Skip to main content

Bertamu

Hari ketiga mengisi rumah baru, dan saya kedatangan tamu! Seorang rekan kerja yang rumahnya berdekatan, mampir ke rumah sepulang menjemput anaknya dari day care. Rekan saya itu seorang perempuan tangguh, yang meskipun sedang hamil masih masak, menyediakan makanan untuk suami dan anak, menjemput anak-jalan kaki- dan bekerja! Ya.. Dia masih presentasi sana sini, membuat laporan dan lain sebagainya.

Sehabis ashar mereka bertandang sebentar diiringi gerimis hujan, yang disusul dengan undangan makan malam di rumahnya. Tentu tidak saya tolak.

Jadilah selepas magrib, saya melajukan motor mencari alamat yang dimaksud (sempat nyasar jauh sekali ke perkampungan yang amat becek, entah itu sudah dimana, tapi se pelosok itu masih saja ada rumah!). Kecerdasan spasial saya memang rendah, untuk mengingat jalan ketika nyasar balik arah ke jalan semula pun saya nyasar lagi, tapi kecerdasan sosial saya cukup tinggi. Jadi setelah nyasar kuadrat, saya mulai bertanya ke orang - nyaris setiap sepuluh meter bertanya-

***

Akhirnya sampai juga!

Obrolan mengalir deras mulai dari urusan rumah tangga, nostalgia harapan yang berwujud nyata, hingga teknik-teknik pengambilan data.

Begini, saya ceritakan dulu tentang tetangga yang saya 'tamui' malam ini.

Mereka adalah pasangan muda -masih millennial- yang sudah dikaruniai seorang gadis kecil. Keduanya lulusan universitas yang sama, beda jurusan. Suaminya kehutanan, istrinya biokimia.

Pasangan ini saya labeli sebagai Pasangan Konservasi Indonesia. Pasalnya, keduanya berkecimpung di bidang konservasi, mulai dari penghitungan karbon hingga penentuan areal konservasi. Istrinya melakukan tulis-menulis serta kalkulasi, suaminya melakukan analisa geo spasial dan plotting pengambilan sample.

Side by side mereka akhirnya dikenal orang sebagai - ya itu tadi. Reputasi kian terbangun, bersamaan dengan lingkungan tetangga yang juga mendukung. Saya pun sedikit membatin, apakah nantinya saya pun akan terus sustain di bidang ini? Karena neighborhood saya ya begini juga. Kehutanan, lingkungan, dia lagi dia lagi.

***

Melalui obrolan yang mengalir deras tadi, ada beberapa hal yang saya jadikan catatan pinggir, untuk nanti saya bawa ke meja diskusi. Tujuannya adalah untuk pengembangan metode yang efisien.

Saya yakin bukan kebetulan bahwa sore ini kami bertemu, berdiskusi, dan mulai besok saya sudah mulai proses pindahan ke rumah-ruangan baru, dengan tugas-tugas yang mungkin juga baru.

Dengan ini saya menemukan kembali antusiasme pekerja baru, seperti saat saya direkrut pertama kali.. Dua tahun yang lalu.

***

Saya yang awalnya takut dengan proses berpindah, sekarang sadar bahwa tidak ada hal yang mengerikan dari perubahan. Pindah.. Bukan berarti mengurangi kenyamanan yang telah tercipta selama ini. Meninggalkan zona nyaman, tidak melulu untuk bersusah payah tidur di jalanan. Meninggalkan zona nyaman bisa juga berarti masuk ke zona nyaman lain. Yang nanti juga akan ditinggalkan.

Toh hidup ini juga untuk sementara. Buat apa takut perubahan? Don't be afraid of huge change. Take the chance. Change the mind. Move on, go forward. You'll be proud of your self by doing this.

***

Memang tempat tinggal saya yang dulu nyaman sekali. Kos-kosan adem, di tengah macetnya jalan raya. Tidak sulit mencari jajanan atau makan, dan tidak perlu repot-repot memikirkan bersih-bersih rumah. Semua tersedia dengan bantuan paket lengkap. Cuci baju, cuci kakus, sudah ada yang mengerjakan. Saya tinggal duduk manis dan belajar.

But nothing grows there.

Disini, di rumah ini, saya harus bertetangga dengan orang baru. Tidak mengenal siapa pemilik rumah sebelah yang hanya seminggu sekali menyempatkan pulang. Tidak tahu bahwa di rumah sebelahnya lagi, adalah juga senior kehutanan yang bekerja di kementerian (katanya).

Tapi ketika saya memutuskan pindah, banyak kesadaran-kesadaran yang merubah karakter, yang menghantam saya secara bertubi-tubi. And it all for good.

Memang repot, memang menakutkan. Tapi jangan takut, karena sakitnya hanya sebentar.

Segala permulaan pasti sulit, kok. Tapi bukan berarti mustahil.

Jalin silaturahmi, terus menerus membuka diri, dan berbaik sangka pada semesta. Blessings are coming in your way. Selama kita terus melakukan hal baik pada orang dan makhluk hidup di sekitar.
.

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal