Skip to main content

Sang Pengelana ~ Perempuan Penyendiri (2)

Aku kini menghabiskan setiap pagi duduk menemani Si Perempuan Penyendiri. Setelah beberapa hari, baru kutahu dia sedang menunggu seseorang dari Negeri Mimpi. Negeri ini adalah Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi. Banyak orang berlalu lalang, seakan tahu jalan pulang. Lebih banyak lagi orang yang tidak pernah benar-benar pulang.

Tidak banyak penduduk asli Negeri yang berada di perbatasan ini. Kebanyakan penduduknya adalah orang-orang yang mencari Negeri Mimpi, namun tidak pernah berhasil mencapainya. Atau sebaliknya.

Aku jadi tahu banyak tentang Negeri Mimpi dari perempuan yang selalu mengenakan baju hitam dan tudung itu. Meski dia tidak pernah menjelaskan siapa dirinya, dari mana dia berasal, dan siapa yang sedang ditunggunya, aku tetap selalu ingin menghabiskan pagi dengannya. Hingga dalam waktu yang ia tetapkan.

Begitulah setiap pagi, aku ikut duduk dan menunggu bis yang datang dan pergi. Sesekali berkisah tentang negeri-negeri yang sudah kujalani.

Perempuan bertudung hitam itu selalu mendengarkan dengan antusias. Bibirnya selalu mengulas senyum lebar, nampak benar ia senang dengan kisah petualangan.

Dan yah.. Betapapun lamanya aku tidak lagi berkelana, tetaplah aku adalah Sang Pengelana. Yang mudah terpikat oleh lembutnya perempuan.

Benar kata orang, bahwa luka hati harus ditawar dengan hati. Patah hati, penawarnya adalah jatuh hati.

Pada minggu ke dua rutinitas pagi ku dengan Si Perempuan Penyendiri, aku telah memutuskan menjatuhkan hatiku pada perempuan yang menyembunyikan gurat kesedihan dengan amat mahir itu.

Sedikit yang aku tahu tentang nya, adalah dia seorang perempuan mapan. Seorang pedagang yang dermawan. Ia mahir meracik produk kecantikan, serta perhiasan dari bebatuan. Itu sebab dalam riasan paling tipis dan sederhana pun, kesan yang ia timbulkan begitu mendalam. Tepat dia memilih cara, untuk menampilkan kesederhanaan yang sarat akan wibawa. Perempuan bertudung hitam, yang begitu sempurna dalam pikirku.

Setiap kali kami duduk bersama, ada rasa tenang yang menentramkan menelusup ke dalam batinku. Bahkan meski kita tidak mengucap sepatah katapun hingga berjam kemudian, aku bahagia, dan aku juga dapat melihat pancaran bahagia dari matanya. Mata sendu, yang berusaha tampat bahagia. Ia rapuh, yang disembunyikan dengan lihai dibalik tutur cerdas dan balutan kain hitam.

"Apakah kau pernah membayangkan tentang anak?" Tanyaku suatu ketika, saat kita sedang memperhatikan seorang ibu di sebrang sana, menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang.

Aku melihat perubahan ekspresi di wajahnya, mendadak murung, yang lalu ditepisnya cepat-cepat. Ia mengangguk ceria. Kedua matanya tidak lepas memandangi bayi di seberang jalan.

Aku bisa mendeteksi adanya emosi yang lebih dalam dari sekedar "ingin punya anak" dari matanya. Emosi itu seperti.. Rindu. Ya.. Ia rindu. Rindu pada sosok seorang anak. Padahal aku tahu, dia belum pernah mempunyai anak.

"Aku menyukai hal-hal yang seimbang. Pun semesta tidak suka sesuatu yang berlebihan. Bahkan ketika kita mendambakan seorang anakpun, perlu dalam batas tertentu agar suatu waktu kita bisa dengan sukarela melepas kenyataan bahwa.. Ya.. Kita tidak punya" lanjutku pelan.

Perempuan itu memamerkan senyum manisnya seperti biasa, tandanya ia setuju.

Kemudian kuceritakan padanya tentang sifat seimbang semesta. Tentang air dan api. Tentang bulan dan matahari. Tentang segala emosi, yang kadang hilang kendali.

Bahwa keseimbangan adalah bahagia, juga keberhasilan. Seseorang yang berhasil menyeimbangkan diri, adalah seseorang yang berhasil mencapai bahagia.

Kami berdua terdiam, menatap bayi yang masih berada di sebrang jalan. Sesaat hanya sunyi yang menerpa. Aku bisa merasakan aroma kesedihan keluar dari tubuhnya. Entah bagaimana awalnya, tapi menghabiskan setiap pagi bersama perempuan ini sanggup membuatku mengerti, pada emosi-emosi yang dia simpan sendiri. Mungkin energi kami telah berada dalam frekuensi yang sama, yang sanggup membuatku mengerti hal-hal tanpa kata.

"Jika aku punya anak nanti, aku akan menamai anakku dengan nama Keseimbangan. Dalam bahasa yang sepatutnya kita mengerti. Maukah kau menjadi ibu nya?"

Kulihat ekspresi perempuan itu berubah. Ia menoleh ke arahku dan menatapku dalam. Terkejut, dan lupa mengulas senyum manis yang selama ini kupotret dalam pikiran. Bola matanya mencari-cari kebenaran. Sepertinya ia terkejut.

Aku memutuskan untuk melakukan apa yang harus kulakukan. Meraih kedua tangannya, menggenggamnya erat, dan berlutut di hadapannya.

"Hai perempuan yang tidak mau menyebutkan namanya, aku jatuh hati sejak kita pertama menghabiskan pagi. Aku tidak ingin ini berakhir. Sudikah kau, meluluhkan tembokmu, keluar ke arahku, dan menetap di hatiku?"

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert