Skip to main content

Dibalik Cerita Luna

Kisah Luna hanyalah fiktif belaka. Namun sumber cerita nya, tentu nyata. Saya dapat dari siapa saja, yang mau berbagi cerita. Tentulah setiap kita, pernah mendengar atau mengenal tentang perempuan-perempuan hebat yang tetap lajang meski karir sudah mapan. Kadang, mereka menjadi bahan olok-olokan, tentang betapa betahnya melajang. Diminta untuk segera berakad, padahal keputusan bukan mereka yang bisa buat.

Jika kalian mengenal satu dari mereka, atau kalian adalah salah satu dari mereka,.. disini saya ingin mengingatkan, that you deserve to be loved. Jangan takut, apalagi cemas, suatu saat dia akan datang. Bahagia yang kau tunggu, selama kau yakin dan percaya. Optimis menyebutnya dalam setiap doa. Yakin pada apa yang kau yakini, jika itu Tuhan, maka yakinlah Tuhan akan mempertemukan kalian. Dan jika itu debu-debu kosmik, yakinlah bahwa energi kalian akan terkoneksi pada satu waktu.

Yang jelas, jangan sampai sedikitpun penantian mu yang kau rasa panjang ini, mengorbankan kecerdasan, kemampuan, serta potensi yang kau punya. Bersikap berpura bodoh agar terlihat lucu, bersikap seolah tidak tahu, padahal sudah kau baca seisi jurnal itu. Jangan menjadi orang lain. Don't lose your self in order to chasing somebody else. 

Sejati itu pasti. Kita diciptakan berpasangan. Takdir itu ada, kita hanya perlu yakin dan sedikit bersabar. Bukan justru menurunkan mahkota dan turun ke jalan, melelang apa yang kita punya. Duh, cantik, simpan tubuhmu untuk dia yang pantas. Tak perlu kau umbar hanya agar bisa dilamar.

***

Entah kenapa, teman-teman terdekat saya akhir-akhir ini adalah teman yang statusnya mirip-mirip beginilah. Single, punya pekerjaan (and getting better at it), mandiri, kuat (luar biasa), cerdas (apalagi kalau sudah membicarakan hal-hal dewasa, padahal belum berpengalaman), dan lucu. Karakter-karakter terbaik yang bisa dimiliki oleh perempuan, ada pada mereka, teman-teman terdekat saya. Namun sampai kini kami masih saling mendukung satu sama lain, karena tidak ada bahu laki-laki yang bisa kami jadikan sandaran. Akhirnya kami saling menopang, menguatkan dan mengingatkan bahwa kita pantas, (tapi saya harap, meskipun kelak masing-masing sudah dipertemukan dengan 'jemputannya' kita masih tetap saling dukung dan saling menguatkan satu sama lain).

Kami saling menjaga, untuk bisa setia menunggu dalam taat. Mencegah satu sama lain berbuat hal yang bisa menurunkan martabat. Menjaga agar mahkota kita tetap utuh.

Sedetik mereka sempat protes dengan keputusan saya untuk mengalihkan pekerjaan dari yang sangat sibuk, menjadi sangat tidak sibuk. Dari yang tadinya sering ke luar kota, menjadi akan lebih sering di rumah saja. Kenapa? Tanya mereka.

Tapi itu bukan untuk menurunkan mahkota. Bukan juga untuk merendahkan diri, agar level saya sejajar dengan mereka yang pantas. Tidak. Saya yakin, sejati saya adalah dia yang jauh lebih percaya diri, dengan apa yang dia miliki. Tidak perlu membanding-bandingkan apapun, untuknya bisa meneguhkan hati berjalan menuju tempat saya kini.

Saya hanya sedang lelah, dan sadar bahwa apa yang saya lakukan kemarin merupakan pelarian dari sakit hati beruntun akibat ditinggal pergi. Dan kini, setelah saya yakin telah pulih, saya berpikir kembali.. untuk apa saya lari?

Saya sudah tidak butuh berlari. Agar bisa membiarkan dia yang sejati, datang dan mendekati. Jika saya terus lari, kapan dia akan sampai kemari?

Begitu saya jawab pada teman-teman terdekat saya yang ingin tahu dan peduli.

Ini bukan soal kita menurunkan reputasi. Ini tentang bagaimana kita menyikapi, hati yang telah utuh lagi. Jika sudah utuh, kita ingin hati itu segera ada yang memiliki, bukan? Begitupun yang saya titipkan pada mereka yang telah berhasil merebut hati teman-teman terdekat saya yang lain. Sahabat saya tidak ada yang biasa-biasa saja, saya yakin itu. jadi kalau sampai ada laki-laki, siapapun itu, yang berani menjatuhkan hatinya lalu pergi begitu saja.., Jangan anggap enteng kekuatan doa dari perempuan yang dibuat menangis.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …