Skip to main content

Fiction of an Affliction

"Bu, aku ingin jadi seperti tante itu" ujar seorang gadis kecil dari balik jendela. Rambut panjang nya dikuncir kuda, berpita merah. Sang ibu hanya menengok sekilas, sambil sibuk menyuapi bungsunya yang masih bayi.

"Kenapa?" Sang ibu bertanya singkat, mencoba tetap berkomunikasi meskipun si bayi terus menerus mengeluarkan suapan makanan yang ia berikan.

"Tante itu keren" jawab si gadis kecil masih memandangi rumah di seberang mereka dari balik jendela. Rumah itu dihuni oleh seorang perempuan muda, pertengahan usia dua puluhan yang hidup sendirian. Jendela dan pintunya terbuka, membuat gadis kecil itu dapat melihat dengan jelas aktivitas yang sedang dilakukan olehnya. Tampak ia seperti sedang bersiap menghadiri sebuah acara penting, sibuk berdandan dan mempersiapkan segala aksesoris yang hendak digunakan.

"Aku mau jadi seperti tante itu" gumam gadis kecil lagi "mandiri, hidup sendiri, tidak merepotkan ibu, bisa cari uang sendiri, dan tidak perlu meminta uang pada ibu"

Sang ibu tersenyum mendengar mimpi gadis sulungnya. Sambil mengelap tumpahan makanan yang ditampik oleh bayi bungsunya, sang ibu berkata

"Kalau nanti kamu hidup sendiri, ibu bagaimana?"

"Ibu nanti kan bisa sama ayah"

"Kalau ibu rindu? bagaimana?"

"Nanti aku datang"

"Tapi kan beda kalau datang sesekali dengan tinggal bersama seperti ini?"

Gadis kecil itu terdiam. Di dalam benaknya, hidup mandiri adalah hal paling hebat yang kelak akan ia raih. Mimpi terbesarnya adalah menjadi seorang yang merdeka, tidak bergantung pada siapapun, tinggal di sebuah rumah milik sendiri, dan mengatur segala sesuatunya sendiri.

"Bagaimana kamu tahu bahwa tante itu tidak kesepian?" tanya si ibu lagi, memandang mata bundar gadisnya yang menggemaskan. Jauh di dalam hatinya, si ibu mengakui bahwa kelak akan tiba saat bagi gadis kecilnya untuk menjalani hidup yang ia impikan, dan itu artinya, gadisnya akan terlepas dari pelukannya. Gadis kecil itu barulah delapan tahu, namun si ibu sudah ingin menangis membayangkan tahun-tahun yang akan cepat sekali berlalu.

"Memangnya tante itu kesepian, Bu?" Gadis kecil itu balik bertanya. Si Ibu mengangkat bahu,

"Entah. Kenapa tidak kamu tanyakan saja sendiri?" ujarnya sambil tersenyum. Sang gadis kembali melempar pandangan keluar jendela, kini si perempuan muda hampir sepenuhnya siap untuk pergi. Ia mengambil ponselnya berkali-kali, lalu berdiri menunggu. Ini kesempatan, pikir gadis kecil.

Ia berlari keluar rumah, menyambar sandal sekenanya, dan melompat memasuki halaman rumah perempuan muda.

"Hai tante," sapa gadis kecil itu riang.
"Hai Aleesya," balas perempuan muda itu tersenyum. Cantik sekali, pikir sang gadis. Ia terkesima dengan lipstik yang digunakan oleh perempuan muda itu. "ada apa, kok kamu senang sekali?" lanjutnya.

Aleesya mendekat dan melihat barisan kuku warna warni terpasang di jemari perempuan muda. Cantik sekali. Ia sangat ingin bisa mendapatkan itu semua, tanpa membebani ibunya.

"Tante, Aleesya mau tanya.."
"Ya, sayang.. ada apa?" kini si perempuan muda telah berdiri di depan Aleesya.
"Tante kesepian gak?" tanya Aleesya tanpa basa-basi. Rasa keingintahuannya besar sekali terhadap tantenya yang ia kagumi.

Air muka perempuan muda itu berubah dalam sepersekian detik. Ia kaget dengan pertanyaan yang terlontar tiba-tiba tersebut. Namun buru-buru ia tepis dan kembali menyunggingkan senyum yang baik.

"Loh? Kenapa Aleesya bertanya seperti itu?"
"Kan tante tinggal sendirian, apa tante tidak kesepian, tinggal sendirian dan tidak ada teman?"

Perempuan muda itu menghela napas dalam, mencoba tersenyum. Ia ingin menjawab dengan jujur. Jauh di dalam hati, ia pun menginginkan seorang teman yang bisa menjadi tempat berbagi cerita. Ketika beban pekerjaan semakin berat, ia pun ingin ada orang yang bisa mengerti letihnya tanpa ia perlu mengeluh. Perempuan muda itu terdiam, menatap Aleesya dengan senyum. Berpikir keras bagaimana caranya menjelaskan pada gadis kecil yang sangat penasaran ini.

"Aleesya, tante senang Aleesya menanyakan keberadaan tante. Kalau ditanya kesepian, tante tidak kesepian. Kan meskipun tante tinggal sendiri, di sini ada Aleesya yang sering main kalau sedang libur. Ada Ibunya Aleesya yang suka bikin kue-kue enak.."

"Ooooh.." Aleesya berusaha tampak paham, meskipun ia masih belum percaya. Anak kecil, entah bagaimana menjelaskannya, tahu betul ketika seseorang berkata jujur atau sedang menyembunyikan sesuatu. Aleesya bisa menangkap sinar sedih terpancar dari tante baik hatinya.

"Aleesya khawatir ya sama tante?" tanya perempuan muda itu berusaha menyembunyikan getar dalam nada suaranya. Aleesya mengangguk diam. Mata bundarnya memancarkan keingintahuan, tapi juga keinginan yang tidak tergambarkan. Perempuan muda itu memeluk Aleesya erat. Hatinya perih menahan tangis, menahan rindu pada sesosok anak yang belum ia miliki. "ah.. terimakasih ya Aleesya. Tante senang sekali ada yang khawatir sama tante" Aleesya balas memeluk perempuan muda itu.

Hari masih terlalu pagi untuk adegan berpelukan. Tapi perempuan muda itu tidak peduli. Air matanya sudah menggantung ketika tangan mungil Aleesya balas mendekapnya hangat. Ada kenyamanan yang menjalar, yang membuatnya semakin tersiksa.

"Aleesya suka sama tante," gadis kecil itu mulai mengakui tujuannya "Aleesya ingin jadi seperti tante. Mandiri, bisa mengatur segala sesuatunya sendiri, tante juga sering bepergian sendiri. Baju-baju tante juga keren. Aleesya suka. Tapi Aleesya takut, kalau hidup sendirian, nanti Aleesya sepi.."

Perempuan muda itu mengelus rambut Aleesya pelan, mulai paham rasa keingintahuan gadis kecil di seberang rumah.

"Iya.. Aleesya nanti akan bisa seperti tante. Asal Aleesya rajin belajar, dan menuruti apa kata orang tua. Nanti Aleesya mungkin tidak akan kesepian, karena Aleesya akan punya banyak teman tapi tetap bisa mandiri"

"Tante punya teman?"

"Oo tentu. Tante punya banyak sekali teman. Mereka memang tidak tinggal bersama tante, tapi kami sering berkomunikasi. Sesekali, kalau tante sedih, teman-teman tante akan menghibur tante dengan berbagai cara. Juga kalau mereka sedih, tante akan menghibur mereka dan menguatkan mereka. Nanti Aleesya akan mengerti, mana teman yang benar-benar sejati untuk Aleesya, dan mana yang hanya untuk sementara."

"Aleesya punya tante juga, tapi dia sudah menikah. Om nya baik deh, suka belikan Aleesya coklat. Tante kenapa tidak menikah?"

Pertanyaan sulit lainnya.

Perempuan muda itu tetap tersenyum, memandang wajah gadis kecil yang sangat ingin tahu. Ia ingin mengakui betapa ia menginginkan sesosok anak kecil yang bisa ia rawat dan ia jaga. Yang bisa ia curahkan cinta. Cinta yang masih teramat melimpah, yang ia sendiri tak tahu bagaimana menyalurkannya. Ia ingin tangan-tangan mungil yang hangat, menggenggamnya ketika letih. Ia ingin percakapan antusias, yang membuka jendela-jendela baru untuk wawasan muda.

"Nanti kalau tante menikah, Aleesya belum tentu loh bisa main sama tante lagi" jawabnya sambil menyentil hidung Aleesya pelan. Keduanya tertawa. Aleesya memeluk perempuan muda itu sekali lagi. Hatinya lega sudah, setelah mendapat jawaban meskipun ia yakin tidak utuh.

Aleesya berpamitan, sambil berlari melompat menuju halaman rumahnya. Sang Ibu masih sibuk menidurkan bungsunya sebelum memberesi pakaian yang berserakan akibat ulah adik kedua Aleesya yang baru berusia empat tahun.

Perempuan muda itu menunggu hingga Aleesya benar-benar masuk ke rumah, berdiri tersenyum dengan pikiran tidak karuan. Ponselnya berdering beberapa kali, namun ia hiraukan.

Dia masuk ke dalam rumah, setitik air mata mulai turun perlahan. Buru-buru ia seka dengan tissue agar tidak merusak make up yang telah ia pakai sepagian. Air mata kedua turun menyusul. Ketiga, keempat, dan seterusnya tanpa bisa dibendung.

Ia berusaha meyakinkan dirinya, bahwa ini pun akan berakhir. Bahwa Tuhan tidak diam, dan Tuhan Maha Mendengar. Tuhan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Perempuan muda itu menutup pintu, bersandar dan terisak. Berbisik bertanya, akankah ia kuat? Meminta-Nya untuk menguatkan hati dalam cobaan yang seakan tidak berujung ini.

Perempuan muda itu sadar apa yang telah diperbuatnya di masa lalu. Ia tahu ada banyak kesalahan yang ia perbuat, dan itu termasuk menyakiti hati beberapa orang. Ia tahu itu salah. Namun ia juga tahu, hal itu dia lakukan tanpa sadar. Sehingga kini ia ragu, akankah dia masih pantas untuk mendapatkan bahagia yang ia dambakan?

Ponselnya berdering untuk kesekian kali. Seorang rekan yang hendak menjemputnya telah memasuki gerbang perumahan. Mereka telah lama bersama-sama, namun ia menolak untuk disebut sebagai pasangan. Terlalu rumit untuk berteka-teki, dan ia sudah lelah bermain hati. Perempuan muda itu mengangkat telepon, dan menggumamkan beberapa kata agar sang rekan menunggunya bersiap.

Telepon ditutup.

Ia berbisik,

Dear God, please.. no more temporary people. I'm tired. 

***

Note:
Cerita ini hanya fiktif, jangan terlalu diambil hati. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …