patah hati. Tidak ada perempuan yang sama, seusai ditinggal pergi. Mereka akan rapuh, dan hancur. Lalu seiring dengan perputaran waktu, mereka akan mengumpulkan puing-puing yang berserak, menyusunnya utuh kembali meski retak-retak, dan membalutnya dengan lebih kokoh. Dindingnya lebih tebal, dan jauh lebih sulit untuk ditembus.

Dan pada perempuan menikah yang mau kuajak bermain cinta, dari situ aku tahu, luasnya hati memang tidak ada yang bisa menduga. Perempuan itu tentu mencintai suaminya, yang meskipun mereka menikah karena terpaksa, ia tetap bersedia dan tidak mau meninggalkannya. ada cinta tersendiri yang perempuan itu jaga, yang sama besar dengan cinta nya pada ku yang membara.

Bahwa ternyata, hati yang satu, bisa memendam cinta-cinta yang sama. Yang lebih dari satu. Jika hati adalah bangunan, maka bisa jadi cinta adalah ruang-ruang yang dibangun dengan sama besar dan sama cantiknya, untuk penghuni yang berbeda.

Kadang aku bertanya... Adilkah itu? Untuk si perempuan? Untuk sang suami? Atau untukku?

Tapi harus kuakui bahwa begitulah cara hati bekerja. Meski tak sepadan, tapi seseorang bisa merasakan cinta pada dua-tiga-empat orang bersamaan dalam porsi yang sama. Jujur saja, saat ini aku pun masih memendam cinta yang sama pada Alena. Meskipun telah lama kurelakan kepergiannya.

Atau mungkin, memang seseorang tidak bisa mencegah hati untuk menjatuhkan diri pada siapapun yang dia kehendaki. Namun.. Tubuh seorang manusia tidak hanya terdiri dari hati, ada akal pikiran serta logika yang turut menemani. Menjaga dan menavigasi. Logika adalah komitmen, pada apa yang ingin kita peroleh dan kita abdikan. Kupikir, rasanya adil jika disebut seseorang sah sah saja bisa jatuh pada dua hati, tapi lebih adil lagi jika disebut jatuh hati yang kedua kali adalah karena ketiadaan kendali. Kendali yang bersumber dari akal pikiran.

Seorang manusia telah di design untuk bisa mengontrol keduanya. Dan ketika aku telah menetapkan hati ku pada perempuan yang belum kutahu namanya, aku ingin pikiranku turut menjaga bahwa dialah yang aku pilih. Tidak peduli seberapa sering hatiku menengok ke belakang, berusaha menggapai Alena yang telah lama hilang, aku ingin logika ku terus memaksa agar hati tetap tinggal pada satu saja. Satu tempat yang kelak kusebut sebagai rumah.

***

Perempuan itu belum menjawab. Kedua bola matanya masih mencari-cari kebenaran. Menatap ku dalam. Genggaman tanganku belum dia lepas, namun tak juga ia sambut. Mata kami terus bertemu, ada getar yang tidak tertahankan tersalur dari sana. Ada hasrat yang sekuat tenaga  ingin kutepis di pagi yang dingin ini.

Namun ia masih terdiam, mengatupkan bibir menenggelamkan kata. Kulihat kedua matanya perlahan basah. Sebelum ia sempat mengucapkan kata, sebuah bis mendekat perlahan. Berhenti persis di depan kami.

Seorang dengan langkah berat turun dari bis. Kudengar suara koper terseret dengan berat. Langkah itu mendekat, pelan tapi pasti. Perempuan itu telah menjatuhkan satu butir air mata. Menutup mata, lalu menarik tangannya dari genggamanku. Ia berdiri, menyeka matanya yang basah, sambil tersenyum terpaksa.

Tak lama langkah kaki berat itu telah berada di tempat kami. Perempuan itu menggamit lengannya, yang dibalas kecupan mesra di dahi. Mereka lalu melangkah pergi. Begitu saja, seolah basa basi tak perlu lagi.

Aku hanya bisa terdia mematung. Membiarkan lutut ku kebas diterpa angin pagi yang dingin. Beberapa pasang mata melihatku iba. Aku masih dalam posisi berlutut, menatap punggung mereka yang kian mengecil, lantas hilang di sudut jalan.

Oh.. Batinku pelan. Dengan berat mengangkat posisi berlutuku dan duduk bersandar di bangku pemberhentian. Jadi ini.. Rasanya ditinggalkan.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert