Skip to main content

Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang

Di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, jalan raya dipenuhi lalu-lalang kendaraan cepat. Persis kesetanan mereka melaju kencang. Tak peduli apapun yang ada di depan. Semua melesat seperti kilat.

Karena semua penduduk tahu, bahwa di negeri itu, tidak akan ada penyeberang jalan. Semua berjalan lurus dalam arah yang sama. Selalu sama dan tidak akan pernah berubah walau sepelemparan batu.

Di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, arah adalah sesuatu yang mutlak. Tidak akan pernah berpindah, karena semua berjalan dalam satu garis lurus. Menuju garis yang nampaknya seperti batas tapi tak berujung. Mengapa bisa begitu? Saya pun tak tahu. Saya hanyalah pejalan, yang kebetulan tersasar ditepiannya. Enggan masuk, karena konon katanya, orang asing yang terjebak di dalam Negeri Yang Tak Bisa Menyeberang, tidak akan dapat keluar dan mencari jalan pulang.

Di Negeri itu semua orang menggunakan helm dan masker tertutup. Berjalan, berlari, berkendara sekencang yang mereka mampu. Semua mata memandang lurus. Dan diam adalah bahasa yang dipahami oleh semua orang. Semua diam bukan karena mendengar. Semua diam karena semua berbicara. Di dalam kepala masing-masing. Adalah percuma jika seseorang berteriak dari arah berlawanan. Karena penduduk Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, akan sibuk membatahnya di dalam kepalanya sendiri. Mereka hanya diberi satu tugas: berjalan lurus.

Adalah Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, matilah dia yang mencoba mencari peruntungan. Melawan takdir dan keniscayaan. Berbelok arah bukan cara merubah pikiran. Berjalan lurus adalah satu-satunya tujuan.

Bukan suatu negeri yang elok dipandang, meskipun tatanannya teramat rapih bagai sulaman benang yang dipintal dengan teliti. Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, tidak akan mengizinkan siapapun tuk merubah nasib. Tunduk dan patuh adalah wajib.

***

Selepas macetnya jalanan pulang kantor, pada jam dimana semua orang terjadwalkan tuk pulang ke tempat yang mereka sebut sebagai.. rumah. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk