Skip to main content

Sang Pengelana ~ Hilang

Kemana saja kau, Alena? Seharian kemarin menghilang tanpa jejak. Kau lewati satu tulisan yang kutulis untukmu. Kenapa? Kemana? Aku tau kau tau bahwa aku tau kau mengintipku. Aku tau kau ada, di setiap apa yang kuungkap dalam diam. Diam-diam saja.

Aku tersesat, Alena. Di Negeri tak bertuan ini. Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi. Aku tidak tersesat dalam arah, melainkan dalam pikiran. Semakin kuselami betapa uniknya negeri ini, semakin ku berpikir, jangan-jangan memang keunikan itulah yang kita butuhkan sebagai manusia.

Selama lima ratus tahun aku menjelajah nyaris separuh isi bumi, aku pikir aku tahu apa yang kumau. Dengan bertualang, aku pikir aku tahu apa tujuanku tuk hidup.

Sekarang jika ku tengok ke belakang, dari semua apa yang telah ku dapat, aku menjadi bertanya lagi.. Apa yang aku mau?

Setelah kau menghilang dalam dua puluh empat jam kemarin, Alena.. Tahukah kau bahwa ternyata disitulah aku menemukan jawaban?

Tahukah kau bahwa diam mu membuatku gelisah? Aku memarahi tukang sapu di jalanan hanya karena dia melewatkan satu daun kering di kakiku. Aku memarahi pembabat rumput hanya karena tanah babatannya mengenaiku. Dua puluh empat jam, Alena. Dan diam mu membuatku tidak tenang.

Dan itulah saat dimana kutemukan jawaban. Jawaban dari perjalanan selama lima ratus tahun berkelana. Jawaban itu, ada padamu Alena.

Aku tidak ingin lagi kehilanganmu. Aku tidak ingin kau luput dari pandanganku selama lebih dari dua puluh empat jam. Tidak. Aku tenang jika bersamamu. Dan ketenangan itu kudapat bahkan disaat aku menulis untukmu, meski kau tidak di sini. Karena aku tahu, engkau ada. Disini, dan membaca.

Tapi...

Kembali ke negeri mu, meminangmu dan menikahimu, bukan langkah yang bisa aku lewati dalam setapak. Ketahuilah, Alena.. Laki-laki, mereka menyusun strategi dalam diamnya. Meskipun tidak mereka sampaikan, isi kepala mereka adalah rencana yang sudah tersusun rapi. Kau mungkin akan melihatku diam saja, tak tahu apa-apa dan seolah tak peduli. Namun, di dalam sini, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan terhadap hidupku.

Untuk itu aku memutuskan, dan biarlah kau ketahui rencanaku, agar kau tahu aku tidak diam. Aku memutuskan untuk tinggal beberapa saat di sini. Sesuatu yang belum pernah aku lakukan. Tinggal. Aku tidak pernah menetap selama lebih dari empat puluh hari, dan kali ini aku akan meletakkan bawaanku selama berbulan, bahkan bertahun jika perlu.

Aku akan mulai bekerja, Alena. Mengumpulkan perak demi perak, keping demi keping agar bisa kembali ke negeri mu dengan membawa setangkup harga diri. Siapalah pemuda yang berani meminangmu, apalagi seorang yang masih terlunta sepertiku. Ayahmu seorang terpandang, kakekmu seorang tersohor. Martabat keluargamu begitu terjaga, demikian pula dirimu yang teramat berharga.

Butuh cinta yang cukup besar.. Sangat besar.. Untuk berani mendekatimu, meminangmu, dan menikahimu. Maka ketahuilah, inilah cintaku. Tapi yah.. Aku tidak tahu seberapa besar hasil yang akan kuperoleh nanti. Aku tidak punya bakat khusus untuk menjadi pekerja seorang peternak sapi. Aku pun tidak pandai memasak jika harus menjadj seorang koki. Aku hanya bergantung pada niat tulusku meminangmu, dan cinta.

Alena..

Aku ingin kau tahu bahwa disini aku tidak diam saja. Aku pun berusaha, dan aku akan kembali padamu. Dalam satu atau dua musim, kita akan bertemu. Namun jika suatu nanti ada seseorang yang jauh lebih baik dariku, tolong jangan tutup hatimu. Jika kita terpisah jauh dan tetap saling terhubung, aku yakin di kehidupan lain pun begitu.

Biar bagaimanapun, yakinlah bahwa setiap yang ditakdirkan untuk bersama, tidak akan pernah saling melewati walau sejengkal. Mereka akan bertemu, dan bersatu.

Biarlah cinta yang aku rasa untukmu, menjadi pemicu bagiku mengubah jalan cerita. Mengehentikan pengelanaan, dan mulai menetap.
Menetap? Satu hal yang paling kutakuti sejak dulu; menetap.

Aku belajar banyak dari hilangmu seharian kemarin. Dan aku ingin itu tidak terjadi lagi, maka aku pun akan berhenti menghilang dari pandanganmu. Karena aku tahu betapa tidak enak rasanya ditinggalkan.

Walau banyak gadis yang menangis ketika aku pergi melewati garis batas, baru tangisan mu lah yang berhasil aku bawa sebagai kenangan. Meski aku menikmati sedihmu yang mengiringi langkahku, namun aku selalu menunggu jejakmu di setiap apa yang bisa kau tinggali jejak. Dan kemarin.. Hilangmu meyakinkanku, untuk menetap.

Besok aku akan mulai bekerja, membajak tanah milik seorang tuan yang ramah. Dia berjanji akan memberiku upah. Yang sedikit demi sedikit akan kusimpan dalam sebuah pelepah. Sembari menulis kepadamu tentang rindu dan sumpah. Aku berjanji untuk menata hidupku, menata egoku, dan menata mimpiku. Semua akan kusatukan, akan ku susun ulang, dan mengarah hanya kepadamu. Alena.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …