Skip to main content

Sang Pengelana ~ Makna

Setiap orang pasti punya alasan sendiri mengapa mereka berubah. Sudah umum terjadi, kebanyakan alasan yang mendasari, adalah karena hati. Entah hati yang patah, atau hati yang jatuh. Jika jatuh hati bersambut, beruntunglah. Namun jika tidak bersambut, patahan itu akan menjadikan karakter seseorang yang semula lembut, menjadi semrawut, atau sebaliknya.

Setahun lepas semenjak kepergian Alena bersama surat bersampul birunya. Aku tidak lagi terkenang, apalagi bersedih. Semua energi kukerahkan untuk bekerja. Dari terbit matahari (terkadang bahkan sebelum terbit pun) hingga terbenam nya sang senja. Seringkali kubiarkan mataku terus terbuka lebar sepanjang malam, menolak merebahkan tubuh, menolak menanggapi senyap, agar bayang Alena tak mampu hinggap.

Aku yang biasa berkelana, bertegur sapa dengan siapa saja, menjadi lebih banyak menarik diri. Berfokus pada urusanku sendiri, hasil padi ku, dan usahaku membeli sepetak tanah yang lain. Kau tahu, aku sudah mempunyai tiga petak tanah kini. Aku berhasil memutar modalku, mengajak seorang karib untuk bekerja sama, dan memperluas bidang usaha. Semua itu tidak datang dalam semalam. Tidak dalam sebulan. Berbulan sejak kepergian Alena, yang kutangisi dalam diam. Perlahan kini aku sudah akan memanen sedikit hasil yang lama kutanam.

Kadang, aku berterimakasih pada hati yang terluka. Karena tanpanya, aku tidak akan pernah bisa mengenal siapa diriku sebenarnya.

Aku tidak akan pernah tahu, apa esensiku terlahir ke dunia ini. Apa makna yang kucari, dalam setiap pengelanaan mengunjungi negeri-negeri. Tidak. Aku tidak akan pernah tahu, jika hati ini tidak patah kala itu.

Kini aku mulai menggambar sketsa sebuah mimpi. Meski aku tidak pandai menggambar, tapi biarlah biar pikiranku dapat membaca apa yang hatiku inginkan.

Membeli beberapa petak tanah, sehingga tanah milikku leluasa untuk ku kelola. Sungai yang mengalir di pinggirnya, akan kujadikan tempat bermain yang selalu bersih dan jernih. Tidak akan kuperbolehkan siapapun datang dan semena-mena menggunakan barang-barang terlarang. Aku akan membangun rumah di pinggiran sungai itu, rumah kayu yang atapnya dari bambu. Rumah yang dikelilingi oleh petak-petak sayur mayur tanamanku. Akan kubangun sebuah pondok baca, agar anak-anak di negeri ini mengenal imajinasi lewat rangkaian kata.

Ah.. Betapa menyenangkan mimpiku itu.

Dan.. Hei, sepertinya ini saatnya bagiku untuk memberitahumu, tentang tujuan yang tempo hari masih kusembunyikan. Kubilang aku sudah menemukan tujuan, yang lebih dari sekedar memenuhi ego dan ambisi. Menyambangi negeri-negeri.

Tujuan yang kupegang erat, yang sejatinya sederhana sekali. Setelah jauh berjalan dan mencari, ternyata apa yang ingin kutemukan justru adanya dekat disini.

Jika Sang Kuasa benar adanya, dan kini aku yakin sepenuhnya, maka aku ingin Dia merestui segala apapun yang kuperbuat di Bumi ini. Apapun. Aku takut pada kemampuan Sang Kuasa dalam meluluh-lantakkan semesta hanya dengan sekali instruksi. Jadi aku ingin, hidup dalam jalan yang tidak mendapat amarah Murka dari Sang Kuara.

Tujuanku adalah agar Sang Kuasa bangga padaku. Kutemukan, kebahagiaan Sang Kuasa ada pada orang lain yang membahagiakan orang lain, orang yang memberi sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya manfaat.

Jika perjalanan ku berkelana mengelilingi nyaris separuh isi bumi selama lima tahun belum banyak menebar manfaat, maka di negeri ini.. Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi, aku akan menjadi seseorang yang dapat didengar karena reputasi yang kubangun diam-diam.

Jika memberi makna adalah tujuan, maka jutaan kebaikan akan terus mengalir. Mengasihi bumi yang kian renta.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2