Skip to main content

Luna

Dia berjalan cepat di koridor panjang yang sepi. Tangannya memeluk setumpuk berkas, dokumen penting yang harus segera dikirim. Rok ketat selutut yang dia kenakan sama sekali tidak mengurangi kecepatan langkahnya yang tegas tak tergesa. Ada dua meeting penting yang harus ia hadiri siang itu. Masing-masing berdurasi satu jam, dengan waktu berpindah kurang dari sepuluh menit dari gedung satu ke gedung lain. Perempuan itu telah menyelesaikan satu meeting yang hasilnya memuaskan; klien menyepakati harga yang telah mereka tawarkan tanpa negosiasi. Deal! Begitu ketukan meja dibunyikan, lalu semua tertawa. Ia pun ikut tertawa, menyembunyikan gelisahnya pada sang waktu yang tak mau menunggu. Harus cepat-cepat pamit, begitu pikirnya.

***

"Presentasi yang baik sekali, Ibu Luna. Kami senang dapat bertemu dan berinteraksi langsung dengan anda" ucap klien kedua, selepas diriinya memaparkan rencana project yang telah ia susun semalaman bersama tim. Luna, begitu ia disapa, mengangguk tersenyum sambil membetulkan letak kacamata. Senyum yang mengisyaratkan bahwa pujian itu bukan pertama untuknya. "kami tertarik dengan pemaparan yang ibu sampaikan terkait mengurangi biaya promosi, tanpa mempengaruhi daya jual. Apakah itu tidak berlebihan? Mengingat biaya promosi memang sudah menjadi bagian dari anggaran, dan jika pun itu berkurang, akan seberapa signifikan terhadap pendapatan perusahaan?"

Pertanyaan klasik. Luna tersenyum tipis, bergerak pelan ke arah meja audiens. Matanya menguasai seluruh peserta yang hadir. Pelan namun lugas ia menjelaskan mengenai prinsip dan metode yang timnya kuasai. Sesedikit mungkin yang ia reveal, agar selebihnya biarkan kerja keras yang berbicara. Luna dengan kelembutan dan kecerdasannya, mampu memukau para hadirin yang merupakan jajaran direksi perusahaan klien. Ia tahu bagaimana harus bersikap, dan ia tahu dengan siapa ia berhadapan.

Jawabannya disambut tepuk tangan dan para calon klien yang berdiri menyalami. Sekali lagi, meeting hari ini diakhiri dengan ketukan deal yang membahagiakan. Tanpa negosiasi. Luna tersenyum puas, kerja keras timnya terbayar sudah.

***

Pukul delapan malam, Luna sudah duduk di salah satu kafe di daerah Kemang. Stephen, kekasih tiga tahunnya, mengajak makan malam tuk merayakan keberhasilan Luna sekaligus merayakan hari jadi mereka yang ketiga.

Stephen tiba sepuluh menit kemudian, masih dengan setelan lengkap ala pegawai hotel. Ia belum sempat pulang ke rumah rupanya, Luna pun begitu. Mereka saling memberi pelukan dan sapaan singkat, sebelum duduk di kursi masing-masing.

"So how was your day?" Tanya Stephen membuka obrolan. Pelayan datang menyodorkan menu, dan bergegas pergi meninggalkan mereka. Luna bercerita dengan antusias tentang dua meeting nya yang sukses besar hari ini, ditambahi dengan aktifitasnya yang padat merayap sejak pagi hingga sore sebelum bertolak ke Kemang. Stephen mendengarkan sembari membulak-balik buku menu, sesekali menanggapi.

"And.. how was yours?" Luna balik bertanya, sadar ia sudah terlalu banyak bicara. Ia tidak pernah suka mansplaining  di kantor, maka ia juga tidak mau ada womansplaining di hubungan percintaannya.

"Common" Stephen menjawab singkat. Luna mengangkat alis. Stephen mengangkat bahu, memberi isyarat bahwa tidak ada yang bisa diceritakan dari harinya, karena sama saja dengan hari kemarin.

Obrolan mengalir deras dari Luna yang tak henti membicarakan tentang pekerjaannya, timnya yang luar biasa, kerjasama yang semakin baik antara tim dan klien, hingga satu jam kemudian setelah makanan mereka habis tak bersisa.

"Luna, There is something I want you to know.." Stephen mendadak angkat suara, dengan nada yang tak biasa. Luna menangkap nada yang tak biasa itu, jantungnya berdegup. Ia tahu ini akan menjadi momen yang tepat. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk mereka jalani bersama. Namun ia juga tidak menyangka akan secepat ini. Pipinya bersemu merah sembari membulatkan mata antusias ketika Stephen meraih kedua tangannya, menggenggamnya erat.
"Kamu.. salah satu perempuan hebat yang aku kenal" Stephen menghela napas pelan "kamu cantik, kamu cerdas, karirmu pun cemerlang." Luna tersenyum tipis, senyum yang sama yang ia berikan pada jajaran direksi tadi siang. "Aku ingin memberikan sesuatu yang lebih untukmu, sesuatu yang hebat, yang tidak bisa kau dapat sendiri"

Stephen meletakkan kedua tangan Luna di meja, menatap mata indah itu lekat-lekat. Ia mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan hal yang telah mengganggu pikirannya dua bulan belakangan. Menguatkan diri untuk bilang...

"Tapi nampaknya semua sudah kamu miliki, tidak ada lagi ruang tersisa untuk aku isi. Maka dengan berat hati, aku minta izin padamu, agar hubungan kita sampai disini" selesai dalam satu tarikan napas.

Mata Luna membelalak, kaget namun sebentar. Jantungnya bergemuruh keras memompa air mata hingga ujung pelupuk. Sekuat tenaga ia kendalikan diri, agar tidak menangis di depan laki-laki. Di usianya yang nyaris tiga puluh, ia sudah amat terbiasa menghadapi laki-laki banci yang merasa terintimidasi oleh kehebatannya.

Luna menarik lengannya, menatap erat kedua mata Stephen, mencari keraguan di sana. Ia ingin Stephen berkata bahwa yang dia katakan tadi tidak benar, bahwa mereka baik-baik saja, that it's all in his head. 

Nihil. Luna hanya mendapati keteguhan hati di sana. Stephen terus berusaha menghibur bahwa ia tetap akan ada untuk Luna, kapanpun dia membutuhkan. Kalimat-kalimat yang tak ingin Luna dengar, karena sudah terlalu sering ia menjatuhkan hati, menetapkan pilihan, untuk kemudian ditinggal pergi, dengan alasan yang selalu begini.

Tegak Luna menghadapi Stephen, senyumnya masih terlihat walau kini lebih sinis ketimbang manis. "Saya pikir, kamu berbeda. Seperti yang kamu janjikan tiga tahun yang lalu. Terimakasih, Stephen."

Luna beranjak, dengan langkah tegas tak tergesa ia meninggalkan kafe. Menuju pool taxi, dan melompat ke dalam.

***

Tangisannya tidak berhenti ketika ia memasuki pintu rumah. Rumah kecil minimalis  yang ia huni sendirian. Limbung. Luna terjatuh tepat di tempat tidur. Hatinya hancur untuk kesekian kali. Padahal besok masih ada satu meeting lagi. Ponselnya terus menerus berbunyi, mengabarkan progres terbaik yang telah dihasilkan oleh tim untuk pertemuan besok pagi. Luna mematikan ponselnya dengan paksa. Menyimpannya di dalam tas. Biar saja.

Ia ingin menangis. Ia ingin mengadu. Ia ingin menjadi lemah, untuk sebentar saja. Ia bosan bersikap kuat. Bosan menyembunyikan sendu. Ia ingin tampil sebagaimana perempuan biasa, bukan perempuan yang diandalkan dan menjadi tumpuan.

Salahkah dirinya jika ia begitu mandiri? Salahkah jika karirnya mapan melebihi para lelaki yang mencoba mendekati? Salahkah jika ia terlahir sebagai sulung enam bersaudara, dan berkewajiban untuk ikut membantu memenuhi kebutuhan adik-adiknya? Salahkah..

Luna menangis semakin keras ketika memori indah bersama Stephen terputar jelas di benaknya. Stephen hadir di penghujung usia dua puluhan. Membawa secercah harapan, bahwa inilah tambatan terakhirnya. Ia yakin, bersama Stephen, semua akan berjalan baik-baik saja. Karir tidak menjadi penghalang, begitu ujarnya pada kencan kedua. Sebelum Stephen hadir, Luna telah menjalin kasih bersama tiga orang yang juga pergi dengan alasan yang sama; Ia terlalu hebat, dan terlalu pandai dalam karir.

Lantas bagaimana? Kali ini ia sudah sangat ingin menepi, sudah lelah menjatuhkan hati, namun yang di dapat justru sama lagi. Luna meringkuk di lantai yang dingin, menjatuhkan tubuhnya dari kasur dengan bunyi debum yang tak dirasanya lagi.

Ia menangis. Ia berteriak pada Tuhan.

Apakah ia harus menurunkan karirnya agar Stephen mau kembali padanya?
Pikiran yang sama yang selalu terlintas setiap kali ia gagal menjalin hubungan dengan lelaki oleh karena alasan serupa. Tapi selama ini ia selalu menolak untuk menyerah. Ia tetap berdiri tegak, tetap maju dan semakin berkilau dalam bidang yang ia tekuni. Dengan satu keyakinan bahwa lelaki sejati kelak akan datang menghampiri.

Sampai Stephen pun pergi.

Luna ingin marah, namun ia sudah tak kuat lagi. Sekali patah hati masih sanggup ia atasi. Dua kali.. tiga kali.. kini empat kali. Di hadapannya tampak kamar mandi yang setengah membuka, menyembulkan botol-botol cairan pembersih toilet. Luna merangkak di lantai dingin, membiarkan wajahnya basah berantakan tersapu air mata. Meraih salah satu botol dengan tangan kanan.

Jika sepi yang kelak akan menemani, maka ia lebih baik pergi. Luna membenci sepi, sama seperti dia membenci janji.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert