Skip to main content

Perempuan Ruang Kopi

Kita diciptakan untuk menemani, seorang Adam yang sudah memiliki segalanya di surga. Tugas kita adalah untuk menemani, namun kita pun dibekali ambisi. Perempuan dan segala jerih payahnya, adalah satu hal yang patut untuk dikisahkan. Dalam makna dan nada berbeda-beda. 

***

Keyakinan boleh beda, namun Cinta tetap satu. Ambigu! 

"Ya, pada awalnya dia berkata bahwa agama tidak akan menjadi penghalang, terhadap dua hati yang terlanjur terpaut satu sama lain. Dia bilang, kita akan bersama, selamanya. Menikah, dan punya anak. Namun apa mau dikata, lima tahun semenjak kalimat manis itu diuntai, dia pergi dengan alasan yang sama. kita berbeda" Sejak awal mereka berdua tahu keyakinan mereka berbeda. Agama yang menjadi pondasi kehidupan seseorang, juga menjadi batas kubikel insan manusia. Sang laki-laki pergi dan menikah dengan perempuan lain. Meninggalkan perempuan yang dengan tulus mencintainya, berjuang sendiri agar bisa tetap selamat dalam menjalani hari. 

Perempuan itu memang selamat. Ia bahkan bisa tampak bahagia, dalam balutan tawa dan canda yang seolah tidak pernah habis di makan usia. Karirnya menanjak gemilang, membayar setiap sedih yang ia sapa di setiap malam. Tentu saja dia tidak menyerah. Kegigihannya membawanya pada pintu-pintu hati yang lain. Meskipun, tidak sampai disitu saja perjuangannya. Setiap pintu membawa tantangannya masing-masing. Ia tahu ia tidak boleh tinggal diam. Dengan berani, ia mencoba memasuki salah satu pintu yang terbuka, hanya untuk mendapati bahwa.. pintu itu telah dihuni!

Dua orang gadis mungil, dan satu cerita masa lalu yang belum selesai. Ia mencoba masuk di tengah-tengah cerita tersebut. Berusaha menjadi bagian dari cerita baru yang dia yakin akan menjadi miliknya. Meskipun bayarannya adalah tingkat kesabaran yang harus diperdalam, dan hela nafas yang harus diperpanjang. Laki-laki boleh saja mengumbar sabar dan terlihat tenang, tapi dalam sepersekian masa, ia akan berubah menjadi seorang tanpa hati, and suddenly he wake up one day and say "I don't love you anymore". 

Ya, itu terjadi. 

Tiga bulan ia menangisi diri nya sendiri, berusaha keluar dari kubangan yang lagi-lagi menjerat. Tertawa terbahak, menutupi derai air mata yang dia simpan sendiri. 

Namun apa?

Sang laki-laki menginginkannya kembali. Kali ini ia berjanji untuk akan menjadi lebih baik lagi. 

Jikalah seorang perempuan punya batas, maka cinta yang mereka miliki tidak pernah berbatas. Luas hati ampunan maaf dari seorang perempuan yang mencintai, sepatutnya menjadi simbol dari ketegaran mereka sebagai makhluk lembut yang tercipta tuk menemani. Ia memaafkan sang laki-laki, dan menerimanya kembali. Seolah tidak pernah ada yang terjadi, cinta nya kini utuh lagi. 

***

Jatuh Hati, untuk Pertama Kali. 

Dulu sekali ia memang pernah dikecewakan. Laki-laki yang dia sayangi semasa remaja, meninggalkannya untuk alasan yang tidak bisa ia terima. Meskipun setelahnya barulah ia tahu ternyata ada perempuan lain yang hadir di antara mereka. Marahnya, sedihnya, ia simpan sendiri. Begitu tenang sikapnya, padahal usianya belumlah genap dua puluh. 

Ia memilih untuk menjalani hari seperti biasa. Seolah tidak pernah ada sakit yang menampar hatinya. Menyelesaikan kuliah dengan waktu dan nilai amat memuaskan, bekerja dalam bidang yang bisa membuatnya bangga. Satu dua hati singgah menyapa, namun ia biarkan saja mereka berlalu lalang. Toh dia tidak ingin mengejar cerita cinta. Jika mereka memang miliknya, pasti mereka akan mencari jalan untuk tetap bersamanya. Jika orang tidak mengenal dirinya, tentu dia akan dinilai ignorant, cuek dan sombong. Padahal, perilakunya itu hanya semata-mata untuk melindungi hati nya yang pernah terluka. Ia tidak ingin luka itu terbuka lagi, karena ia masih hapal sakitnya dikecewakan.

Hingga suatu hari, dalam sebuah rapat kordinasi. Seseorang yang duduk di pojok sana, yang teramat asing baginya, berhasil menyentuh sudut hati yang selama ini ia lindungi. Perempuan ini bahkan tidak tahu dia siapa, tidak tahu asal usulnya, mereka bahkan hanya bertukar pandang tanpa sapa. Namun diamnya sang laki-laki, sanggup membuat dia bertanya-tanya.. siapa dia?

Hari berlalu, tanpa sengaja mereka kembali bertemu. Dalam suatu ajang besar-besaran yang menyatukan berbagai departemen dalam tempat mereka bekerja. Entah kebetulan, atau memang sudah aturan, letak pameran yang mereka wakilkan, hanya berbatas dinding kain tanpa papan. Ah.. saya tidak percaya ada yang namanya kebetulan. Saya tahu itu Tangan Tuhan. Love works in mysterious ways, when you very least expect itu, he will find you. 

Laki-laki diam itu mengusik keingintahuan sang perempuan. Rasa penasarannya membuncah, yang dia gambarkan dengan antusias 'saya tidak pernah seperti ini sebelumnya'. Jatuh hati yang terakhir kali dia rasakan adalah bertahun lalu ketika masih berusia belasan, sejak itu ia memilih tuk menutup diri. Menjauh, dan hanya membuka sebagian kecil dari dirinya. Ia terlalu takut berterus terang, karena setiap kali dia tunjukkan keinginannya, para laki-laki itu selalu kabur entah kemana. 

Kali ini, dia tidak ingin salah lagi. Ia ingin berhati-hati, dan menenangkan diri. Ia ingin kalaupun cerita ini benar untuknya, ia ingin laki-laki itupun tahu sejak awal seperti apa ia yang sebenarnya. 

Namun jika cerita ini bukan untuknya (lagi), dalam diam nya saya bisa membaca, raut tegas kecewa yang teramat sangat. Dan jika laki-laki itu kelak menikah, rasa sakit hati yang ia rasakan mungkin tidak akan pernah terbayar dengan apapun, meskipun pasti akan sembuh. Walau ia tahu, ia tidak berhak untuk patah hati, because he's not even mine to begin with, begitu pikirnya. 

Begitulah cara hati bermain, adil dan tidak adil kita yang menentukan. Perempuan hanya boleh memendam, memandang dari kejauhan. Menunggu-nunggu agar sang laki-laki berani membuat pergerakan. Namun jika tidak, maka lagi-lagi ia akan membangun benteng yang kokoh dan panjang. Agar berlindung dan tidak lagi terjatuh tanpa pegangan. 

***

Dua cerita tadi bukan fiksi seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya. Ia nyata, dan mereka ada. Saya berbicara dengan mereka, dalam jeda waktu berbeda. Di ruang kopi berbeda, kota yang berbeda. 

Masih banyak cerita-cerita perempuan hebat yang saya temui sepanjang perjalanan ini. Mereka yang cukup kuat memendam sendiri kisahnya, dan hanya dituangkan dalam gelas-gelas kopi pahit mengepul. 

Perempuan-perempuan ini lah yang membuat fase singleton saya tidak begitu membosankan. Cerita-cerita mereka yang berbeda dan penuh kejutan adalah motivasi yang tidak terbayar oleh apapun. Saya tahu, kita tidak sendiri. Untuk itu saya ingin menyampaikan pada seluruh perempuan yang sedang berjuang, bahwa mereka tidak sendiri. Empowered woman, empower woman. Tapi kali ini saya ceritakan cukup dua cerita. Selebihnya akan saya lanjutkan pada malam-malam yang sepertinya masih panjang ini. Malam masih panjang, boss.. begitu seorang rekan berkata. 

Maka kita nikmati saja dulu, santai sambil berteguk sapa. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …