Skip to main content

Pelarian Terbaik

Saya pernah mendengar seseorang berkata: "gua belum pernah sesuka ini sama orang. Gak pernah sampai se takut ini. Takut.. Membayangkan dia di meja akad sama orang lain" atau "Gua gak bisa bayangin kalau gak 'jadi' sama dia. Menghabiskan sisa hidup sama orang lain yang bukan dia.. rasanya.. Gak bisa banget!"

Salahkah dia jika mengalami jatuh cinta sedahsyat itu?

Tidak. Tentu tidak..

Hanya saja, sepandai-pandai manusia berencana, sekuat-kuat manusia menginginkan sesuatu, tetap saja ada kekuatan eksternal lain yang berkehendak. Pasti bisa terbayang sakitnya perasaan si orang tersebut apabila keinginannya tidak terwujud, dan justru ketakutan terbesarnya yang menjadi nyata.

***

Kita hidup tidak pernah terlepas dari keinginan. Entah itu benda, status, atau orang lain. Sumber stres terbesar adalah ketika kemampuan tidak mampu menjangkau yang diinginkan. Seperti Dementor yang menyedot kebahagiaan, seseorang tersebut bisa menjadi murung, tidak bahagia, dan mudah marah.

Disini saya akan tuliskan, nasihat dari teman saya tentang pelarian terbaik.

Ketika kita menginginkan sesuatu, namun tidak tahu bagaimana cara mencapainya, tapi pikiran terus menerus mengeluarkan suara-suara yang menakutkan tentang kemungkinan terburuk yang bakal terjadi, maka cara berlari terbaik adalah dengan doa.

Doakan dia yang tengah kalian damba. Doa adalah satu-satunya jalan penghubung antara dia, dirimu, dan Tuhanmu. Mendoakan kebaikan untuk dia yang tengah didamba, agar dianugerahi kebaikan dunia-akhirat, kebahagiaan, kesehatan, serta kesejahteraan. Gratis kan, mendoakan orang lain? Apalagi langit bekerja bagai cermin, yang memantulkan energi positif yang dikeluarkan, berbalik pada si pendoa.

Doa pun bisa menenangkan hati. Karena jika kalian benar cinta, maka hati akan tentram jika mengetahui dia di sana baik-baik saja. Dengan atau tanpa kalian.

Sungguh, tidak ada yang sia-sia jika kita mau berdoa, dan berbaik sangka pada semesta. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan doa hambanya. Tuhan itu tahu apa yang tengah kita rasakan, dan tahu kemana ini semua kan bermuara. Jika kalian merasa Tuhan tengah diam, sejatinya Dia hanya sedang menguji.. Benarkah kita pantas menerima anugerah yang akan Dia beri.

Jika Dia sudah berkehendak, bahkan gunung laut samudera pun tidak ada yang sanggup memisahkan dua hati yang memang sudah ditakdirkan.

Jadi jangan lelah dalam berdoa. Apalagi bosan. Bahkan ketika kita masih menjadi pendosa sekalipun, anugerah dan karunia-Nya terus mengalir pada kita that we took for granted.

Namun apabila kalian tidak percaya dengan adanya Tuhan, yakinlah bahwa ada kekuatan eksternal yang mengendalikan ini semua. Sebut saja Waktu dan energi, dua zat tak kasat mata yang mampu membolak-balikkan keadaan. Dikombinasikan dengan kemungkinan (probability) maka semua hal mempunyai persentase kesempatan yang sama.

Mendamba adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri pada hati dan logika. Menyeimbangkan keduanya, karena semesta diciptakan dalam keseimbangan. Seringkali perempuan terlalu dominan dalam menggunakan hati, sehingga lupa untuk mengontrol logika-pikiran yang membuatnya ketakutan setengah mati, apabila yang di dambanya pergi bersama orang lain.

Sedangkan laki-laki terlalu dominan dalam menggunakan logika, sehingga takut untuk bertindak karena nalarnya tidak mengizinkan. (Belum mapan, belum punya pekerjaan, belum ini, dan belum itu). Padahal jika menuruti kata hati sembari berbaik sangka pada semesta, meluruskan niat dan percaya, tentu akan ada kejutan-kejutan menyenangkan di depan sana.

Tenang saja, jika tulisan ini menyinggung kalian, berarti kalian tidak sendiri. Karena ini adalah problema universal dari para dewasa muda akhir-akhir ini. Pasangan yang sudah pacaran bertahun-tahun, akhirnya bisa berpisah karena si perempuan ingin cepat menikah, namun si laki-laki terlalu takut bertindak karena merasa belum punya penghasilan yang matang.

Dalam setiap kesempatan berbincang dengan teman lama, seumuran atau beda 5-6 tahun yang masih berstatus lajang, saya selalu mendorong mereka untuk memberanikan diri agar maju. Ya memang kebanyakan laki-laki sih, kawan saya itu. Yang sudah menjalin hubungan lama dengan kekasihnya, namun mentok karena urusan finansial versus pernikahan.

Karena stigma kita sebagai orang Indonesia masih saja, menikah itu harus pesta, harus mewah, dan setelah menikah harus punya rumah, mobil, dan pekerjaan. Itu yang disebut sebagai hidup normal.

Minimalist Millennial, tentu tidak akan berpikir demikian. Mereka rasional dalam nalar, namun berkeyakinan kuat dalam iman. Yakin jika hati sudah memutuskan ini spark joy bagi saya, langkah taktis segera diambil olehnya. Karena waktu tidak pernah mau menunggu. Ia terus bergerak, tidak peduli pada mereka yang meragu.

Jika kamu perempuan dan tengah mendamba, doakan dia dalam setiap bisikmu. Alihkan pikiran setiap kali gambarnya hadir dalam benakmu, mengikrar janji bersama orang lain. Jika sudah lumayan mahir mengalihkan pikiran, maka bayangan itu kau rekam, dan kau putar berulang-ulang. Saya tahu itu akan pahit. Tapi setidaknya itu melatih pikiranmu tuk menyusun strategi apa yang kiranya bisa kamu lakukan jika itu terjadi (dan bisa saja itu terjadi).

Jika kamu laki-laki dan tengah mendamba, jangan khawatir dengan apa yang sekarang kamu punya. Kecukupan itu kita yang rasa. Tidak ditentukan oleh standar supermarket apalagi dapur tetangga. Lebih-lebih kalau dia yang kau damba, juga menginginkanmu tuk segera datang melamar. Artinya dia sudah tahu resiko ke depan, dan sudah siap menghadapinya bersama denganmu. Jadi apa lagi yang kau takutkan? Semesta selalu memberikan hadiah terindah pada mereka yang berani mengambil resiko. Lagipula,.. Bukankah perjuanganmu jadi lebih indah apabila ada senyum lembut yang menyapamu setiap pagi?

***

Sekarang tepat pukul 22:22 ketika saya menuliskan bagian ini. Momen yang tepat di hari pertama 2018, untuk menggeser cara berpikir, mulai memandang dari sudut pandang berbeda, dan menyeimbangkan dominansi logika dan perasaan.

Bagi perempuan, jika memang dirimu tengah mendamba, turunkanlah sedikit ego mu. Mudahkan maharmu. Tundukkan pandanganmu. Lembutkan suaramu. Kekuatan perempuan, justru ada pada lemahlembutnya laku dan sikapmu.

Bagi laki-laki, jika memang dirimu sudah berusaha, namun tidak juga mendapat hasil yang kau inginkan, tutup matamu dan dengarkan kata hatimu. Terkadang bergerak maju tidak melulu butuh alasan yang kuat. Hanya butuh yakin serta percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

Love will move mountain if you let it.

Sebaik-baik mahar bagi perempuan adalah effort. So I always pray for me to deserve the kind of effort. Sesederhana surah Ar-Rahman yang dulu pernah saya hapal (dan sekarang sudah lumayan menghilang, :( not proud), yang dilantunkan di depan pengulu dan para saksi di ruang akad.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …