Skip to main content

Moving Out in Light

Give your self time alone, you will be surprised at who you find.

As for today.. I found my self brushing every corner of the house. Windows, dish-washer (and I regret it later for leaving it on porcelain cleaner liquid. :'( I have to remove the stain tomorrow.. Hope it'll be). I brush every inch of dust, and paint marks on the floor. Not even a tiniest mark will be on the floor.

I surprised at how I give the house such a treat. Why? Here's why.

I'm not a tidy person. Never in my life, my friends known me as a Hilma-clean-and-tidy-kind-of-girl. I lived in dormitory back in highschool, and I was once granted with the dirtiest room for the entire girl's building (not proud). Yeah, there's an award for cleanest and dirtiest room, and there were a prize too. We got broomstick, anyway.

After highschool, I moved from one rent room to another. It was always a messed, because I'm so busy living my life, that I forgot to clean up. I only did when I got enough time or when I'm sad.

I wasn't lazy, I just never focus my mind to clean somebody else's house. Even if I lived there, for me as long as my bed is clean, my desk is useful enough for me to work, then I'm done. Uh oh.. And the wardrobe too. As long as my clothes are happily piled up.. I am happy.

I didn't feel the urge to pay attention at the window, or the terrace, because there is a housekeeper cleaned it out every single morning (even in Sunday).

And when I moved out to the house of my own, I surprised with how annoyed I am with the dust in the corner of my bathroom. Dusts in every corner. Dusts because the builder are ignorants. (Sorry to say).

So I brushed! I bought porcelain cleaner for the paint marks (and get my self splash on the face. So annoying). I clean the windows, for not only the glass, but also the frames. All frames, wiped out clean!

At one second, I can feel Monica from F.R.I.E.N.D.S -_-

But that was fun!

I never like to tidy or cleaning, so that's why I chose minimalism. With less stuff, I have less mess, and more time thinking about another useful thing than spend it all cleaning and reorganizing.

And here is the start. Before I move to the house, I prepare it first. When the house is ready, (and I ask her whether she's ready or not), I started to pack my stuff aaand... Discarding all at once.

I'll start tomorrow (just like common word for diet), to pack and discard. I'm doing the 'spark joy' conversation with my cloths and my stuff, and will only move out with my most beneficial things.

This is why minimalism make our life simpler. Getting no attachment with our belongings, will lighter our step. I can move easily, without having to worry about my clothes. Or my dolls.

As a woman, I may get married one day, and I'll never know what the future hold. Maybe the husband will take me to his place, or his town, or his dream, I have to follow. Attachment will only weigh me down. The house can be left alone, it'll have another temporary settler, but the belongings won't. So I better discard, and take only the most beneficial one.

To carry it light, carry it easy.

With minimalism, I am ready to embrace where universe wants me to go.

I have nothing weighing me down.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …