Skip to main content

Sang Pengelana (3) ~ Dia

Dia membanting pintu. Berdebum keras seakan hendak runtuh. Kepalanya penuh. Wajahnya lelah. Ia tidak tidur, sudah dua hari. Ia lantas bergegas membuka pintu kamar. Melempar semua barang bawaan. Dan menangis.

Entah apa yang ditangisi. Tidak ada sesuatu yang buruk sama sekali. Pertemuan berjalan lancar dan sesuai dengan misi. Semua mulus, tanpa hambatan yang berarti. Dia pun bisa tangani semuanya sendiri.

Air matanya menggenang, lalu mengalir. Tak tertahan ia telah sesegukan di sudut kamar.

Dia hanya merasa.. Sepi.

Di luar hujan bergemuruh begitu deras. Tidak menyisakan sebutir pun debu untuk bisa terbang. Ia tak peduli. Hujan makin membuatnya sendiri. Tidak ada yang lebih baik selain menyendiri, begitu ia pikir. Namun tidak kali ini.

Dalam beberapa fase, ada saat dimana ia ingin ditemani. Ingin bersandar, pada apa yang ia sebut sebagai Rumah.

***

Saya menyaksikan adegan emosional itu tanpa kata. Tanpa suara. Siapalah saya ingin menyapa. Saya hanya senyap yang tak bisa diungkap.

Menyaksikannya demikian rapuh. Dan demikian kuat menghadapi dunia. Berpura dan bermain peran. Dalam balutan kostum yang amat sempurna dalam penyamaran.

Limaratus tahun saya mengembara. Belum pernah saya lihat Negeri se unik ini.

Berada di ambang batas realita dan mimpi, Negeri ini menjadi satu-satunya negeri yang penuh emosi yang pernah saya jumpai.

Orang bisa berkedok bahagia meski sedih, berkedok sedih meski bahagia, berpura sehat seakan tangguh, berpura sakit tuk lari dari kenyataan.

Negeri ini cantik. Dan dipenuhi oleh orang-orang yang teramat cantik. Saking cantiknya, saya sulit membedakan. Mana cantik yang asli, dan mana yang buatan.

***

Sudah kubilang, aku akan berlama-lama di sini. Tapi siapa 'dia' yang tadi membanting pintu?

Haha. Tentu tidak akan kuceritakan padamu. Karena kau pun tidak akan tahu. Dia bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang ingin merubah pikiran. Pikirannya sendiri dan pikiran orang lain.

Kesepian karena tak berkawan. Siapalah pemikir hebat yang berkawan. Dia pasti sendiri. Ingin merubah pikiran. Tapi tak mampu mengungkapkan dengan baris kata. Debar jantung tak bisa ditahan, bagaimana pula kata akan terlontar.

Sayang seribu sayang..
Waktu dia dan dia terbatas. Entah apa kah nanti mereka kan bisa melewati ini semua bersama. Atau berpisah seolah tiada pernah saling mengenal.

Misteri.
Negeri ini penuh misteri.
Kejujuran tampak seperti amunisi.
Yang harus disimpan dalam sembunyi.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …