Skip to main content

Sang Pengelana ~ Surat Bersampul Biru

Suratmu datang siang itu. Di tengah teriknya matahari, dan arus petani yang bergegas pulang ke pondok masing-masing. Alena, aku menerima nya dengan bahagia yang teramat membuncah. Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi ini, langitnya dekat sekali. Matahari pun serasa hanya sejengkal dari kulit kepala. Namun tidak lagi kurasakan peluh yang menetes sebesar bulir-bulir jagung. Karena menggenggam surat bersampul biru darimu, membuatku tenang, seolah hadirmu nyata.

Alena, surat itu tidak langsung aku buka. Melainkan aku simpan dengan amat hati-hati, dibalik kantong kain yang kubawa setiap hari. Aku ingin menikmati jejakmu dalam hening dan tenangnya hati. Selepas sore beranjak pergi, sepeninggal matahari.

Separuh hariku kuhabiskan dalam bahagia. Bahagia tak berkesudahan. Bahagia yang mampu membuatku tersenyum sepanjang jalan, menyapa semua orang. Bahagia yang membuatku tidak merasa kesakitan, ketika kutemukan sekumpulan tanamanku rusak dimakan hama.

Kuhabiskan siang hingga sore ini, dalam riangnya hati menunggu saat yang tepat tuk membaca kalimat yang kau kirim.

Keputusanmu sudah tepat, Alena. Itu hal yang terbersit di kepalaku selepas membaca suratmu yang bersampul biru. Meski bergetar tanganku menahan tangis, tapi aku tahu kau membuat keputusan yang tepat. Biarlah. Biarlah semua ini menjadi pelajaran yang teramat berharga. Bagiku, bagimu, dan bagi siapapun yang membaca tentang kita.

Pemuda itu,. Benar saja dia datang dan melamarmu. Benar saja kecemasanku terwujud dalam rupa seseorang yang pernah aku kenal. Kami berpapasan dalam sebuah kedai minuman, di negerimu yang teramat makmur.

Jangan salahkan ayahmu yang terpikat olehnya, Alena. Dia memang pemuda baik. Ku dengar, dia pun punya sepetak tanah di negeri ini. Negeri tempat dia berasal.

Malam itu, kuhabiskan waktu menangis. Entah untuk alasan apa, karena kau pun bahkan tak ku miliki, sehingga aku tahu aku tak berhak. Tapi aku menangis. Untuk pertama kali dalam dua ratus tahun terakhir, aku menangis.

Melalui dirimulah aku menemukan tujuanku, Alena. Kata orang, seseorang dilahirkan sebanyak dua kali dalam hidup ini. Pertama saat dia masih bayi, dan kedua saat dia menemukan arti kenapa dia dilahirkan.

Saat itu aku pikir, kaulah alasan kenapa aku ada disini. Agar aku bisa menemanimu, menjagamu, dan menyediakan segala kebutuhanmu. Untuk apa? Aku pun tak tahu untuk apa, selain untuk sesuatu bernama cinta.

Namun kini..
Aku tahu aku harus memulai kembali. Mendefinisikan apa makna dari hidup dan perjalanan yang telah aku tempuh. Lima ratus tahun mengelilingi nyaris separuh isi bumi, aku belum benar-benar mengerti; kenapa aku dilahirkan disini?

Kau pernah bilang, seorang laki-laki harus tahu apa yang dia mau. Agar dia menjadi pemimpin terbaik, yang dapat diikuti. Saat itu aku tahu yang aku mau; menjelajahi seluruh isi bumi. Untuk apa? Aku tak tahu.

Rupanya yang kau maksud adalah alasan itu. Aku harus tahu alasan apa yang mendasari ku berkelana menyelesaikan separuh lagi putaran bumi. Ya. Aku belum tahu, Alena. Kali ini aku berjanji untuk mencari jawabannya. Melalui hasil panen yang kupetik setiap hari. Melalui sebidang tanah lain yang berhasil aku beli. Aku akan temukan jawaban, kenapa aku ada disini, dan kenapa aku lakukan semua ini.

Dan tentu saja,
Jawabannya harus selain dirimu.

Melepasmu, Alena. Adalah hal tersulit yang pernah aku alami. Tidak banyak gadis yang sanggup memikatku. Meski senyum mereka pun tak kalah indah dari senyummu. Tapi aku tidak berani mengganggu keputusanmu. Siapalah aku yang lata ini, ingin membuat seorang Alena berubah pikiran.

Jadi terimalah dia. Kau aman bersamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert