Skip to main content

Manusia Hemat Energi

Energi itu jelas mahal. Orang sekarang berlomba-lomba menciptakan teknologi hemat energi, the so-called environment friendly. Agar kita tidak melulu ketergantungan dengan bahan bakar, dan membuat bumi semakin rusak.

Tapi bukan Energi itu yang saya maksud disini.

Ini adalah tentang menghemat energi seseorang, dalam menghadapi khalayak ramai. Lingkungan sosial, yang terkadang bisa menjadi senjata pembunuh paling sadis.

Society, begitu artikel-artikel menyebutnya, adalah sumber tekanan terdahsyat yang bisa diterima oleh seseorang. Harus ada energi lebih yang kita keluarkan, untuk bisa tampil baik-baik saja di depan mereka. Society menuntut kita untuk berlaku baik, sopan, meskipun sedang sedih harus tetap bahagia, ramah, dan norma-norma terkemuka lain yang sering diajarkan dalam mata pelajaran PKK.

Energi yang dikeluarkan oleh seseorang ketika pura-pura bahagia, tentu berbeda dengan energi yang dia keluarkan ketika dia betulan bahagia.

Padahal sudah lumrahnya bagi manusia untuk tidak melulu merasa bahagia. Tapi society tidak peduli tentang itu. Bagi mereka, sedihmu adalah milikmu. Bahagiamu yang kita butuh.

***

Boleh saja kalau society hanya menuntut yang tadi disebut. Bahagia, baik-baik saja, itu masih wajar.

Tidak wajar adalah ketika yang mereka tuntut adalah; kesuksesan, harta melimpah, pesta yang mewah, dan standar hidup yang borjuis.

Ketika sedikit-sedikit mendengar bisik tetangga, membicarakan betapa jelek mobil yang kita kendarai. atau tentang betapa pagar rumah kita sudah rusak tapi tidak juga diperbaiki. Atau tentang pesta pernikahan kita yang biasa-biasa saja, seolah tidak menghargai.

Saya yakin, di dalam diri setiap kita ada sejumput rasa takut. Takut jadi bahan omongan orang, kalau-kalau kehidupan kita tidak sesuai dengan arus yang mereka ciptakan.

Don't worry. You're not alone.

Energi yang perlu kita keluarkan ketika meladeni semua ketakutan di atas, adalah besar sekali. Sangat besar, dan melelahkan. Saat kita sedang punya uang, maka kita akan terus menerus menghabiskannya demi memenuhi keinginan society.

Saya pernah berada dalam posisi akan menikah, mempersiapkan segala sesuatunya sendirian, (yang belakangan ini saya sadar betapa salah dan tidak adilnya itu), sambil diliputi perasaan takut oleh pemikiran orang- or society.

Saya takut dibilang tidak mampu, karena menyelenggarakan pesta yang biasa-biasa saja. Saya takut pesta saya tidak berkesan dan terlupakan begitu saja, karena tidak mewah se mewah di gedung (depan) istana. Saya ingin semua berjalan lancar, disenangi dan diingat banyak orang, tanpa cemoohan apalagi bisik-bisik di belakang.

Lalu saya lelah sendiri. Karena selain energi yang saya keluarkan untuk berkeliling kesana kemari memasuki setiap gerai-gerai pernikahan dan wedding fair, saya pun harus mengeluarkan energi untuk menyiasati cara berpikir society dengan situasi yang ada.

Saya menjadi mudah sakit, sering uring-uringan, kurus, dan tidak bahagia.

Beruntung masa itu sudah lewat, genap dua tahun lalu. Dan sudah banyak sekali yang saya pelajari sepanjang dua tahun transisi ini. Disini saya tuliskan, khususnya untuk mereka yang hendak menyiapkan pernikahan.

Sis..

Masa sekarang ini, orang mudah sekali menghakimi satu lain. Cemoohan, tuduhan, atau bisik-bisik belakang menjadi sedekat ujung jempol. Orang tinggal bikin grup, bersekongkol dengan sesamanya, lalu menertawakan semua yang mereka bisa tertawakan. Termasuk kamu.

Apa itu buruk?

Selama hal itu tidak kita lakukan terhadap orang lain, maka tenang saja. Tidak usah pusing dengan mereka yang sedang memakan daging saudaranya sendiri (alias ghibah). Asalkan kita tidak melakukan hal yang sama.

Seperti selingkuh. Jangan takut pasangan kita akan selingkuh, selama kita sendiri tidak selingkuh.

Kita hanya bisa mengontrol hal-hal yang terjadi pada diri kita. Tidak bisa mengontrol orang lain apalagi mulut dan hati nya jika mereka sendiri susah mengontrolnya.

Pesta pernikahan, bukan ajang tuk impressing people. Karena orang yang tidak suka dengan kita, akan selalu bisa menemukan cacat dan kekurangan dalam pesta kita, semewah apapun itu. Pesta termewah pun pasti ada kekurangan. Tapi orang yang benar-benar sayang dan sejati tuk kita, tidak akan peduli pesta kita akan seperti apa, yang dia pedulikan adalah seberapa bahagia kita di pelaminan sana.

Sedangkan orang yang biasa-biasa saja dengan kita, hanya akan peduli pada makanan, salaman, lalu pulang. Dekorasi dan sebagainya hanya dilihat sepintas tuk dipakai foto lalu selebihnya hilang.

Jadi untuk apa repot-repot menghabiskan energi, impressing people we don't like, or we barely know. Fokus saja pada mereka yang menyayangi kita. Orang tua, kakak, adik, bahagia mereka saja yang kita tuju.

Bukan sebaliknya, impressing strangers tapi bikin orang tua tertekan karena harus keluar budget berlebih. Duh..

***

Sesekali perlulah kita berlatih tuk menghemat energi. Tuk keluar dari lingkaran tak bermanfaat, yang kerjanya hanya menertawakan kehidupan orang. Karena berkumpul dengan orang-orang seperti itu, kelak jika kita tidak berkumpul dengan mereka, kitalah yang akan jadi bahan tertawaan..

Islam pun mengajarkan tuk hanya berkumpul dengan orang-orang baik. Sudah niscaya bagaimana your vibe attracts your tribe. Pilih-pilih teman bukan karena kita tidak mau membuka diri, tidak mau open mind, but because not everyone deserves a seat in your table.

Dengan sendirinya mereka yang tidak se frekuensi akan pergi menjauh. Alasan yang sama juga akan mendekatkan mereka dengan vibe selaras, yang saya sebut dengan click.

Bukankah sudah biasa, hidup adalah tentang datang dan pergi. Jadi bukan berarti memutus silaturahmi, hanya menjaga mana yang lebih sering berinteraksi.

Memelihara energi untuk tetap utuh secara positif, akan semakin dibutuhkan ke depan. Saat teknologi semakin gencar menciptakan robot, dan manusia semakin kehilangan arah pegangan. Generasi Z, yang paling patut kita lindungi energinya. Dan melindungi energi mereka, membutuhkan energi kita sendiri, yang banyak sekali.

***

Kita menghabiskan banyak energi untuk meladeni orang lain. Kenapa tidak kita simpan untuk diri kita sendiri, sebagai satu-satunya orang yang peduli? Bahwa semua orang akan pergi, jika waktunya telah menghampiri. Tapi diri sendiri? Saat mati pun kita kan sendiri.

Menyimpan energi untuk diri sendiri, berarti mengutamakan diri sendiri dalam berbagai pilihan. Kita pilih A karena kita suka A. Karena A spark joy buat kita. Bukan malah pilih B, karena B lebih populer dan sebagainya. Apalagi Z.

Kuncinya adalah click dan spark joy. Once we follow the heart to the click and the joy, that's when we know, we're saving our energy.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …