Skip to main content

Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang (2)

Tapi di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, anehnya saya mendapati betapa baiknya keteraturan. Saya memang hanya mampir, tak sengaja sampai di penepi, tidak juga berani untuk masuk lebih jauh lagi. Saya hanya bisa mengamati, dan takjub sendiri.

Terus terang selama ini, saya tidak pernah menyukai kata 'teratur'. Saya, Sang Pengelana. Bumi adalah Rumah, dan tidak ada Rumah yang boleh dilewati begitu saja. Semua harus disinggahi. Maka tanpa keteraturan, saya bebas. Bebas menyinggahi sudut mana saja Rumah saya. Saya bebas, bebas menentukan arah, dan pulang atau tidak pulang.

'Teratur' bukan kata yang tepat untuk jiwa bebas seperti saya. Yang menganggap Bumi sebagai Rumah.

Tapi di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, saya mendapati diri saya menyukai, mengagumi, bahkan terobsesi dengan keteraturan yang ada. Hanya butuh satu momen bagi kita, saya dan kamu juga, satu momen untuk merubah keputusan - merubah pikiran - dan cara kita memandang pakem yang selama ini kita genggam.

Dan bagi saya.. Momen itu adalah,.. tersasar di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang.

Mengeri sekarang, mengapa begitu banyak orang menginginkan keteraturan. Sibuk membuat tatanan yang sedemikian ideal, padahal utopis yang dia dapat. Sibuk menyusun strategi demi strategi, secara rapi dan terorganisir, yang toh akhirnya akan beda dalam realisasi. Saya pernah menertawakan seseorang yang bangkrut usaha nya, padahal sudah bertahun-tahun menyusun rencana bisnis, strategi penjualan, desain, hingga memilah karyawan. Tiga bulan, dan semua uang nya habis. Bodohnya saya tertawakan dia, yang tiga tahun kemudian menjadi seorang pebisnis nomor satu di negeri tempat saya berasal.

Ya.. Saya lupa.. Bahwa petarung sejati, jika diberi waktu tuk berlatih, maka ia akan menggunakan 20 jam dalam harinya tuk berlatih, dan 4 jam sisanya tuk bertarung.

***

Di Negeri Yang Serba Berketeraturan.. Saya menemukan satu jati diri saya yang baru. Teratur.

Saya menginginkan itu, sebagaimana saya menginginkan Bumi tuk menjadi Rumah tempat saya mengatur-keteraturan.

Ah..
Saya lupa memperkenalkan diri.

Jika Bumi adalah Rumah, maka saya adalah Air yang terlahir pada Bulan Februari yang hening. Tidak.. Bukan itu nama saya. Kamu pasti tidak ingin tahu. Tapi demikianlah mereka memanggil saya. Air. Karena saya lahir, dalam romantisnya Februari.

Kalau kamu?

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk