Skip to main content

Minimalism dalam Islam

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang tertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Katakanlah, "Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (QS Ali 'Imran ayat 14-15)

***

Petikan ayat suci di atas menunjukkan betapa agama (dalam hal ini Islam), juga telah mengajarkan tentang konsep minimalism. Hadir di tengah-tengah kehidupan kita dalam bentuk pedoman, buku petunjuk, yang sering dianggap Kitab Suci. Karena memang demikian. Kitab dari Sang Maha Suci. Hanya mungkin kita sering lupa membaca pedoman/buku petunjuk, sebagaimana kita langsung membuka dus alat elektronik dan menggunakannya tanpa merasa perlu repot-repot berjibaku dengan buku kecil bertuliskan 'PANDUAN'.

Ayat pertama jelas menggambarkan kesenangan dunia, disebutkan juga harta benda dan hewan ternak sebagai sumber kebahagiaan. Namun di ayat kedua, tertulis mengenai hal baik sejati yang semestinya kita kejar, dan itu berupa surga-surga dan sungai-sungai serta pasangan-pasangan suci. Tidak disebutkan adanya 'benda benda bertumpuk' itu lagi.

Berarti memang..

Kita tidak akan bahagia dengan adanya benda-benda. Tidak dengan banyaknya unta-unta. Tapi dengan nilai-nilai tak terukur dari hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan alam, yang menghubungkan titik komunikasi kita dengan sang pencipta.

Di akhir ayat kedua.. (Dan biasanya yang disebut terakhir adalah yg paling sederhana namun krusial), yaitu rida Allah.

Minimalist, dengan mengurangi sebagian besar benda-benda yang tidak lagi bermanfaat baginya, akan hidup dalam ruang-ruang nyaris kosong, sehingga ia dengan mudah mendapati dirinya mengejar bahagia tanpa benda. Mengejar bahagia dengan mengutamakan koneksi dengan sesama manusia, koneksi dengan alam sekitar, koneksi dengan diri sendiri, yang berujung pada koneksi dengan Sang Pencipta.. Agar Dia meridai.

***

Jangan sampai uang membuat kita lupa untuk berbuat baik. Mengabaikan kesehatan, dan lupa untuk bersenang-senang. Jangan sampai pekerjaan membuat kita saling sikut, apalagi melakukan hal-hal yang Tuhan tidak senang.

Jangan sampai uang membuat kita larut dalam kesendirian, merasa betah tanpa sandaran, karena takut pasangan hanya akan memenuhi ruang bebas yang selama ini kita agung-agungkan.

Hidup tidak seremeh itu untuk hanya dihabiskan mencari uang. Dan Tuhan tidak setega itu membiarkan kita miskin meski mengejar rida dan pahala-Nya.

***

Rasulullah SAW bersabda, "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita salihah. Jika suaminya memandangnya, dia (istri) menyenangkannya. Jika suami memerintahnya, dia menaatinya. Jika suaminya tidak berada di sisinya, dia senantiasa menjaga dirinya dan menjaga harta suaminya." (HR Muslim, An-Nasa'i dan Ibnu Majah).

Dalam hadits lain juga disebutkan..

Rasulullah SAW bersabda, "Kawinilah wanita yang (memiliki sifat) penyayang dan yang melahirkan banyak keturunan karena aku akan bangga dengan jumlah kalian yang banyak sebagai umat terbanyak pada hari Kiamat kelak." (HR Hakim)

***

Waktu terus berputar, dan tanpa sadar kita sudah berjalan sedemikian jauh. Jika enggan melihat kebelakang, maka teruslah melaju. Bersama bumi yang terus berevolusi. Menengok tidak perlu, meski sesekali, apalagi menyimpan benda-benda yang dulu pernah digunakan dan sekarang tidak lagi.

Kita maju, kita berevolusi. Kita jatuh, tapi harus bangkit lagi. Kenapa?

Karena Tuhan tidak suka mereka yang berputus asa dan kehilangan harapan. Minimalist, akan memenuhi hatinya bukan dengan benda, melainkan dengan jasa. Yang kenangannya melekat meski sederhana.

Kita mati, meninggalkan nama. Bukan gading, maupun belang.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …