Skip to main content

Sang Pengelana ~ Syukur

Terimakasih, Alena. Engkau masih bersabar menungguku. Hidupku membaik kini. Tabunganku telah mencukupi untuk membeli sepetak tanah di Negeri Para Petani ini. Aku telah menanam tanamanku sendiri, dan sebentar lagi, aku akan memanen hasil milikku sendiri. Untuk pertama kali.

Tahukah kau bagaimana rasa bahagia seorang petani yang berhasil memanen jagung dan kedelainya untuk pertama kali? Aku ingin dapat menggambarkan kepadamu rasanya, namun aku teramat payah dalam berkata-kata. Andai aku bisa, akan ku lukis wajahmu yang jelita, menatap dunia dengan mata indahmu yang membulat. Seperti itulah bahagia.

Sebentar lagi, Alena. Sedikit lagi, aku akan menemuimu. Mendatangi kedua orang tuamu, dan menggelar pesta di halaman rumahmu. Kau bersabarlah sedikit lagi.

Aku tahu kau lelah, berharap dalam cemas menanti kepastian. Aku pun disini terus memanjatkan doa, pada Sang Kuasa - jika Dia ada- agar kau terus meneguhkan hatimu, menungguku yang kian melegam, terbakar terik setiap siang. Dalam diam aku pun turut cemas, takut kalau-kalau ada pemuda lancang berani mendekatimu, mendekati ayahmu, dan kau tak bisa menolak kehendak mereka.

Ah sudahlah.. Aku akan mulai gelisah jika memikirkan kemungkinan itu. Aku hanya ingin memastikan, bahwa disini aku terus berusaha, Alena. Bangun sebelum ayam berkokok, meninggalkan hangatnya selimut untuk berjalan kaki sejarak tiga kilometer menuju ladang milik Tuan dan Puan. Lalu aku akan mulai memindahkan jerami, bergantian dengan pupuk dan hasil panen hari ini. Kurasa punggungku kian membungkuk, karena karung demi karung yang harus aku angkut. Berbulan kujalani hari yang seperti itu, setiap hari kecuali di hari ke tujuh, dimana semua orang memang beristirahat.

Kusebut itu rutinitas, dan aku bangga karena ternyata aku sanggup juga melakukannya. Mengulangi langkah yang sama, karung yang sama, orang yang sama.

Dan hasilnya bukan main tidak sama, sama sekali tidak sama. Bahagia yang kurasa ketika uangku habis tak bersisa saat menandatangani surat jual beli, berbeda dengan bahagia yang selama ini kudapat setiap kali berhasil menjejaki negeri yang baru.

Aku terbayang wajahmu, Alena.. Ketika si penjual menyodorkan lembaran kertas untuk ku tanda tangan. Terbayang olehku sepetak tanah ini akan kita garap bersama, membangun rumah kecil di sudut atau di tengah-tengah nya. Membesarkan anak-anak yang kelak akan kita ajarkan caranya menanam, tentang muasal segala makanan yang sampai di perut kita.

Anakmu pasti lucu-lucu. Mata bundar, rambut ikal, berlarian diatas rumput yang kita rawat sendiri.

Sedikit lagi, Alena. Aku yakin sedikit lagi, maka mimpiku ini menjadi nyata. Aku tahu kau tahu, bahwa aku menuliskan ini semua untukmu.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …