Skip to main content

Sang Pengelana ~ Aku

Adalah Sang Kuasa yang menciptakan Semesta. Setidaknya itu yang aku yakini enam bulan terakhir ini. Di Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi, semua orang memuja Sang Kuasa yang tak tampak oleh mata.

Aku telah berhenti menulis surat untuk Alena, sejak surat bersampul biru itu tiba, enam bulan yang lalu.

Seperti seseorang yang kehilangan arah, aku mencari pelarian hingga ke negeri seberang. Beruntung aku bertemu dengan seorang pengemudi kapal yang baik hati. Dia bercerita segala hal yang pernah ia temukan sepanjang perjalanannya mengarungi lautan. Yang menarik dari cerita pengemudi itu ialah, di akhir cerita ia selalu mengaitkan sebab pada Sang Kuasa. Meski tak percaya, aku mengangguk-angguk saja. Bisa gawat jika dia tersinggung lalu meninggalkanku di tengah samudera.

Ada untungnya juga menjadi seorang pendengar yang terpaksa. Ibarat minum obat yang aku tolak karena pahit, obat ini terpaksa aku telan karena takut menyinggung perasaan. Meskipun rasanya tidak enak,. Tapi efek yang ditimbulkan adalah lega luar biasa.

Maka kali ini, entah sudah kesekian kalinya aku menemukan, kembali menemukan tujuan. Tujuan yang lebih dari sekedar menyambangi negeri-negeri baru. Tujuan yang lebih dari sekedar memenuhi ego serta ambisi. Tujuan yang sederhana, yang mendefinisikan, siapa sejatinya aku. Nyaris kutemukan tujuan ini pada Alena. Mengabdikan hidupku untuknya, membahagiakannya, menjaga dan melindunginya.

Aku ingin menceritakan padamu tentang tujuanku ini, tapi nanti saja jika ombak sudah tidak sedahsyat ini.

Adalah Sang Kuasa yang menciptakan malam, dan bulan yang temaram. Lembut memantulkan cahaya masa lalu. Menyaksikan langit malam begitu cerah, begitu indah, bintang berkerlip jenaka, yang kesemuanya sudah tua.

Bumi kian menua. Sinar lembut langit malam, berasal dari jaman yang sudah tua. Aku pun sedikit lagi menua. Maka kupastikan kali ini untuk menancapkan tiang. Menetap, untuk alasan yang lebih pantas kulafalkan. Jika cinta hadir setelahnya, akan kuanggap sebagai bonus atas kebaikan Sang Kuasa.

Ssst..
Nanti saja kusebutkan tujuan itu. Istirahat kini. Langit sudah kembali merundung.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert