Skip to main content

Growing Pain

Selasa malam kemarin saya di whatsapp oleh seorang rekan, perempuan tangguh, early thirties, dan biasanya tidak pernah manja. Dia meminta saya menemaninya untuk minum bir. Saya bereaksi cepat, karena tahu ada yang tidak beres. Woman who drink in the middle of the week (it was Tuesday, tho), is never okay. 

Hal pertama yang saya tanyakan adalah apakah hubungannya dengan sang kekasih baik-baik saja? Dia menjawab datar melalui pesan tertulis, 'ya'. Jadi sebetulnya ini bukan lagi soal hati. Pasti jauh lebih buruk, begitu saya pikir. 

Saat itu saya sedang di grocery store, pukul setengah sembilan malam, baru pulang kantor, belum sempat ke rumah ganti baju apalagi mandi. Keranjang belanja masih kosong (baru terisi susu dan indomie, typical), saya buru-buru menuju kasir. I said, if a friend need me, I'll have to be there as long as I can. Karena saya belajar dari seorang rekan yang lain, tentang betapa dia mendahulukan temannya ketimbang pekerjaannya. Sejak itu saya tahu, the real value of life is not in money, or things (that I shop), it's the people who filled it with. 

Pukul setengah sepuluh saya baru tiba di coffee shop yang dijanjikan. Teman saya duduk bersandar dengan wajah murung. Dalam pesannya dia bilang "I need a hug" so I get into the room, and hug her right away. 

Dia tampak lelah. Cerita pun beraliran. Dimulai dari pekerjaannya yang kian membaik - dan memburuk - sekaligus, sampai ke perasaannya yang cawut-mawut, tanpa bisa digambarkan. 

Saat itu juga saya paham apa yang dia tengah rasakan. Saya pernah melalui fase yang sama, when I have no idea what's going on in my life, where is this all heading to. Namun saat itu saya memilih untuk menghabiskannya sendirian, cuti, dan pergi jauh ke luar kota. Sendirian hanya untuk tidur siang beberapa hari. Jadi di ruang kopi bergaya modern itu, saya duduk dan mendengarkan tutur keluhnya, tanpa merasa perlu untuk memberikan saran karena saya tahu, dalam posisi seperti itu orang hanya ingin di dengar. Karena sebenarnya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Bersyukur, bersabar, ah.. nasihat-nasihat yang sebetulnya tanpa diutarakan orang lain pun yang bersangkutan sudah tahu. Jadi saya memilih diam dan mendengar, sambil menanggapi sesekali, memastikan bahwa ia tahu saya mengerti.

***

Pernah saya dikirimi artikel oleh housemate, tentang perasaan tidak menentu semacam itu, yang bisa tersinggung oleh hal sepele, sebabnya karena seseorang hendak mengalami suatu perubahan besar dalam hidupnya. Benarkah?

Saya menyebutnya sebagai growing pain, seperti anak kecil yang mau tumbuh gigi, akan melewati fase demam-demam terlebih dahulu. 

Mood serasa naik turun, kadang semangat, sedetik kemudian sendu lagi. Bingung, khawatir, dan tidak bisa tidur. Padahal apa yang dibingungin, apa yang di khawatirkan, tidak jelas juntrungannya. Sedikit-sedikit ingin break, butuh hiburan dan terus menerus mencari pelarian. Tapi tidak juga menyembuhkan. Seperti rindu seseorang, tapi tidak ada yang dirindukan. Seperti menginginkan sesuatu tapi tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. 

Ya, 

Namun setelah itu.. pasti ada keputusan besar yang seseorang itu ambil di dalam hidupnya. Keputusan besar yang tidak pernah ia duga sebelumnya. 

Growing pain membuat seseorang menjadi berani mengambil resiko, dan itu adalah salah satu tanda kedewasaan. Jangan takut dan jangan lari. Embrace it, and face it. Karena dialog-dialog yang terjadi dalam diri sendiri selama melewati fase itu, adalah introductory pada diri kita yang baru. Kita semua tengah menggeliat bertumbuh, menjadi pribadi-pribadi yang demikian berbeda dari yang teman-teman kita kenal setahun, dua tahun, bahkan sepuluh tahun yang lalu. 

***

Saat ini saya pun tengah mengalami growing pain yang sama. Yang saya simpan dan saya terjemahkan dalam bentuk tulisan-tulisan. Saya berdialog dengan diri sendiri, dan kadang itu membuat saya jadi kesal sendiri karena tidak pernah menemukan solusi. Disitu saya sadar, benar yang teman saya katakan, sehebat apapun seseorang dia akan tetap butuh orang lain untuk second opinion, bukan saja karena orang tersebut lebih hebat atau lebih pintar, tapi karena orang lain akan memandang dari sudut yang berbeda. Kelengkapan informasi dari berbagai sudut itu sangat membantu kita untuk mengambil keputusan-keputusan kecil maupun besar yang terbentang masih panjang. 

Dalam fase growing pain ini, saya memutuskan untuk berhenti. Berhenti dari rutinitas yang selama ini membuat saya betah hidup sendiri. Alasannya? Biar saya simpan sendiri. Karena saya yakin tidak banyak yang akan mengerti. Beberapa orang hanya akan menghakimi, dan beberapa lagi hanya ingin tahu lalu tidak peduli. 

Saya berhenti, dan saya tahu besar sekali resiko yang harus saya hadapi. Karena saya kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi satu-satunya sumber bahagia pengisi hari. Tapi keputusan ini harus saya ambil, jika saya ingin maju dan membuat progres. 

Apa saya sudah punya rencana setelah ini? 
Tidak.

Sudah tahu akan kemana?
Belum tahu. 

Saya bahkan tidak pernah punya waktu untuk menyusun jadwal dan rencana perjalanan saya sendiri. Terlalu sibuk menyusun jadwal serta rencana perjalanan project demi project, yang kemudian berakhir dengan.. ya.. begitu-begitu saja. 

Tapi entah kenapa saya yakin, ada sesuatu yang baru dan lebih besar jika keputusan ini saya ambil. Fase ini mendekatkan saya dengan energi yang selalu ingin saya akses, dengan kehadiran Dia Yang Maha Mengetahui dan Memiliki seisi semesta. 

Jika seseorang yakin pada-Nya, mestinya tidak perlulah terlalu khawatir akan seperti apa esok hari. Bahkan kita pun tidak tahu akan sempat menikmati matahari besok atau lusa. Jika saya pernah bilang 'You can rest when you die' maka sekarang saya bisa bilang 'that shit was a camouflage of my lack of ability to enjoying the moment'. 

Saya tidak ingin, mati di usia dua puluh lima, tapi baru dibenamkan ke tanah di usia tujuh puluh lima. 

***

"waktu memang jahanam, kota kelewat kejam, dan pekerjaan.. menyita harapan. Hari-hari berulang, diriku kian hilang" Silampukau - Doa1

Don't lose your self. In the middle of anything you're working on your life,. don't lose the excitement you used to own.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …