Skip to main content

Mengosongkan Gelas, Berjalan dalam Seimbang

Apakah kita sudah sepakat bahwa hal-hal paling berharga justru datangnya bukan karena dibeli dengan uang?

Jika ya, saya ingin cerita sedikit tentang hari-hari saya yang belakangan terkesan 'menua' oleh beberapa teman.

***

Akhir tahun menjelang, saya -sebagaimana penduduk dunia lain- bersiap menyambut tahun yang baru. Awal tahun yang selalu dipenuhi harapan, misteri, dan praduga.

Jika boleh sedikit tengok ke belakang, akhir tahun selalu saya rayakan bersama teman-teman. Dengan merekalah saya mengikrarkan janji-janji untuk bisa hidup dengan lebih baik lagi. Tahun lalu, saya habiskan waktu di Jogja. Membawa adik perempuan yang menolak keluar rumah untuk menyaksikan pesta kembang api. Jadilah saya saksikan bersama segerombolan kawan SMA, yang kini sudah berpencar mulai dari Surabaya hingga Manado.

Dua tahun lalu saya habiskan di rumah seorang sahabat di Tangerang. Keluar rumah untuk ikut ramai di jalan, lalu terjebak selama empat jam di tengah kemacetan. Paginya, kami membuat kue basah, sambil berjanji untuk tidak lagi keluar rumah di malam tahun baru. Kini, dia sudah menikah dan dikaruniai putra yang sangat tampan.

Tiga tahun lalu, saya habiskan pergantian tahun di lapangan sempur, Bogor. Bersama seorang teman SMA dan pacarnya (saat itu mereka masih pacaran, dan tahun berikutnya mereka menikah. Kini sudah dikaruniai dua orang putra yang lucu-lucu). Pun setelah macet dan ramai luar biasa itu, saya berjanji dalam hati untuk tidak mau bertahun baru di luar lagi.

Maka tahun baru kali ini, demi ajakan seorang teman SMA yang baru kembali menginjak Indonesia setelah dua tahun lamanya, saya memberi syarat tuk tidak usah kemana-mana. Malas membayangkan betapa riuh ramainya orang-orang menyoraki kembang api - yang tanpa disoraki pun sudah ramai-

***

Dari ketiga pergantian tahun di atas, saya menarik benang merah bahwa sebetulnya, yang membuat tahun baru saya berkesan, bukan karena dimana tempatnya, tapi dengan siapa saya menghabiskannya.

Lalu ketika satu persatu kawan tersebut menaiki tangga yang berbeda, hal yang terlintas pada saya adalah: "wah.. Kita pernah melewatkan momen ini bersama. Sekarang dia sudah melanjutkan langkahnya"

Dan momen yang terekam, selamanya akan terputar. Tanpa perlu menyisakan jejak, seperti foto dalam pigura.

Sejatinya begitulah cara memori bekerja. Adanya, pada apa yang kita rasa. Bukan apa yang kita lihat.

Be present, not buy the present. Kita bisa habiskan seumur hidup untuk bekerja dan mencari uang, tapi kita tidak akan pernah bisa mengembalikan momen-momen yang hilang.

***

Setelah menyadari hal di atas, saya mulai kehilangan minat pada perayaan tahun baru. Alih-alih ikut ramai turun ke jalan, saya menyibukkan diri mengisi rumah kecil yang akan saya tempati, mulai pergantian tahun nanti.

Ya, saya memilih untuk benar-benar memulai hidup yang baru. Dengan cara berpikir yang baru. Dan uniknya, saya langsung diuji oleh semesta tadi siang.

Jadi begini,

Saya sudah mendaftar apa saja yang menjadi kebutuhan dalam rumah. Hal-hal esensial yang membuat diri saya nyaman dalam berkegiatan sehari-hari. Sebut saja: kasur dan ranjang, pelindung jendela (tralis, curtain, dan penyangganya), pelindung pintu dari nyamuk dan tangan jahil, kompor serta peralatan masak, mesin cuci, ac, dan kulkas.

Kasur, ranjang, dan tralis sudah tunai saya bayarkan. Di beli satu persatu, dengan pesanan khusus (custom). Tinggallah peralatan elektronik, yang tidak bisa custom. Masalahnya, saya memang agak sedikit perfeksionis dalam hal ini; its either buy the best or not at all. Saya tidak mau beli barang elektronik murah, tapi cepat rusak. Karena nanti harganya akan sama mahal juga dengan perbaikan-perbaikan.

Mulai dari mesin cuci. Saya ingin yang front-loading. Sudah terpatri di benak saya jauh hari, bahwa kalau beli mesin cuci harus yang front-loading. Kenapa? Karena itu yang terbaik.

Saya berkeliling, bahkan hari ini saya berkeliling jauh hingga ke Surya Kencana dan Ekalokasari (meskipun tidak ada satupun yang saya singgahi saking macet dan ramainya jalanan serta toko dan mall), untuk mencari harga pembanding. Nihil. Semua mencantumkan harga yang mirip-mirip. Beda limapuluh sampai seratus ribu saja.

Hingga sore hari saya mulai berpikir, untuk apa front loading? Padahal keyakinan saya sudah kuat untuk membeli mesin cuci front loading. tapi di tengah jalan saya kehilangan alasan. Kenapa front loading?

Saya terus berpikir sambil memutuskan untuk pulang ke rumah. Rumah yang masih kosong. Saya ingin tahu, apakah memang saya butuh mesin cuci atau ingin mesin cuci. Jika butuh, maka apakah harus yang front loading? Lagipula selain harganya yang termurah-pun-tetap-mahal, saya tidak menemukan mesin cuci dengan model yang spark joy ketika disentuh. Semua merk mesin cuci front load, tidak ada yang berhasil menyatu dengan frekuensi saya, dan membuat bunyi click! This is the one di dalam hati. Justru adanya di mesin cuci top loader, yang di desain dengan warna hitam elegan, dipadu padankan dengan abu-abu metalik. Wuih..

Dalam perjalanan pulang saya terus berpikir, berdialog dengan diri sendiri. Bahwa masih ada kebutuhan lain yg harus saya penuhi, dan apakah mesin cuci ini yang benar-benar saya hendaki. Apakah saya akan senang jika membawanya pulang ke rumah? Atau justru terbebani?

Sampai di rumah, saya mulai berdiskusi. Saya bermain peran, seolah-olah saya adalah penghuni. Sembari meminta pendapat pada sang rumah, karena saya belum memiliki partner diskusi sebagai second opinion.

Entah bagaimana cara bekerjanya, yang jelas saat itu, sembari berbaring di atas kasur yang masih terbungkus plastik, saya menjadi yakin akan memilih yang mana. Dan itu berbeda total dari yang saya yakini sebelumnya; top loader.

Dan benar saja, ada rasa lega luar biasa setelah transaksi selesai ketika membeli sebuah top loader berwarna hitam-abu-abu metalik. Penjelasan fitur-fitur oleh sales hanya bumbu penambah keyakinan, dan tidak sama sekali menbuat saya berubah pikiran untuk berpindah lagi ke front loader.

Selanjutnya saya berpikir untuk menerapkan hal yang sama pada barang-barang elektronik lain yang akan saya beli.

Dan juga menerapkan hal yang sama pada pola pikir dan cara pandang saya terhadap segala sesuatu yang terjadi selama ini.

***

Kadang kita begitu yakin dengan apa yang sudah kita yakini. Kita begitu yakin bahwa hanya itu satu-satunya yang membuat kita bahagia, sehingga menolak untuk 'melirik' yang lain. Melirik opsi-opsi lain yang justru lebih nyata. Kita begitu yakin dengan pilihan awal, padahal belum tentu kita tahu bagaimana cara mewujudkannya.

Sampai pada satu titik keinginan itu membuncah membesar, dan membuat kita tertekan. Karena ada ketidak seimbangan antara keinginan-dan kemampuan. Saya ingin sekali front loader, tapi budget saya hanya leluasa untuk top loader, sempit sekali jika dipaksa untuk membeli front loader.

Jika saat itu saya yakin dan nekat membeli front loader, sudah tentu sekarang saya tidak bisa menulis ini dengan tenang karena memikirkan sisa tabungan yang tipis sekali untuk kebutuhan lain yang masih berbaris rapi dalam daftar tunggu.

Untuk menjadi seorang minimalist, kita tidak perlu memiliki banyak kemampuan dan strategi khusus. Cukup dengan menguasai teknik "mengosongkan gelas". Antara gelas isi dan gelas kosong, kebanyakan dari kita adalah gelas penuh. Tanpa sadar kita telah dibutakan dengan keyakinan yang sudah kita genggam sejak kecil, sehingga menolak ide-ide baru, nasihat-nasihat baru, yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan yang kita yakini.

Flexibility adalah yang harus bisa seseorang kuasai dalam menjadi minimalist. Menjadi lentur dalam menghadapi benturan-benturan masalah, agar tidak terlalu sakit ketika jatuh berdebum. Pasalnya, masalah dan benturan itu selalu ada. Jika kita selalu memaksa, maka yang ada adalah kita kelelahan dan kesakitan, tapi tidak mendapat apa-apa karena dalam lelah dan sakit, bahagia pun akan sulit. Jika tidak bahagia, bagaimana kita bisa menikmati apa yang ada? Bagaimana kita bisa menikmati hasil jerih payah kita bekerja?

Uang memang bukan sumber bahagia, tapi pengaturan yang tidak bijak (menerobos memaksa memenuhi keinginan oleh karena keyakinan yang sudah terpatri), bisa membuat seseorang menjadi tidak bahagia.

Mungkin.. Sesekali itu pula yang perlu kita terapkan dalam evaluasi mimpi-dan cita-cita kita sebagai seorang individu yang penuh ambisi.

Pada hal-hal yang ingin dicapai, tapi belum bisa tercapai karena tidak tahu bagaimana cara mencapainya, mungkin mata kita harus dibuat sedikit melirik arah lain, peluang lain, dan menerima masukan lain sebagai gelas yang isinya sudah dikosongkan. Lalu libatkan hati dalam proses penentuannya. Bahagiakah kita jika pilihan itu kita ambil?

Dan selalu yakinlah pada hati kecil. Bisikan-bisikan jujur, yang seringkali tertutupi oleh Ego.

***

Bicara soal bisikan, saya jadi teringat enam bulan yang lalu, saat pertama kali saya menginjakkan kaki di rumah kontrakan yang saya bagi dengan seorang housemate. Saat itu kami belum terlalu saling mengenal, dan sedang menjelaskan diri masing-masing kepada satu sama lain.

Saya langsung merasa klik pada kali pertama housemate saya menjelaskan tentang dirinya. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mengiyakan, untuk pindah kesini. Klik yang sama ketika saya memilih mesin cuci top loader sore tadi.

Saat itu, di sela-sela obrolan, kita masing-masing menyelipkan harapan. Tentang pasangan, yang masih berupa kanvas kosong bagi kita berdua. Sebagai sesama perempuan single, kami saling mendeskripsikan kriteria pasangan yang kami damba.

"Aku maunya stranger. Totally new guy, gak peduli temen-temen nya siapa, masa lalu nya bagaimana, lingkungannya seperti apa, selama kita cocok sih.. Aku ayo!" Begitu ujarnya dengan penuh keyakinan. Saya mengangguk mengiyakan, sembari mengutarakan kriteria saya. Tanpa perlu membantah kriterianya, atau pun merasa lebih benar. Masing-masing saja.

Saat itu, entah ada angin apa, saya merasakan sesuatu. Bahwa hal baik pasti akan terjadi dalam bulan-bulan ke depan kita tinggal serumah.

Dan benar saja.. Enam bulan kemudian,.. Tepatnya minggu lalu, housemate saya resmi dipinang oleh seorang lelaki asing-tidak berasal dari lingkarannya selama ini, yang baru kenal sejak awal Mei, dan dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan.

Benar-benar orang baru, yang bahkan profesinya pun sangat berkebalikan dengan yang selama ini housemate saya tahu. Dalam hati saya bersyukur telah menjadi bagian yang menyaksikan proses ajaib ini. Membuat saya percaya bahwa bisikan-bisikan kecil dan jujur yang datangnya dari lubuk hati terdalam, adalah sesuatu yang bisa terwujud.

***

Minimalism adalah tentang menyeimbangkan antara hal yang sudah kita yakini (dalam hal ini adalah keinginan; bahwa kita yakin ingin ini) dan alternatif pilihan lain yang lebih memungkinkan, namun tidak mengurangi kadar bahagia yang kita rasakan.

Semua itu agar seimbang. Seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Kemampuan dan kemauan.

Orang mudah stress jika mau nya besar, tapi kemampuannya kecil. Seperti orang yang amat ingin mendaki gunung, dan yakin bahwa dia ingin mendaki gunung, tapi kakinya lumpuh dan berjalan pun tidak mampu. Yang ada nanti dia hanya bisa jengkel dan iri pada orang-orang yang mendaki gunung, dan terus menerus bergumam "saya juga ingin mendaki gunung". Padahal ada banyak hal yang bisa dia lakukan selain mendaki gunung.

Ingin sekali menjadi gubernur, tapi tidak tahu bagaimana caranya mencalonkan diri. Massa tidak punya, uang pun pas-pasan. Kenapa tidak melirik alternatif lain, mencoba peruntungan dalam dunia bisnis, lalu terkenal, dan punya banyak uang. Selain menyibukkan diri, berbisnis juga menempa pribadi. Sibuk itu penting bagi seseorang yang tengah mendamba. Agar ia lupa pada apa yang mengungkung hatinya.

***

Bicara soal kungkungan hati, tahu bagaimana mahar seorang perempuan dinilai kemuliaannya?

Bukan dengan harga mahal, kilogram emas atau mukena mewah. Tetapi pada kemudahan, dan tidak mempersulit calon pasangan. Mulia adalah wanita yang memudahkan mahar bagi calon suaminya. Dan calon suami, mulia ketika menghargai calon istrinya dengan usaha terbaiknya.

Begitu indah Islam diciptakan dalam mizan, atau keseimbangan. Menilai effort sebagai bukti ketulusan, bukan mewah pesta dalam balutan topeng irama.

Saya pun sebagai perempuan, tentu amat menghargai effort, meskipun sedikit. Apalagi banyak. Seperti seorang laki-laki yang berusaha keras menghapal surah Ar-Rahman, untuk diberikan sebagai mahar pada pengantin perempuan. To me, that is the ultimate happiness I want to deserve. If I deserve that kind of effort.

***

Kalau tadi itu bisikan jujur housemate soal pasangannya, apakah saya perlu juga menuliskan bisikan jujur saya soal kriteria pasangan saya?

Haahha.. Ah tidak usah lah ya. Biar saja dia datang dengan sendirinya, jika Semesta telah mengizinkan.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …