Skip to main content

Sang Pengelana ~ Negeri Para Penyair

Negeri seberang adalah Negeri Para Penyair. Aku tidak menghabiskan banyak waktu disana. Menolak berlama-lama bepergian, sebagaimana lelaki yang telah memilih menetap. Tanamanku masih butuh perhatian, asupan air dan unsur hara. Bisa mati mereka jika kutinggal terlalu lama.

Pemahamanku tentang Sang Kuasa bertambah luas, namun rasa-rasanya semakin aku tahu, semakin aku tidak mengerti. Terlalu banyak misteri yang belum berhasil aku ungkap, meskipun telah lima ratus tahun lamanya berkelana mengelilingi nyaris separuh bumi.

Sang Kuasa, meski masih menjadi misteri, tapi tetap ingin aku yakini. Karena disitulah aku menemukan, apa artinya kuhabiskan perjalanan-perjalanan yang seakan tiada berakhir.

Di Negeri Para Penyair, aku menemukan syahdu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Meskipun aku pernah mendatangi kampung, yang semua penduduknya mengenakan kain di kepala. Menyebut Sang Kuasa pada setiap langkah dan pertemuannya dengan sanak saudara. Mungkin bukan negerinya yang berbeda, tapi aku yang telah berubah.

Orang bisa dengan mudah berubah menjadi karakter yang sama sekali berbeda hanya dalam hitungan bulan. Aku? Perubahanku terpicu oleh patah hati. Ya.. Patah hatilah yang membuat sekian milyar manusia berubah, kadang hilang arah, atau justru sebaliknya; menemukan jalan nya untuk pulang. Beruntung aku termasuk kategori ke dua. Surat bersampul biru yang kuterima delapan bulan yang lalu, justru menjadi pemicu untukku mengenal sesuatu, yang memunculkan damai dari dalam hati. Tanpa pernah bisa kulukiskan dalam kata, sedamai apa rasanya meyakini sesuatu yang tak kasat mata.

Negeri Para Penyair dihuni oleh orang-orang yang sudah sepuh. Kebanyakan mereka telah hidup selama ribuan tahun lamanya. Benar-benar telah mendalami pahit manis kehidupan, dan saling menentramkan satu sama lain. Di antara mereka ada yang menjadi seorang tafsir mimpi, ada yang menjadi penasehat, dan kebanyakan ya para penyair. Yang merangkai kata untuk ditebar ke negeri-negeri lain.

Entahlah jika ini benar atau tidak, karena aku datang dari Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi. Seorang tafsir mengatakan, jika seseorang muncul di dalam mimpi mu, itu artinya orang tersebut ingin bertemu denganmu. Jika benar demikian, maka ku harap Alena memang ingin bertemu denganku. Meski aku tidak seberharap itu. Sudah kutemukan tujuanku kini. Tak perlu lagi ada yang mengusik. Maaf, Alena. Surat bersampul biru mu masih aku simpan, kelak menjadi penanda, bagaimana aku menemukan jalan yang kucari untuk pertama kali.

Negeri Para Penyair berisikan bangunan-bangunan tua. Gedung-gedung yang telah berulang kali mengalami renovasi sana-sini. Meski terkesan berantakan, kota di negeri itu sangat nyaman dan menentramkan. Siapapun yang datang membawa setumpuk beban di hati, akan sirna seperti ditepis oleh sihir. Negeri yang sanggup mendiamkan pikiran, sesibuk apapun itu, hanya dengan tenang dan kokohnya bangunan-bangunan tua yang berjajar.

Kota ini, seperti seorang nenek, ujar seorang penyair tua, di sebuah kedai yang tak kalah tua. Kedai itu berdinding kayu yang sudah rapuh, namun tiang penyangganya masih kokoh seperti baru. Aku mengangguk tersenyum, belum berminat untuk bercakap-cakap. Namun tanpa diminta, Sang Penyair tua itu meneruskan cerita. Ia bertutur tentang sejarah dan muasal Negeri Para Penyair yang telah ada sejak ratusan ribu tahun lalu. Aku mendengar dengan terpaksa, sambil tersenyum yang dibuat-buat. Karena saat itu, pikiranku masih tertaut padanya.. Alena.

Cara bertutur penyair itu unik, sehingga lama kelamaan aku bisa menikmati ceritanya. sesekali beeceletuk ringan yang ia sambut dengan tawa. Di akhir cerita, ia mengajakku untuk mampir ke rumahnya. Menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah barang semalam.

Aku setuju saja. Toh hanya semalam, dan sebagai seorang pengelana, menginap dari rumah ke rumah adalah hal biasa.

Dari sanalah aku tahu, dan perlahan mulai mengerti, bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Kuasa. Dia yang membuat serpihan debu batu dan pasir, menjadi benda langit yang memantulkan cahaya lembut, teramat lembut. Semua yang kita pikir akan mustahil, tiadalah penghalang bagi-Nya untuk mewujudkan menjadi nyata.

Rumah Sang Penyair tersebut sudah tua. terletak di gang gang sempit, di apit oleh bangunan bangunan tua milik empunya negeri. Sang Penyair tua itu tinggal dengan seorang cucu. Anaknya telah pergi meninggalkan mereka, menuju Alam Keabadian - atau setidaknya itu yang mereka katakan - sang cucu adalah anak dengan keterbatasan akal. Dia hanya bisa tertawa, tanpa pernah bisa menangis atau merasa sedih. Matanya kosong, dan wajahnya menyiratkan ketidak tahuan sekaligus keingintahuan yang dalam.

Menyaksikan kondisi nya, tentu miris hatiku tak tega. Kutebak usianya mungkin masih belum tua, seperdelapan dari usiaku. Tapi dia begitu bersemangat mengenal orang, bahkan turut membantu menyajikan jejamuan yang layak untuk tamu. Sang Penyair tua menceritakan kondisinya yang luar biasa gigih berjuang untuk bisa mengenal dunia. Maka demi melihat lemari berisi piagam dan penghargaan, aku takjub bukan main. Kegigihan seorang kakek yang ingin cucunya melihat dunia, terbukti disana. Meski kulihat seperti mustahil bagi anak itu untuk berenang mengarungi lautan, namun piagam-piagam itu seolah menggertak pikiranku untuk diam dan jangan meremehkan.

Ya. Dia lah sang atlet ternama, dalam dunia perenang. Aku kerap mendengar namanya disebut-sebut, namun aku tidak pernah tahu bahwa dia adalah berkebatasan akal.

Jika Sang Kuasa menghendaki, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Kita hanya harus yakin, anak muda.

Begitu nasehat Sang Penyair.

Esoknya aku pulang dengan perasaan lega. Entah apa yang membuat lega, tapi seolah beban tentang Alena lenyap sudah.

Jika Sang Kuasa sanggup menjadikan bumi penuh dengan air di samudera sana, dan menjadikan hamparan pasir di sisi nya yang lain, dan menggantung langit sedemikian rupa, menjadikan malam begitu menentramkan dengan sinar bulan lembut yang terpancar entah sejak kapan... Apalah persoalanku bagi-Nya yang hanya tentang cinta. Tentang ditinggal pergi seseorang yang kudamba. Tentu Sang Kuasa sudah menyiapkan skenario terbaiknya. Aku hanya perlu yakin dan percaya, sambil menjalani apa yang ada.

Begitu pesan Sang Penyair sebelum aku pamit pulang, menuju negeriku. Negeri Para Petani.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert