Skip to main content

Pamit

Tidak ada hal baik dalam sebuah perpisahan. Meskipun seorang minimalist sudah sangat terbiasa untuk melepaskan pergi benda-benda yang disayangi, namun tetap saja menyakitkan.

Setiap awal akan berakhir. Dan semua hal baik, pasti berakhir. Juga mendung, tidak akan selamanya begitu. Pasti.. Ada titik di mana semua yang kita senangi atau takuti, akan menemui ujungnya. Dan berakhir.

Perubahan adalah sesuatu yg mutlak terjadi. Karena bumi terus bergerak berevolusi. Mengelilingi matahari, yang seolah tidak pernah pergi.

Partikel penyusun benda terkecil pun berkeliling, mengelilingi sebuah inti yang mengandung aliran-aliran ber frekuensi. Sumber semua pusat komunikasi, dalam empat dimensi.

Ah.. Apakah kau mengerti jika diam itu selalu menemani? Apakah kau paham, jika kata tidak pernah terlontar?

Toh kita semua berkomunikasi, dalam diam dan tawa, dalam angkuh dan nelangsa. Kita saling mengerti. Namun terlalu pengecut tuk mengakui. Kenapa? Ego kah terlalu tinggi? Atau memang kita tidak pernah mau melepaskan pergi.

***

Minimalism, prinsip hidup dalam keseimbangan dan ketercukupan. Tidak berlebih, dan selalu mengajarkan untuk berbagi.

Jauh sebelum teknologi diciptakan dan hidup manusia semakin tertekan, Islam telah menganjurkan sifat hidup demikian. Agar tidak berlebih-lebihan, dan senantiasa memberi benda yang paling kita sayang.

Memberi benda yang paling kita sayang.

Mungkin, begitu juga caranya, agar kita melepaskan seseorang yang teramat kita inginkan. Meskipun dia bukan milik kita sama sekali. Meskipun cerita itu belum dimulai dan bahkan tidak akan pernah dimulai. When you feel the click, its hard to deny. And when you have to let it go, even before it begin.

Kenapa harus dilakukan?

Agar kita tetap bahagia dalam sederhana. Menikmati hal-hal yang ada SEKARANG. Bukan yang mungkin akan ada esok atau lusa. Saat SEKARANG yang tidak akan pernah berulang. Bumi tidak pernah bergerak mundur walau sedetik. Ia selalu maju, mematuhi tugas yang telah diembankan kepadanya semenjak awal penciptaan semesta.

Berputarlah! Berputar lah dalam sumbu bumi. Bergeraklah maju, mengelilingi matahari.

Patuh, tanpa bertanya ini dan itu

***

Jika hati dan perasaan punya tombol off, maka minimalism menjadi tidak perlu ada lagi. Karena jika kita sudah terlanjur merasa memiliki, terlalu sayang dan terlalu sengsara karena memendam rasa, kita bisa tinggal klik, lalu perasaan itu menghilang.

Sayangnya,

This is all we have.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …