Skip to main content

Makhluk Paling Posesif

Be good to people, you don't know in whose prayer your name was mentioned. 

***

Akan selalu ada hal baik yang terjadi ketika seseorang berani membuat keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan besar itu tentu menakutkan, dan tidak jelas bagaimana ke depannya. Taruhannya adalah rasa nyaman yang sudah terbangun bertahun belakangan, yang tanpa sadar sudah menjebak dirinya dalam stagnansi. Seolah berlari, tapi tidak pernah pergi. Lelah, tapi tidak membawa kemana-mana.

Setiap orang pasti menyukai kepastian. Gaji tetap, pengeluaran seimbang, pemasukan menjanjikan, sehingga untuk memutuskan untuk mengambil langkah yang berbeda pun akan takut. Lebih takut ketimbang menghadapi kenyataan bahwa life is just a routine. Same traffic, same people, same coffee,  mengulangi hari yang sama begitu seterusnya.

Tapi ketika ada orang lain, yang membuat pilihan besar dalam hidupnya, yang menurut pengamatan kita adalah keputusan yang aneh, kita mulai bertanya-tanya. Mempertanyakan kewarasannya, tepatnya. Sebutlah seorang perempuan berkarir baik, punya potensi dan kecerdasan, kemudian memilih mundur, dan pindah ke pedesaan, berjualan bunga, sayur dan buah. Mungkin sebagian orang akan bilang 'dia sudah gila, meninggalkan kemapanan hidup di kota hanya untuk membuka warung kecil yang nampaknya tidak begitu laku'. Padahal, bisa jadi itu adalah jalan damai yang dia ambil agar bisa menikmati anugerah-anugerah sederhana yang selama ini ia dapatkan dengan cuma-cuma.

Pada akhirnya orang yang sudah jauh tinggi terbang, akan sadar bahwa hal-hal membahagiakan datangnya dari kesederhanaan. Dari tangan-tangan mungil yang menyapa lembut setiap pagi, dari seduhan teh dan kopi beserta ubi goreng hangat mengepul sore hari, yang itu semua tidak akan di dapatkan dengan terus menerus mengejar materi di kota besar penuh gemerlap konsumerism. Tidak akan selesai masa usia jika dipakai hanya untuk mengejar dunia. Itu yang 2017 sudah coba ajarkan pada saya.

Berapapun besarnya penghasilan seseorang, tidak akan pernah cukup tabungan untuk membeli apa yang kita sebut sebagai kebutuhan. Karena definisi kebutuhan kian menanjak seiring penghasilan. Jika dulu handphone masih lah barang tersier yang dikategorikan sebagai 'keinginan' maka kini handphone sudah menjadi 'kebutuhan' karena semua pekerjaan mengharuskan penggunaan alat komunikasi.

Biaya sekolah anak yang mestinya dikumpulkan sejak anak tersebut di dalam kandungan, habis terpakai karena terus menerus mencari alasan untuk bisa membeli barang-barang 'kebutuhan' yang semakin lama semakin tersier. Tas mahal, sepatu mahal, menjadi butuh karena tuntutan pengguna.

Ah, betapa kita ini adalah makhluk Tuhan paling posesif. Selalu ingin memiliki dan tidak pernah mau kompromi. Egois.

Pikiran kita selalu terpatri pada 'harus memiliki benda ini agar bisa bebas menggunakan benda tersebut' dan keinginan untuk memiliki itu terus menerus bertambah dan bertambah seiring dengan pertambahan gaji dan tunjangan.

Tapi seringkali kita lupa pada hal-hal dasar yang seharusnya kita miliki; relation. Hubungan antar manusia dan hubungan dengan Sang Pencipta. Kedua hubungan ini mestinya menjadi tolak ukur kekayaan seseorang, bukan malah kepemilikan terhadap benda-benda (tapi biasanya itu sih yang paling mudah terlihat).

Seberapa baik dia me maintain hubungannya dengan keluarga, say.. the parents? We're so busy growing up that we forget they're growing older, kata kutipan di instagram sih begitu. Seberapa sering kita bertukar kabar, sekedar bertanya bagaimana harinya hari ini? Tidak? Ya, karena kita lebih peduli dengan kabar 'seseorang' lain yang belum tentu akan menjadi milik kita suatu hari like.. "hey babe, how's your day?" padahal bukan pacar. 

Dalam Islam, kita mengenal aturan bahwa ketika seseorang mati, maka Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh(HR. Muslim no. 1631)

Sedekah jariyah adalah yang dilakukan semasa hidup, dan terus menerus digunakan sehingga mengalirkan manfaat, ilmu yang bermanfaat hanya bisa ditularkan ketika orang lain menggunakan apa yang telah kita sampaikan, dan doa anak yang sholeh hanya bisa didapatkan.. ya jelas.. jika kita sudah menikah dan punya anak. Tidak satupun benda mati, kecuali jika dipergunakan dan bermanfaat oleh orang lain yang manfaatnya akan tetap mengalir meski seseorang sudah meninggal. Jadi kalau sekarang masih menabung sepatu di rak tapi tidak pernah digunakan, ayo mulai di sumbang-sumbangin. Try to discarding dengan menggunakan metode Marie Kondo, dan teori spark joy nya. 

Karena tempat terindah bagi seseorang, bagi saya pribadi terutama, bukanlah di sebuah rumah mewah dan besar (yang tidak ada artinya jika dinikmati sendiri). Tempat terindah adalah untuk bisa berada di dalam doa seseorang, diam-diam. 

Sebagaimana seorang perempuan yang selalu menyelipkan doa untuk jodohnya yang meski belum terlihat, meski ia tidak tahu siapa laki-laki itu, tapi dia yakin bahwa pastilah dirinya yang terbaik yang sudah Tuhan tentukan semenjak ia dilahirkan. Doa yang diselipkan dengan amat yakin, bahwa Tuhan mendengar doanya, serta mengabulkannya di waktu yang tepat, sembari ia bersiap. 

Tempat terbaik bagi seseorang adalah pada doa-doa yang tanpa sadar telah menolong nya ketika sibuk melanda, ketika kesulitan menerpa. Seseorang tidak pernah tahu doa siapa yang tengah Tuhan jawab ketika panggilan interview kerja berdatangan bagai hujan, atau ketika sang direktur memanggil untuk memberi kenaikan pangkat, atau ketika sedetik terselamatkan saat nyaris menabrak truk pengisi minyak. Tidak. Kita tidak pernah tahu doa siapa yang datang di saat-saat sulit untuk menyelamatkan kita. Jangan terlalu berpongah bahwa itu adalah doa kita sendiri, terlalu yakin bahwa doa kita sendiri yang menyelamatkan kita. Untuk itu Islam selalu menganjurkan untuk saling mendoakan sesama, karena langit bekerja bagai pantulan cermin. Satu sinar, akan memantul ke segala penjuru, bahkan ke si pendoa itu sekalipun. 

***

Ada satu lagu, yang saya suka sekali. Dari sebuah band indie asal Surabaya (saya juga dikenalkan oleh teman) yang lirik-liriknya ngena sekali. Judulnya; Doa 1

Duh Gusti, dulu kala semasa ‘ku remaja, // “nothing else matters,” katanya Metallica. // Sebab hidup, Gusti, kadaluarsa jika hanya berisi nasehat mama-papa.

Sering, Gusti, aku bertanya-tanya sendiri, // kenapa sih mama tenggelam di televisi, // mengunyah iklan menelan mimpi. // Sabar, mama, tunggu aku masuk ke layar tivi.//  Dan inilah nyanyianku.// Semoga mama belum tua saat aku mencapainya.
 

Duh Gusti, aku kesasar di jalur indie // Terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci.

Musisi, Gusti, musisi, // bukan jadi penjaga distro kayak gini.
 

Duh Gusti, pernah ‘ku mencoba peruntungan, // dana pas-pasan pokoknya bikin rekaman. // Kuliah, Gusti, kutelantarkan // atas nama musik dan hidup yang penuh kebebasan. 

Dan inilah nyanyianku.
Semoga usia belum tua saat mencapainya.
 

Duh Gusti, kini ‘ku mulai lelah jadi musisi.// Jiwaku remuk terteror televisi. // Aku cemas, Gusti, suatu nanti, // aku berubah murahan seperti Ahmad …
 

Janggalkah, Gusti, perasaan marah ini // saat nalarku direndahkan televisi?// Lihat itu, Gusti, lihat itu,// b’rapa harga tawa mereka di balik layar tivi? // Dan inilah nyanyianku
 

Semoga usahaku lancar, berkembang, ber-cuan, // perlahan aku bisa mewujudkan // ziarah ke tanah suci, tanah impian // Dan inilah nyanyianku. // Semoga terkenal, terpandang, dan banyak uang.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …