Skip to main content

Sang Pengelana (2)

Lucu.. Begitu pikirku saat melintas Negeri ini. Negeri dimana aku bertemu si Api. Seseorang yang amat antusias pada banyak hal, namun jatuh hati justru pada Bumi. Bukan Bumi yang sedang kujelajahi.. Tapi seseorang yang dia sebut dengan Bumi.

What do you like the most about Earth?

Begitu pertanyaan saya ketika dia selesai bercerita tentang jatuh hati nya yang pertama kali ini. Ya. Pertama kali. Api tidak pernah jatuh hati. Ia membiarkan hatinya terkungkung, meski raga nya berpindah kesana-kemari.

Api bersemu ketika pertanyaan itu saya lontarkan. Senyuman nya manis sekali. Saya mengenali senyum jenis itu, senyum yang muncul hanya jika seseorang benar-benar jatuh hati.

Negeri ini memang lucu, tapi sampai sekarang belum ada yang menandingi kelucuan Si Api yang tengah jatuh cinta.

Dia melupakan segalanya. Dia mengabaikan segalanya. Dia membakar semua yang dilewatinya, meski Bumi diam tak bergeming. Terang saja dia diam, Bumi adalah sang bijak yang tidak akan terpengaruh oleh hal-hal kecil sepercik. Namun Api tidak pernah menyerah, hingga akhirnya ia lelah. Meski tidak padam, dia memutuskan tuk berubah. Menjadi Api lembut yang hangat.

Sebagai Seorang Pengelana, terus terang saya belum pernah merasakan cinta sedahsyat itu. Cinta yang sanggup mendinginkan Api yang begitu membara. Cinta yang sanggup menentramkan Api yang begitu panas. Saya selalu bertemu dengan satu-dua wajah yang menarik perhatian. Dan cerita-cerita saya tentang dunia, amat diminati oleh gadis-gadis itu. Mudah bagi saya untuk membuat mereka terpikat, karena ternyata (saya juga baru sadar beberapa tahun belakangan), ternyata gadis tidak butuh kemapanan tuk bisa jatuh cinta. Mereka hanya ingin cerita, tuntunan, dan perlindungan.

Ehem. Saya memiliki semua itu. Tentu saja. Lima ratus tahun berkenala menjelajahi nyaris separuh Bumi,. Apa yang saya dapat kalau bukan cerita?

Jadi ketika saya mendengar seluruh cerita Si Api, saya terkesima sekaligus iri. Di usia yang begitu belia, Api telah mampu mengenal rasa cinta dan tak menuntut balas. Ia menyerahkan sepenuhnya pada apa yang dia sebut Sang-Kuasa. Tentu Api meyakini ada Sang-Kuasa yang mengatur seisi semesta.

Saya? Saya masih dalam pencarian, seperti apa Sang-Kuasa itu.

***

Rasanya saya ingin berlama-lama berada di negeri ini. Ini negeri yang lucu. Teramat lucu. Saya ingin menyaksikan lebih jauh Negeri Yang Langitnya Berdekatan. Saya ingin mendengar kisah-kisah si Api lebih banyak lagi. Agar saya ceritakan kepada kalian, tentang apa yang saya temui.

Dulu.. Dulu sekali, saya pernah bertemu dengan seseorang yang juga tengah jatuh cinta. Namun cinta hasrat yang ia punya, membuat saya kurang selera. Segala runtutan ceritanya hanyalah tentang sentuhan. Saya bosan, dan cepat-cepat pergi dari meja bar tempat kami berkenalan.

Sejak itu saya malas bercerita dengan seorang asing yang tengah kasmaran. Apalah.. Paling juga sama saja. Otak manusia, selalu butuh hiburan dan kesenangan.

Namun Si Api.. Dia bercerita tentang Bumi.. Dengan mata berbinar dan senyum merekah, pipi bersemu merah sesekali menundukkan wajah ke bawah. Lalu disetiap ceritanya ia selipkan doa-doa. Agar Si Bumi selalu sehat tanpa cela. Sejahtera tanpa sengsara. Bahagia.. Tanpa pernah bersendu lara.

Saya jadi teringat pada seorang gadis, yang bulu matanya menyembul dibalik cadar. Yang selalu mengintip dibalik jeruji jendela setiap kali ku melintas di depan pagar. Adakah jika gadis itu jatuh cinta pada seorang pengelana seperti saya.. Ia bercerita pada sahabatnya dengan binar yang sama?

Kata Api.. Bumi adalah seseorang yang paling tepat baginya. Belum pernah ia bertemu dengan sepasang bola mata dan seulas senyum yang begitu mengganggu pikiran.

Gadis itu..
Adakah dia itu kamu? Yang tengah membaca tulisan ini tanpa jemu?

Jika ya..
Akannkah dia mencitai tulisan-tulisan yang saya buat untuknya, sebagaimana Api mencintai laku Bumi padanya?
Karena sejauh perjalanan yang telah saya tempuh,. Belum pernah saya bertemu dengan cinta yang sedemikian hebat.. Sehingga mau membaca semua yang ada di dalam pikiran saya.

***

Negeri ini lucu. Langitnya berada dalam dekat sekali. Meskipun tetap seimbang. Karena manusia mencintai keseimbangan.

Cinta itu lucu. Sanggup melembutkan Api yang begitu kuat dan bergairah. Dalam konteks kebaikan.

Aku ingin tahu lebih jauh. Sudilah kiranya kalian tetap disana. Menunggu untuk membaca. Karena itu yang saya butuhkan sekarang. Teman berbicara.  

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal