Skip to main content

Eiffel I'm in Love dalam Perspektif Minimalism

Kali ini saya akan berbicara tentang film, yang membuat saya gemas-gemas nyesal sudah menghabiskan waktu dua jam menonton sesuatu yang super... umm.. super apa ya.. Nanti dulu deh. Heheh.

Eiffel I'm in Love nampaknya sengaja dikemas dengan teramat kekanakan, dialog-dialog garing khas sinetron 90an, dan ekspresi yang dibuat-buat. Rasa remaja, dalam balutan wajah-wajah tua dewasa. Atau mungkin karena Adit dan Tita lagi-lagi berada di bawah bayang-bayang Rangga dan Cinta.

Saya pun punya alasan sendiri kenapa tetap memaksa untuk menonton film ini. Tapi tidak mau nonton sendiri (karena kalau nonton sendiri, dari awal kemunculannya di bioskop pun saya sudah bisa nonton). Saya ingin menonton bersama teman, supaya kalau kenapa-kenapa dengan filmnya, saya ada tandem komentar. Dan benar saja., filmnya super lucu, saya dan teman (yang sebetulnya adalah mother of four in her forties tertawa terpingkal-pingkal sepanjang adegan. Kecuali saat mereka diam. Eiffel I'm in Love akan menunjukkan betapa silent is golden adalah benar).

Anyway sepanjang film saya menyibukkan diri untuk memperhatikan sisi-sisi lain, yang menjadi latar dan sekedar bumbu. Seperti rumah, apartemen, dan restoran yang dikunjungi para tokoh. Supaya gak bosan-bosan amat, gitu. And this is what I got:

Efek bahaya dari susah melepaskan (to let go)

Ya, semua orang tahu bahwa melepaskan itu susah. Move on itu susah. Ikhlas itu susah. Eiffel I'm in Love berhasil merangkum akibat dari susahnya melepaskan, mengikhlaskan, sesuatu yang teramat disayangi. Bayangkan, jika anda punya anak perempuan, usianya 27 tahun, belum menikah, tapi usia mentalnya masih 15 tahun dan tidak juga berkembang. Bayangkan.

Bundanya Tita mencerminkan sifat alamiah perempuan yang kalau sudah terlalu sayang, sulit melepaskan. Anak perempuannya tidak dibiarkan punya handphone, di era Virtual Reality dan Artificial Intelligence semakin menjadi kunci. Anak laki-lakinya, masih tinggal serumah dengan orang tua, padahal sudah menikah dan istrinya tengah hamil muda. Tidak jelas apa pekerjaannya, yang jelas 'bantu papa' adalah mudah saja padahal laki-laki jaman now pride nya tinggi sekali untuk mau-mauan mengekor orang tua.

Tita, pada jamannya adalah panutan cewek-cewek manja yang ingin menjadi kaya. Tapi sekarang, saya yakin, perempuan lajang seusianya, tidak ada yang mau berbicara dengan intonasi seperti itu, se-manja apapun mereka. Perempuan lajang dalam usia menjelang matang, umumnya ingin dianggap dewasa, cerdas, dan mandiri. Bukan sebaliknya. 12 tahun dia menunggu, and lucky her penantiannya berujung bahagia. Tapi.. 12 tahun dan masih sama dengan waktu SMA.. kemana proses belajar yang katanya bisa mendewasakan itu.. sayang sekali ya.

Akibatnya, dia tidak sanggup menahan beban emosi ketika putus cinta. Stalking dengan ekspektasi dia akan menemukan Adit yang tersedu-sedang karena putus setelah 12 tahun. Pola pikir yang amat sangat old - alias young eh gak tahu deh.. bocah lah intinya. Untuk apa perempuan lajang, cantik, berkarir, membuang waktunya menguntit seseorang yang sudah dia lepas. And oh.. not to mention the way she says otherwise. Perempuan dewasa akan berkata apa yang dia rasakan, dan tidak berkata sesuatu untuk berharap sebaliknya. Itu hanya terjadi pada anak SMA, yang rok nya masih sering ditutup jaket karna tembus pas lagi mens.

Kita semua pasti pernah punya sesuatu yang kita inginkan, atau kita sayangi. Akibat buruk dari terlalu memeluk erat itu semua, dan susah melepaskan, adalah penderitaan berlarut-larut. Penantian berlarut-larut, yang kalau tidak hati-hati bisa saja penantian itu berakhir sia-sia.

Racun non minimalist 

Waktu kecil, saya tidak suka boneka. Tapi karena nonton petualangan Sherina, dan rasanya imut sekali kalau bawa-bawa boneka kemana-mana (termasuk saat pindahan rumah), maka saya jadi sering bawa boneka.

Film atau tayangan televisi, punya dampak besar terhadap pemahaman seseorang, terutama anak kecil. Maka saya khawatir kalau ada remaja menonton ini, mereka nantinya akan jadi orang dewasa yang merepotkan.

Bayangkan.. cuma pindah ke luar negeri untuk 6 bulan saja.. bawa-bawa pigura foto sekardus! Alamak..

Minimalism bertujuan untuk mempermudah hidup seseorang, meringankan langkahnya, agar orang itu bisa mudah membuka peluang-peluang baru untuk masuk ke dalam hidupnya. Karena dia tidak terikat pada benda, tempat, atau kenangan tertentu. Karena dasarnya manusia adalah makhluk melankolis, yang teramat cinta pada dunia, sampai lupa bahwa disini hanya sementara. Suatu waktu kita pasti akan pergi kok. Dan semua ini tidak ada yang dibawa. Film ini berhasil membuat orang membayangkan hidup ideal dan romantis adalah dengan kelimpahan pigura foto, boneka, dan perabot-perabot hiasan semacam lukisan yang sudah sangat berdempet di dalam restoran - yang notabene adalah tempat makan.

Dekorasi rumah di Paris yang bernuansa shabby chic itu memang menarik, mamah-mamah muda - yang dulu waktu Eiffel I'm in Love keluar masih remaja SMP atau SMA, pasti tergiur untuk ikut-ikut mencontek konsep itu dari instagram ke instagram, atau pinterest ke pinterest. Jadi untuk mengcounter racun itu, saya ingin mengingatkan lagi untuk kembali pada apa yang kita butuhkan.

Rumah tidak semestinya penuh dengan boneka. Dinding tidak semestinya penuh dengan pigura. Hanya pasang jika memang itu membuat senang. Nuansa shabby chic memang lucu dan imut, tapi bayangkan juga perasaan pasangan mu, suami - atau kalau sudah punya anak laki remaja - ketika mereka harus makan di dalam ruangan dengan dinding penuh bunga, dan piring penuh tanaman merambat. Duh..

Tidak jujur pada diri sendiri

Minimalism mengajarkan seseorang untuk mengenal dirinya sendiri. Karena sedikitnya benda yang dia miliki, fokus perhatiannya hanya akan teralihkan pada dirinya. Ketimbang beres-beres, dia akan lebih punya banyak waktu untuk duduk bersantai, dan berpikir. Mengenali diri sendiri adalah tough luck. Tough journey yang tidak semua orang bisa mengurai itu dalam usianya yang kepalang lanjut. Dan minimalist, akan tahu apa yang dia mau, tanpa perlu berbohong pada orang lain (apalagi sambil berharap orang itu melakukan sebaliknya).

Tita, perempuan lajang usia 27 yang masih menyuruh Adit pergi meninggalkannya di tengah malam yang dingin, di kota Paris yang penuh teror, dengan harapan Adit tidak akan pergi meninggalkan dia. Dan malah menangis, ngomel, marah, ketika Adit memang benar-benar pergi.

Sekarang ini komunikasi sudah tidak lagi dua arah. Seseorang bisa berbicara dengan orang di depannya, tapi juga sambil bicara dengan orang lain di tangannya. Fokus perhatian mudah sekali terpecah. Distraksi ada dimana-mana, dan pikiran selalu penuh dihantui bermacam-macam soalan yang mudah sekali untuk hinggap.

Orang tidak akan sempat memahami sedalam itu, oh kalau dia bilang mau ke McD berarti dia mau ke resto, dan kalau dia bilang mau ke resto, berarti dia mau ke warteg. Tidak. Tidak akan sempat, apalagi bagi laki-laki untuk berpikir menerka, dan memecahkan misteri teka-teki twisted request nya perempuan.

Minimalist, tidak akan membuang waktu untuk hal-hal semacam itu. You name it lah. Mau atau nggak. Take it or leave it. 

***

Secara keseluruhan, film ini memang di desain untuk meramaikan pikiran dan jagat internet Indonesia, tentang cinta-cinta masa remaja, yang kesampean dan ketidak sampean. Setelah Dilan - yang juga akibat dari ketidak jujuran pada diri sendiri, dan berasumsi sampai akhirnya tidak saling memiliki - Eiffel I'm in Love justru menjadi badut untuk meredakan suasana yang cukup gaduh gara-gara gombalan maut tentang berat nya hidup. Yah.. Tita pun sama. Membuat perempuan kesannya kok ya lemah dan gak bisa apa-apa selain berisik dan bertanya, gak mau mikir, gak mau susah, dan gak mau nunggu.

Saya menahan geli sepanjang film, dan tak jarang tertawa keras bersama penonton lain karena gemas dengan akting yang sangat dibuat-buat. Semoga Shandy dan Sammy menikmati reputasi mereka selepas film ini di caci maki dalam berbagai review.

Saya tidak ingin menjadi salah satu pencaci maki, karena dulu saya pun turut menikmati novel dan film yang alur cerita nya mudah sekali ditebak ini. Sambil mengkhayal, adakah laki-laki se cool Adit di dunia nyata. Yang tampan, tinggi, atletis, pendiam, galak, posesif, tapi romantis. Dulu saya ikut menikmati alunan musik-musik Eiffel I'm in Love dan menjadikannya ringtone dalam beberapa bulan sebelum akhirnya saya ganti dengan musik-musik keras aliran punk-rock.

Jadi saya pun tadi berusaha sekali menikmati, memaklumi, dan tidak sama sekali mengeluarkan hape demi nge tweet sesuatu karena geli. Saya berpikir.. oh mungkin alur dan skenarionya sengaja di buat se-garing ini, untuk kita bernostalgia, bukan dalam adegan atau karakter saja, tapi juga nuansa, rasa, dan kekakuan yang ditebar. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar, tapi memang begitulah Eiffel I'm in Love dibuat, untuk meniadakan logika, agar kita - yang sudah kebanyakan mikir ini - berdiam sejenak, mengistirahatkan otak, dan menanggalkan logika. 

Kadang kita butuh sih, hiburan-hiburan garing semacam interaksi antara cowok galak dan cewek manja seperti itu. Kalau cowoknya galak, ceweknya judes, mungkin filmnya tidak akan selesai dalam empat sekuel karena terlalu banyak plot twist yang disebabkan kebodohan-keangkuhan mereka berdua.

Bravo Adit dan Tita. Setidaknya kalian tidak membuat para laki-laki menjadi keranjingan puisi, tapi kalian bisa membuat perempuan berdamai dengan cheese burger dan milkshake coklat.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert