Skip to main content

Sang Pengelana ~ Baris-Baris Tanya

Dalam perjalanan sering kali saya menumpang berbagai macam kendaraan umum. Bertemu sekian juta penumpang silih berganti, tak tentu lagi jumlahnya kini. Sebagian masih berkomunikasi, bertukar kabar walau ratusan tahun telah berlalu semenjak pertemuan kami. Sebagian lain hilang tertelan waktu, entah apa mereka bisa bertahan selama ini.

Saya, Sang Pengelana, yang telah lima ratus tahun lamanya menjelajah nyaris separuh bumi, masih belum bisa menjawab satu pertanyaan sederhana: mengapa manusia menikah?

Ribuan orang telah saya tanyai, termasuk pasangan yang juga sudah ratusan tahun menikah. Mengapa?

Pernah suatu ketika, saya sedang menumpang sebuah pesawat terbang. Pesawat mengalami turbulen dahsyat ketika baru lepas landas. Semua penumpang komat kamit membaca doa, ketakutan. Mungkin bagi mereka itu adalah sepuluh menit terlama dalam hidup. Bapak-bapal gendut di samping saya wajahnya pias. Mengalami goncangan se dahsyat itu, rupanya hal baru baginya.

Saya maklum saja. Orang sangat takut akan mati. Itu wajar. Mungkin karena sebetulnya jauh di lubuk hati, mereka sadar bahwa mereka belum siap untuk pergi. Tapi tetap juga enggan menyiapkan bekal untuk masa nanti. Bagi yang percaya bahwa ada hari lain setelah hari akhir, pasti paham apa yang saya maksud.

Yang tidak saya maklumi adalah, ketika sepuluh menit itu usai, dan pesawat kembali memasuki area yang cerah, tiba-tiba terdengar bunyi pengumuman.

Rupa-rupanya dalam sepuluh menit goncangan itu, ada seorang pemuda yang takut sekali hidupnya berakhir tanpa sempat mengungkapkan perasaan. Jadi dibujuknya para awak kabin, agar mengijinkan dia melamar sang pacar, melalui microphone pengumuman pesawat.

Serentak semua orang terpukau, memuja keberanian pemuda, dan menyanjung betapa beruntungnya sang pemudi yang cantik. Lamaran diterima, mereka sukses menjadi pusat perhatian. Setelah itu saya sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi. Saya telah terlelap dan larut dalam pikiran saya sendiri: mengapa?

***

Saya.. Sang Pengelana. Mengembara sejak lima ratus tahun lamanya. Meninggalkan rumah, dan tidak pernah -mungkin tidak akan pernah- kembali lagi ke rumah. Bumi adalah rumah saya. Negeri-negeri asing adalah rumah saya. Dan menikah.. Bukan pilihan saya.

Meski sesekali saya jatuh hati pada gadis-gadis yang saya jumpai di tengah perjalanan. Di balik cadar tipis mereka. Di balik setiap senyum dan tatap tajam mereka. Ada sedikit rindu yang mencumbu setiap kali terbayang akan sosok wanita. Ya.. Kamu juga salah satunya, Alena.

Tapi menikah, adalah hal absurd bagi saya. Mengikrarkan diri berjanji pada satu hati. Tidak bisa lagi menetap, dan harus menghabiskan sisa hidup di satu tempat. Terbayang bagaimana rasanya menghabiskan lima ratus tahun berdiam diri, menggarap lahan membajak sawah. Itu itu terus berulang-ulang kali.

Kenapa orang ingin menikah?
Kenapa mereka rela menghabiskan ratusan bahkan ribuan keping emas untuk memberi makan orang-orang yang peduli pun tidak?
Kenapa orang senang sekali dengan pesta mewah?

***

Di hari yang lain sy melihat sepasang muda bertengkar. Ego membungkam sang pemuda tuk meminta maaf. Dan amarah membungkam sang pemudi tuk memaafkan. Cinta yang selama ini mereka umbar lenyap bagai ditelan karang. Mereka saling meneriakkan kata pisah, dan melempar kenangan dengan kasar.

Lantas jika setiap cinta berakhir dengan redup dan hampa., apa yang diharapkan seseorang pada pernikahan?

Ah.. Saya memang terdengar agak skeptis. Tapi jujur saja saya ini amat menerima masukan dan opini. Bahkan berkat bertemu dengan Si Api, (lihat tulisan sebelumnya tentang saya dan Si Api), saya jadi agak percaya adanya kekuatan Sang Kuasa. Si Api mampu menjelaskan dari sudut pandang yang bisa saya terima. Namun ia gagal mendeskripsikan tentang cinta dan ikatan cinta. Yah.. Maklumlah. Mungkin karena dia sendiri pun berkali-kali dikecewakan, dan belum pernah diberi bukti nyata tentang cinta dan ikatan cinta.

Lima ratus tahun saya berjalan. Menghampiri negeri demi negeri. Menghadiri pesta demi pesta, ritual demi ritual, yang berbeda dari satu daerah ke daerah lain, satu zaman ke zaman lain. Tapi belum ada yang bisa menjelaskan pada saya: mengapa seseorang menikah?

Jika cinta adalah jawabannya, maka kita tahu bersama bahwa cinta pun tidak abadi. Dia akan redup suatu nanti, lalu apa yang bersisa? Jika tidak lagi bisa berkelana, tidak lagi bisa melihat dunia karena ada anak kecil yang harus dijaga, buat apa semua pengorbanan itu?

***

Sedikit banyak saya mulai menyukai negeri ini. Negeri tempat saya dan Api bertemu. Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi. Saya berharap menemukan jawaban itu disini. Jikapun iya, saya bersedia menyerahkan diri dan mengabdi pada ikatan cinta. Maafkan Alena. Tampaknya bukan kamu jawaban yang saya cari. Bertemu denganmu, masih belum sanggup meuluhkan ambisi saya untuk bisa melihat negeri-negeri.

Adakah kamu disana membaca tulisan-tulisan ini?
Jangan sedih, Alena. Jika kamu membaca, ketahuilah mungkin.. Dan hanya mungkin.. Kamulah satu-satunya yang bersedia membaca dengan hati. Belum pernah ada orang yang sedemikian jatuh hati, kecuali orang yang bersedia membaca orang yang dia cintai.

Saya berjanji akan terus mencari, jawaban yang ingin saya temui. Toh jika jawaban itu ada padamu, Alena ku yang cantik.. Saya akan datang kembali padamu.. Mengambil rute yang sama, dengan saat saya meninggalkanmu. Untuk; pulang.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …