Skip to main content

Pesta Diskon Akhir Tahun!!!

"Beli 2 Gratis 1"
Padahal kita hanya butuh 1, dan berakhir dengan membeli 3.

"Beli banyak lebih hemat"
Padahal kita hanya butuh sedikit, tapi jadi membeli lebih banyak (dan mengeluarkan uang lebih banyak) supaya bisa menganggap uang yang dikeluarkan lebih sedikit, dibanding biasanya.

"Belanja 1.000.000 dapat cashback 500.000"
Yang harus digunakan setelah pembelanjaan berikut dengan minimal transaksi 1.000.000. Padahal tadinya kita hanya menganggarkan kebutuhan senilai 1.000.000 tapi jadi membayar sebesar 1.500.000 (dan belum tentu barang-barang selanjutnya adalah yang dibutuhkan).

***

Percayalah, saya adalah perempuan yang suka sekali belanja. Sampai sekarang pun masih. Bahkan saya menemukan proses healing dengan mengelilingi dan memasuki semua outlet di dalam mall. Sampai sekarang pun masih.

Hobi itu saya jalani sejak tingkat akhir masa kuliah. Sejak punya penghasilan sendiri melalui kerja paruh waktu di sebuah studio film dokumenter. Saya jadi berani window shopping and end up with a couple of plastic bags. Kalau dihitung berarti sejak empat tahun yang lalu. (Wow lama juga).

Saya sudah mulai jenuh membeli barang-barang diskon, (barang-barang lucu yang entah kenapa minta dibeli, barang-barang yang saya pikir akan membuat bahagia jika membelinya), bahkan sebelum menemukan minimalism.

Waktu itu alasannya sederhana: nanti akan dibuang juga ujung-ujungnya (gak kepake).

Sejak menemukan minimalism, saya tahu bahwa kejenuhan itu adalah bagian dari proses berpikir dan memilah, the need and the want. Seiring waktu, saya semakin jarang membelanjakan uang untuk barang-barang yang tidak perlu. Bahkan ketika saya ingin sekali, saya memberi kesempatan untuk diri sendiri menyentuh, memegang, bahkan membawa-bawa barang itu hingga saya sadar dan meletakkannya kembali sambil bilang "terimakasih sudah menawarkan diri".

***

Tahu kenapa benda-benda di rumahmu, ada di rumahmu?

Misal sebuah kaos yang kamu beli di department store. Ada berapa belas kaos terpajang/tertumpuk di tempatmu mengambil kaos itu? Satu? Dua? Sepuluh? Tiga belas?

Tentu kamu akan memilih. Dari sekian kaos, warna dan motif, kamu akan memilih. Mencoba, lalu kembali memilih. Ketika kamu sudah menentukan pilihan, tentu kaos tersebut tidak hanya ada satu item. Ada dua, tiga, empat, kaos lain yang juga sama warna, sama motif dan ukuran.

Lalu kenapa kaos itulah yang kamu pilih dan bawa pulang?

Jawabnya, bisa saja karena kamu memilih dia dan menganggap dia yang terbaik. Kamu memeriksa setiap detil jahitannya, memastikan tidak ada yang sobek, dan memeriksa setiap detil print sablonnya. Setelah benar yakin, maka kaos itu kamu beli. Atau... Simply karena tanganmu kebetulan menggenggam yang itu, lalu kau bawa dia ke kasir.

Tapi.. Percayakah anda pada destiny?

Bahwa kaos itu memang ditakdirkan untuk kau bawa pulang? Percayakah kita, pada hal-hal yang sudah diatur di alam ini? Bahwa semua ada Yang Mengatur, dan mempertemukan dirimu dan kaos itu.

Kaos yang kau pilih, telah menunaikan tugasnya. Memancarkan kebahagiaan, yang membuatmu memilihnya. It sparks joy to you, so you chose it. Tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini.

Setiap benda yang kita bawa pulang ke rumah, telah melalui proses seleksi. Kita yang memilih mereka, karena energi positif mereka mengalir senada dengan energi yang kita pancarkan.

Bagaimana jika.. Kaos yang telah kita seleksi sedemikian rupa itu, teronggok terlupakan. Di pojok lemari yang lembab, lalu digerogoti rayap?

Benda-termasuk kaos- juga terdiri dari partikel atom yang bergerak mengitari inti atom. Pergerakan partikel tersebut menghasilkan getar-getar frekuensi, yang bisa ditangkap oleh getar-getar frekuensi partikel atom penyusun tubuh manusia. Karena manusia pun terbuat dari tanah, benda mati yang disusun oleh rangkaian partikel atom.

Getar frekuensi benda yang bahagia, adalah positif. Itu sebab jika kita melihatnya, kita pun bahagia. Atau sebaliknya. Ketika kita pancarkan gelombang positif, benda akan menangkapnya dan ikut meresapi gelombang tersebut. Makanya jika punya benda kesayangan, bisa sangat awet dibanding benda yang biasa-biasa saja.

Sementara benda yang terlupakan, bisa merasakan sedih, dan memancarkan getar frekuensi negatif. Semakin banyak benda tertumpuk dalam satu ruangan dan terlupakan, semakin besar getar frekuensi negatif yang mereka pancarkan dan ditangkap oleh radar manusia. Itu sebab, jika kita berada di sebuah ruangan penuh benda, terlupakan, dan tidak pernah digunakan, ada perasaan berbeda yang seolah menghalangi kita untuk bahagia. Karena itu artinya frekuensi kita sedang menangkap dan meresapi energi negatif yang mereka pancarkan.

***

Pesta akhir tahun adalah ajang paling tepat untuk mengumpulkan benda-benda yang ujung-ujungnya tidak terpakai. Yang terlupakan, tapi sayang jika dibuang (karena beli diskonan, dan belum tentu kalau beli lagi akan dapat harga yang sama).

Dengan ini saya mengajak kita semua, generasi cerdas generasi millennial, untuk tidak ikut terbujuk rayuan marketing yang melebihi gombalan lelaki bujang.

Hemat dua puluh-tiga puluh ribu tidak signifikan dengan seratus-dua ratus ribu yang kita keluarkan. Jika benda itu tidak kita butuhkan. Lain hal kalau memang butuh, yaa..

Beli secukupnya. Satu.. Kalau butuh satu. Kita tidak butuh tiga shampoo untuk disimpan sebagai stok berbulan-bulan. Karena the joy of having shampoo adalah ketika kita membelinya, dan membawanya pulang. Kamu akan kehilangan momen 'membeli shampoo' jika sudah punya dua botol (besar pula), dan selanjutnya akan mengalihkan uangmu untuk membeli hal lain yang biasanya tidak kamu beli, dengan asumsi uangmu masih bersisa (padahal mestinya itu jatah diskon shampoo yang kau simpan, bukan digunakan).

Jadi dimana letak hematnyaa..

***

Begitulah saya bercerita, tentang diskon akhir tahun yang kini menerpa.

Siapa sih yang tidak suka diskon. Who doesn't love sale. Tapi strategi marketing satu itu terlalu banyak mengecoh dan membuat bodoh, guru ekonomi atau matematika pun kadang masih terperdaya olehnya.

Selagi masih bisa, ayo kurangi belanja-belanja konsumtif. Kurangi juga penggunaan plastik. Untuk apa kita banyak membeli, tapi sedikit memberi.

Bukan barang yang dibeli yang akan menghasilkan amal jariah. Tapi barang yang diberi. Mau sampai kapan menutup dan membuka tahun ditandai dengan perilaku konsumtif terus menerus?

Kalau kamu bertanya kapan waktu yang tepat untuk berubah?

Jawabnya adalah.. Sekarang!

Minimalism is a choice for an open minded people.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …