Skip to main content

Minimalism untuk Perempuan dan Rumah Tangga

Ada yang lihat Supermoon malam kemarin? Atau bulan cembung malam ini?
Apa yang dirasakan ketika sinar putihnya memantul dari atas sana?
Damai?
Tenang?
Bahagia?

Mari kita simpan dulu perasaan itu. Sekarang saya ingin membagi satu lagi cerita.

***

Perempuan dan ceritanya yang unik. Tapi tidak pernah mau disalahkan. Tidak pernah mau menjadi kambing hitam, dan selalu ingin benar sendiri. Menjadi semacam lelucon women always right, because men always left. 

Diakui atau tidak, diterima atau tidak, perempuan adalah yang selalu menjadi sumber persoalan dalam sebuah rumah tangga. Tapi coba, berapa banyak orang yang akan protes jika disebut sebagai sumber masalah, apalagi kalau sudah menyangkut gender. Wah, saya bisa di protes sama para feminist, yang selalu menganggap dirinya adalah korban.

Kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, suami yang tidak bertanggung jawab, semua nya mengorbankan perempuan. Laki-laki adalah pemain antagonis tak berhati, yang bisa seenaknya lari dari tanggung jawab.

O ya sudah tentu mudah sekali mengkambing hitamkan para laki-laki ini, karena mereka tidak akan peduli pada cercaan dan akan terus melenggang kangkung tanpa balik badan. Sementara perempuan akan menangis di depan sorot kamera, mendapat iba dari segala arah.

Ketika menyaksikan kasus serupa.. maukah.. bersediakah kita, melihat lebih dalam? Meluangkan waktu sedikit lebih banyak, sebelum buru-buru men judge ketidakbecusan si laki-laki dalam memimpin rumah tangganya?

Karena tidak mungkin ada api jika tidak menimbulkan asap. Bisa saja, laki-laki itu juga sudah terlalu muak dengan perlakuan yang selama ini ia terima dari istrinya yang 'teraniaya' itu.

Terlalu mendominasi?
Terlalu mau menang sendiri?
Tidak pernah mengindahkan perkataan suami?
Merasa benar sendiri?
Menganggap suaminya tidak bisa apa-apa?
Tidak pernah meminta pendapat orang lain?

Whoa.. whoa.. tunggu dulu. Jangan-jangan sifat itu masih ada dalam diri kita?

Saya selalu gemas dengan perempuan yang selalu merasa dirinya sebagai korban. Seolah tidak ada yang lebih tersakiti dibanding dirinya, dia lah yang paling menderita dan menanggung segala beban. Dialah sang pahlawan, padahal ternyata.. Dia lah sumber kekacauan. Tanpa sadar, dia penyebab segala ketidak becusan sang suami. Dia yang membuat kekacauan, untuk dia perbaiki sendiri dan berdiri perkasa dengan bangga.

Women, should take the blame 

Adil? Jangan bicara adil kalau yang kamu maksud adil adalah 'sama'. Adil itu equity, bukan equality. Ya, perempuan adalah orang yang paling patut disalahkan jika rumah tangga berantakan. Adilkah? Tentu saja adil.

Woman, is the one who set the tone of the house

Ibu senang, semua senang, ibu bete semua berantakan, face it! Mother is the heart of the house. Whatever makes her happy, is good for everyone, menjadi penting sekali untuk perempuan agar bisa selalu tenang dalam situasi apapun. Bukan malah bergantung pada situasi, kalau situasi baik dia senang, kalau situasi buruk dia marah-marah. Perempuan dewasa bisa mengatur her mood level, menyimpan sebagian bahagia ketika sedang bahagia-bahagianya agar tidak kebablasan, dan membuka cadangan bahagia ketika sedang terpuruk-terpuruknya agar orang lain tidak terikut terpuruk.

Insya Allah dalam Islam, semua itu dibayar tunai dengan pahala dan surga. Jadi tidak ada, pengorbanan sekecil apapun, yang sia-sia.

Beruntunglah mereka yang bisa merasakan singleton lebih lama (dan beruntung juga bagi mereka yang segera dilamar). Yang bisa merasakan single lebih lama, bisa belajar lebih lama untuk mengatur naik turun nya mood level, dan membiasakan diri terhadap hal-hal dramatis yang mungkin terjadi. Sedangkan yang sudah lebih dahulu terikrar akad suci, bisa langsung berpraktek dan memanen sendiri pahal yang sudah terpatri.

Now I speak to the singles. Mulai sekarang, ayo kita membiasakan diri untuk hidup minimal. To live below your mean. It's easier to say, and trust me, we're all in this together. Saya pun sedang pelan-pelan mencoba memahami konsep ini. Kenapa kita harus menguasai konsep ini? Karena sekarang kita jomblo single, berpenghasilan, punya orang tua yang menjamin hidup ke depan, dan semua serba ada. Tapi siapa yang tahu jodoh kita besok akan seperti apa? Jangan-jangan kita seperti cerita FTV yang naksir abang gojek ganteng berpenghasilan 300 ribu perhari.

Katakanlah kita punya penghasilan tiga juta perbulan, kalau dihitung-hitung sebetulnya pengeluaran kita hanya satu setengah juta perbulan. Tapi sisa satu setengahnya lagi tidak pernah masuk ke rekening tabungan. Hilang kemanakah?

Oh.. kopi-kopi fensi, atau kuku kuku salon, atau ajakan nongkrong-nongkrong yang berakhir dengan belanja impulsive. Stop!

Mulai sekarang, hentikan itu semua karena tidak ada artinya jika bahagia nya cuma sesaat.

Bahagia sesaat itu bukan bahagia. Bahagia adalah perasaan yang sama dan setara, ketika kita memandang bulan putih bersih saat Supermoon. Tenang, dan damai. Itu bahagia.

Mulai membiasakan diri untuk benar-benar hidup setengahnya dari penghasilan. Supaya, kalau-kalau nanti kita berjodoh dengan orang yang penghasilannya ternyata hanya satu setengah juta perbulan, kita sudah terbiasa duluan. Bukan malah justru mengambil alih kemudi, dan bekerja banting tulang siang malam meninggalkan rumah, anak dan suami. Tugas sendiri jadi abai, karena pekerjaan di kantor mengalir deras, tanpa henti.

Ketika perempuan tidak terbiasa, tidak bisa juga menerima penghasilan dan keadaan pasangannya, ketika itulah negara api mulai menggeliat. Belum menyerang, karena kalau sudah menyerang berarti bubar jalan. Ketika perempuan tidak terbiasa dengan perekonomian yang lebih kecil dari yang biasa dulu ia dapatkan ketika masih jadi anak mamah dan papah, dia akan panik. Perempuan yang panik, tahu sendiri kan, akan mengambil keputusan secara impulsive, yang bisa jadi tidak baik baginya.

Saya mengerti bahwa laki-laki punya ego dan harga diri. Yang mereka jaga dan pertaruhkan sampai mati. Dan ketika perempuan sudah mengambil alih kemudi, mereka akan merasa terebut dan terenggut. Mungkin tidak semua laki-laki akan mengekspresikannya dengan amukan marah, sebagian ada yang memilih diam dan pasrah. Tapi dibalik itu, ia sudah mati rasa. Menolak bangkit, menolak berusaha. Jadilah ia seorang tidak berguna, yang semakin membuat dirinya nelangsa. Merasa ditolak dan tidak bisa apa-apa. Perempuan yang semestinya bertugas membangkitkan semangatnya, mendorongnya untuk kembali ke kancah pertempuran, telah terlanjur tenggelam dalam dunianya. Dia lupa bahwa laki-lakinya butuh petikan semangat, lebih dari sekedar kata-kata dan dorongan insentif usaha. Dia lupa untuk berhenti sejenak, dan membiarkan kemudi diambil alih oleh sang empunya.

Kini bayangkan sebuah kondisi, dimana kita menikah dan punya anak. Tiba-tiba suami kita kehilangan pekerjaan. Sementara sang anak masih butuh asupan tambahan. Apa yang akan kita lakukan? Apakah keluar rumah dan mencari pekerjaan? Atau, menyemangati suami dan mengikuti ritmenya apapun yang terjadi sambil mengatur keuangan se kreatif mungkin?

Ini akan terdengar klise, tapi.. Ya! Perempuan minimalist akan memilih untuk tetap diam di rumah, meninggikan derajat suami, dan mendorongnya untuk lebih bersemangat lagi. Dia tidak mengambil alih kemudi, meskipun dia sanggup, selama sang suami masih mampu memegang kemudi. Laki-laki pun pasti tidak akan membiarkan perempuannya mengambil alih, kecuali jika memaksa (dan kebanyakan memang perempuan senang memaksa). Terdengar seperti pasrah dan tidak berguna ya, si perempuan ini? Yah.. memang. Konsep bagus tidak akan bisa diterima oleh semua nalar, itulah kenapa agama harus terbagi menjadi lima keyakinan besar, ya kan.

Kata seorang rekan kerja di kantor, cobaan rumah tangga ketika perekonomian sedang sulit, adalah cobaan tuk perempuan. Ketika perekonomian sedang tinggi, adalah cobaan untuk sang laki-laki.

Jadi, jika ekonomi sedang sulit dan si perempuan mampu melewati tanpa sesenti pun meninggalkan sang suami, bukan tidak mungkin ketika ekonomi sedang mapan-mapannya, si laki-laki tidak meninggalkan si perempuannya walau sesenti.

***

Meninggalkan Ego di Meja Akad

Semoga tulisan ini menjadi pengingat, untuk saya gunakan jika kelak saya menemui kesulitan yang serupa. Selama ini kan saya hanya mendengar dari cerita, menyaksikan sedu sedan, menampung tangisan, tanpa bisa berkata atau membalas dengan nasihat. Saya hanya bisa mendengarkan, dari satu cerita ke cerita lain, tentang rumah tangga, tentang yang belum berumah tangga, sambil memetik satu persatu pelajaran yang bisa saya ambil, dan Insya Allah bisa saya bagi.

Semakin kesini saya semakin menyadari, betapa kelirunya saya dua tahun yang lalu. Siang tadi, saat jam makan siang, saya terduduk di ruang belakang, sendirian. Saya ingat, di bulan yang sama, dua tahun yang lalu. Saat pertama kali saya menduduki ruang yang sama, berusaha mencerna segala perubahan yang ada, dan gamang dengan pilihan yang harus segera saya tentukan.

Keputusan saya buat, resiko saya terima. Bahkan dalam satu fase, ada dimana saya menjadi teramat kanak, dan benci pada diri sendiri. Saya menyalahkan situasi, menyalahkan dia yang memilih pergi, merasa diri sebagai korban.

Butuh dua tahun untuk saya menyadari, bahwa saya teramat keliru menanggapi hal ini.

Butuh dua tahun untuk akhirnya saya mengakui, bahwa tugas perempuan adalah menemani. Kita ada karena mereka butuh teman, yang menguatkan, yang menyeimbangkan langkah. Yang diembankan tugas sebagai pemimpin, dengan ego dan ambisi, adalah mereka. Bukan kita. Ego dan ambisi kita hanya titipan. Untuk menghibur diri ketika sedang sendiri. Namun diatas ego dan ambisi duniawi, mesti lah terselip ego dan ambisi yang jauh lebih tinggi. Yang bayarannya bukan pride atau pujian. Bukan uang, atau kedudukan. Tetapi ridho dari Yang Maha Kuasa.

Kini saya belajar untuk melepaskan segala keinginan, yang selama ini saya pegang erat-erat tanpa tahu bagaimana merealisasikannya. Saya akan lelah jika terus menerus memandang ke atas, melihat orang lain yang jauh lebih hebat, bisa mewujudkan mimpinya berkeliling dunia, sekolah, punya cita-cita. Tapi saya juga akan pegal jika terus menerus memandang ke bawah, pada mereka yang harus bekerja sedari muda tanpa pernah bisa berkesempatan untuk sekolah. Berhenti melihat orang lain, dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Lihat saja ke depan, dan lihat apa yang bisa kita lakukan.

A strong and confident soul, tidak butuh pembanding. Dia akan berjalan sendiri, sesuai ritmenya, dan cerita yang sudah digariskan untuknya.

Letting go is never easy, you can't let go of something completely. Somehow at some point, it came back to you, just to see if you really have letting them go. It hurts so bad, it cuts so deep to see something we used to love, to go away, and then come back again, with the same heat level of excitement. It hurts like hell. Please. I know. 

But you can get through this. All you and we need, is a daily reminder of why we're going this far. Why we're doing this. Constantly changing your reason, but not the goal. We wanna live minimal, so we can adapt easily for whatever condition ahead. So we are able to fix everything when life happens. So we can set the mood of the family, with an everyday good mood. So we can raise the children well, and grow them like a hero without a cape. 

Bertekad untuk melepas semua ambisi dan ego pribadi, di meja akad. Ketika keluar dari ruangan selepas mengikrarkan janji suci, all of a sudden, your life, is all about him. His dream, his goal, his career, his life. 

Tentu kita masih punya hidup kita sendiri, tidak terlarut dalam arus. Tentu. Karena disitu kreatifitas kita sebagai perempuan diuji. Smart mind creates creativity. Creative mom, will produce creative generation. Creative, genuine, kind hearted generation, is all gold for future. Even though we may never know what future is. 

***

Bahagia itu bukan dari seberapa mewah makanan yang terhidang di meja, atau seberapa canggih kendaraan yang terparkir di halaman. Bahagia itu ada ketika rasa tenang menjalar tanpa bisa digambarkan. Dalam lantunan ayat suci yang ia bacakan, dalam jernih langit berbintang yang kalian bagi bersama, dan dalam hal-hal yang justru datangnya dari sesuatu tanpa diduga. And most of them.. are beyond money. 

Mudah memang bagi saya untuk menuliskan ini semua. Saya masih sendiri, bekerja, dan bisa memenuhi semua kebutuhan primer sekunder tersier sendiri. Tapi disitulah tantangannya. Membiasakan diri untuk tetap low key, berhenti belanja impulsive, dan menahan diri untuk hanya pada hal-hal esensial.

Karena pada akhirnya saya menyadari, apalah artinya punya penghasilan yang tinggi, jika disertai dengan tekanan, stress, pressure, yang juga tinggi. Membuat tidur tidak tenang, mimpi tidak nyenyak, dan jodoh tak kunjung terlihat.

lol

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …