Skip to main content

Sang Pengelana ~ Muara

Sudah sepuluh hari sejak aku memutuskan untuk menetap dan bekerja di negeri ini. Sudah sepuluh hari juga aku menjalani sesuatu bernama rutinitas, setelah lima ratus tahun lamanya aku mengikuti ritme tanpa jadwal.

Bangun pagi, mandi, sarapan, berangkat ke ladang, memindahkan pupuk dan pakan dari gudang ke lahan, memindahkan hasil panen yang telah dipetik menuju gudang pemilahan. Terus berulang kali, hingga matahari menjelang. Setelahnya aku berbaris dalam antrian makan siang, yang mengular panjang yang jika tidak cepat aku akan kehabisan. Lalu petugas akan membagikan upah kami hari itu, segenggam perak yang bisa kusisihkan sebagian.

Menjelang sore aku pergi ke sungai, mencari peruntungan dengan membantu para pencari ikan atau sekedar mencari bambu dan rotan.

Semua kulakukan agar dapat meminangmu, Alena.

Meski asing dan aneh sekali bagiku memburu kepingan uang, yang selama ini selalu kudapatkan dan kuhabiskan tanpa sisa. Aku yang selalu berkelana, selalu bisa mendapat uang dari apapun caranya. Bertandang ke komunitas-komunitas untuk mencari dukungan, menjual kemampuanku bermain seruling atau menabuh gendang, membantu ibu-ibu di pasar mengangkut belanjaan, atau menemani sopir-sopir yang mengantuk agar bisa mendapat makan malam.

Di negeri ini, Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi, sulit sekali mencari peruntungan dari itu semua. Penduduk negeri ini semuanya adalah petani, menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Mereka tidak punya uang lebih untuk membayar hiburan. Apalagi membelikan makan malam seorang fakir yang lata. Semua orang harus bekerja, tanpa terkecuali.

Anehnya, aku tidak berniat kembali ke negeri-negeri yang pernah ku jelajahi. Yang aku tahu, di sana aku bisa mendapat uang dengan lebih mudah. Tidak hanya keping perak, emas pun bisa ku dapat.

Apalagi Negeri mu, Alena. Negeri yang begitu makmur dan kaya raya. Semua penduduknya sejahtera dan tenang bagai penghuni istana. Akan sangat mudah bagiku yang lata ini, untuk menjual cerita-ceritaku di sana. Orang kaya butuh hiburan, dan mereka akan membayar berapapun agar bisa dibuat tertawa.

Tapi.. Aku akan dikenal sebagai Si Air Penertawa, pelawak yang hanya bisa menghibur. Penyanyi, yang hanya bisa bersenandung. Aku tidak ingin kau dikenal sebagai istri seorang penghibur, tidak Alena. Kau harga dirimu adalah bagian yang patut kuperjuangkan, karena begitulah mestinya besaran cinta seseorang untuk perempuan sepertimu.

Orang-orang dari Negeri di Ambang Batas Realita dan Mimpi ini terkenal arif dan bijak. Betapa miskinpun mereka, tidak pernah mengurangi rasa hormat dan wibawa orang luar yang datang berkunjung. Setiap petani, adalah tuan dari tanahnya sendiri. Setiap peluh, adalah bukti kesetiaan yang patut dijunjung tinggi.

Maka tidak apa sedikit demi sedikit aku tabungkan penghasilanku, agar kelak aku dapat membeli sepetak tanah untuk ku tanami sendiri.

Ku mohon kau tunggulah disana. Menunggu dalam diam dan sabar, seperti saat kita menunggu hujan reda sore itu. Ah.. Aku jadi teringat kala kita menghabiskan sore bersama di depan tugu saksi kejayaan kota. Kau tersenyum riang mendengar cerita-cerita ku bertualang. Kita duduk di bangku taman, dan kau mendengarkan dengan teramat cermat. Aku suka gaun mu hari itu. Merah muda, seperti pipimu yang selalu tersipu setiap kupandang.

Kau tidak perlu merisaukan apapun. Tunggulah aku dalam diam dan sabar. Kenang aku, sebagaimana kau kenang waktu-waktu bersama kita yang terbatas. Ingatkah kau ketika hujan selalu menjebak kita, lantas kita menolak untuk pulang agar bisa bersama menghabiskan secangkir teh manis susu? Bercerita tentang dunia, tentang hidup-dan manusia, tentang mimpi dan cita masa depan.

Alena..

Aku baru sadar sekarang.. Jangan-jangan apa yang telah diberikan semesta padaku selama ini, adalah untuk menyiapkanku bertemu denganmu?

Selama lima ratus tahun aku mencari 'tujuan'. Menetapkan 'tujuan' sebagai satu negeri ke negeri yang lain. Membuat daftar panjang akan negeri-negeri yang harus kusambangi, lalu merasa puas ketika daftar itu kian memendek.

Sampai aku bertemu denganmu, yang mengubah definisi dari 'tujuan' itu sendiri. Lalu secara sukarela, aku mengubah 'tujuan' yang selama ini aku pegang dengan kukuh.

Aku selalu menolak untuk berubah. Aku suka diriku sebagaimana adanya, namun nampaknya semesta tahu bagaimana caranya mentransformasi seseorang menjadi versi terbaik dirinya -seperti yang semesta inginkan-. Dan kehendak semesta.. Alena,.. Kehendak semesta adalah niscaya.

Aku pun mulai percaya pada adanya Kuasa di atas segala yang kasat mata. Sahabatku, Si Api yang tempo hari aku sebut, telah mengenalkanku pada kepercayaannya terhadap Sang Kuasa.

Sembari bercengkrama dengan petani-petani tua di siang hari, aku selalu menyempatkan diri bertanya, apakah mereka percaya pada Sang Kuasa?

Sayang, hingga hari ini jawaban yang kudapat masih beragam. Aku berjanji akan menceritakannya padamu suatu nanti, ketika aku telah menemukannya sendiri.

Yang aku mulai pahami kini, yakni semua yang ada di Bumi kelak kan bermuara. Seperti sungai yang sering kuamati di berbagai negeri, semua mengalir pada satu muara. Titik pertemuan antara sungai dan laut. Mengalir sampai jauh, pada pertemuan air tawar dan air asin.

Dipikirnya selesai perjalanan saat itu. Sungai.. Setelah mengalir sedemikian panjang, rupanya tidak berhenti di muara. Masih ada perubahan yang harus ia terima. Berubah menjadi air payau yang kacau rasanya. Lalu mengalir lagi. Kali ini lebih jauh, lebih luas, dan lebih sulit ditebak lagi kemana ujungnya.

Mungkin kitapun begitu. Jangan-jangan bahkan setelah mati pun kita masih akan dihidupkan pada satu alam yang entah akan sampai kapan. Dan aku ingin menghabiskan setiap fase bersamamu, Alena. Maka berjanjilah kau akan menjaga dirimu untukku. Berdiam dalam sabar, sesabar saat kita menunggu antrian di bawah panas terik mentari. Kuyakinkan engkau, bahwa butuh cinta yang teramat besar untuk mencintaimu. Dan aku berani berkata, bahwa hanya cintaku yang pantas untukmu. Aku tahu kau menyukai pemuda yang percaya diri, dan tahu apa yang dia mau. Kau bilang, percaya diri adalah senjata yang mampu meluluhkan hati setiap wanita.

Maka kuyakinkan kau, tunggu aku! Aku akan datang, dan aku lah yang terbaik untukmu.

***

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …