Skip to main content

Sang Pengelana

Ah.. Maafkan saya lupa memperkenalkan diri, padahal sudah dua hari menulis disini. Saya.. Sang Pengelana. Begitu cara saya menyebut diri sendiri, namun orang lain rupanya lebih suka menyebut saya sebagai Air. Karena saya lahir di romantisnya Bulan Februari.

Mungkin selanjutnya, saya yang akan mengambil alih tulisan-tulisan disini. Mungkin juga tidak. Entahlah. Rekan saya, orang-orang mengenalnya dengan Api. Karena ia lahir di membaranya bulan Maret. Dia mungkin sedang beristirahat sekarang. Menghabiskan tiga hari di Puncak, suatu tempat yang katanya dingin sekali. Rekan saya itu nampaknya sedang bahagia. Senang sekali dia melepas jalur komunikasinya. Mungkin ia senang, karena bisa menghabiskan waktu bersama Bumi favoritnya. Ah.. Taukah kamu tentang Bumi?

Nanti akan saya ceritakan.

Sekarang, saya ingin berkenalan.. Atau memperkenalkan diri padamu. Atau.. Jangan-jangan, kamukah Bumi itu?

***

Saya telah menjelajahi seisi Bumi.. Bukan Bumi yang saya maksud tadi.. Tapi Bumi sejatinya Bumi.. Dari negeri ke negeri.. Pelosok ke pelosok.. Sungai hingga laut.. Perkampungan hingga kota modern... Sejak lima ratus tahun lamanya.

Dan belum semua saya singgahi. Termasuk Puncak yang tadi katanya dingin sekali.

Lima ratus tahun, dan mungkin kamu bisa menebak usia saya. Bisa setengahnya, bisa lebih, bisa kurang. Saya akan jawab apapun yang ingin kamu tanyakan, asalkan bukan tentang usia. Karena itu rahasia. Seseorang harus punya rahasia, agar hidupnya menarik dan tidak biasa saja.

Kemarin saya baru menyinggahi Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, beruntung saya menemui jalan pulang. Tentu bukan pulang dan kembali ke belakang. Tapi pulang untuk meneruskan perjalanan.

Menjelajahi separuh lagi isi Bumi, sebelum tanpa sengaja bertemu Api, di dunia Mimpi.

Kami sebut itu sebagai dunia Mimpi. Rekan saya, Api, kebetulan sedang mampir untuk membetulkan letak mimpi. Kami menjadi akrab karena dia memang mudah akrab dengan siapa saja. Siapa saja. Kecuali orang yang tengah dia damba. Dan sudah tujuh hari, mimpinya selalu dipenuhi dengan orang yang tengah dia damba.

Sungguh malang, Si Api. Dia mendamba seseorang yang amat dingin bagai Air. Tapi dia bukan Air, karena dia tidak lahir di romantisnya Bulan Februari.

Mendamba, ibarat bunga mendamba lebah. Tidak bisa bergerak, kecuali memberi isyarat. Isyarat sia-sia, yang tidak pernah ditafsirkan.

Sebelum berpisah, Api meminta saya untuk menulis disini. Karena katanya, meski dia sedih karena isyaratnya tak kunjung ditangkap, tapi ia senang karena masih bisa merasakan jatuh cinta sebenar-benarnya jatuh cinta. Kali pertama ia merasakan debar yang begitu menenangkan, tidak membuatnya tergesa, namun semakin giat meminta, pada Tuhan Sang Pencipta.

Maka jadilah..
Saya memenuhi laman ini, dan ini kali ketiga.

Saya ingin menceritakan negeri-negeri yang saya kunjungi. Tentang suku, adat, kebiaaaan, yang aneh namun terbukti. Saya melihatnya sendiri.

Lima ratus tahun.. dan tentu ada banyak sekali kampung yang telah saya lewati. Adakah kamu ingin tahu?

Tapi nanti.

Kali ini, biarlah saya memperkenalkan diri. Agar kalian tidak bingung, ketika Api sudah kembali.

***

Apa kamu tetap ingin tahu siapa itu Bumi?

Dialah mereka, yang lahir dalam ganjilnya angka empat yang genap.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …