Skip to main content

Coincidence? Think Not

Kali ini saya ingin bercerita tentang hari-hari belakangan yg sungguh amat mind blowing sekaligus bikin napas tertahan, tak henti berucap syukur sambil geleng-geleng kepala.

Jadi begini..

Akhir tahun semua serba padat. Jadwal padat, penerbangan padat, kondangan pun padat. Seolah-olah setiap orang ingin buru-buru menyelesaikan sesuatu untuk berganti di tahun yang baru. Padahal selesai tidak selesai, tahun baru tetaplah hari yang sama. Sama-sama 24 jam, tidak bertambah atau berkurang walau semenit.

Saya pun ikut-ikutan hectic mengatur jadwal disana dan disini. Ada dua project penting (yang melibatkan urusan administrasi di negeri tetangga), dan rapat tahunan staff yang amat menentukan posisi prestasi di tahun selanjutnya.

Semua itu harus saya siapkan, mulai dari kebutuhan personil hingga scheduling. Jadilah saya mengatur seperti ini;

11-14 Desember project A, 12-22 Desember project B. Namun krn sy terlibat di project B, dan harus ikut rapat tahunan tanggal 17-20 Desember, maka saya dan bos akan pulang pergi ke site Project B.

Begitu rupanya saya menjadwalkan untuk diri sendiri: 12-16 Kalimantan, 17-20 Sentul, 21-22 Kalimantan.

Saya geleng-geleng sendiri karena semua rangkaian rencana yg sudah saya atur sedemikian rupa, bisa diubah-ubah oleh Sang Maha Pemilik Semesta, tapi tetap.. Diganti dengan lebih baik lagi.

Mulai dari jadwal 12-16 yang bergeser menjadi 12-17 yang artinya saya begitu mendarat harus langsung berganti koper menuju Sentul. Lalu tiket pesawat tim yang mestinya pulang tanggal 22 Des habis terjual bahkan di H-5, sehingga terpaksa tim harus menunda kepulangan sehari di tanggal 23.

Dijadwalkan kita akan Closing Meeting pada tanggal 21 (saya dan bos kembali ke Kaltim untuk meeting, lalu 22 pulang. Rencana awal. Tapi karena bergeser tanggal 23, jadi saya pikir ada waktu luang satu hari utk memberesi laporan).

Tanggal 21 saya terbang dari Jakarta, dengan penerbangan paling pagi pukul lima. Mendarat di Balikpapan pukul delapan, lalu delay 10,5 jam dengan Garuda. Meeting batal, saya baru terbang pukul setengah delapan, dan mendarat di Berau pukul setengah sembilan.

Untung tiket tanggal 22 sudah habis, jadi tim pulang tanggal 23. Sehingga kita bisa manfaatkan tanggal 22 untuk meeting pagi-siang, dan ada sedikit waktu untuk istirahat (buat tim tidur siang).

Sampai sini saya masih senyum-senyum sendiri. Betapa benar bahwa semua yang terjadi disini, sudah ada yang mengatur dan mengawasi. Ah.. Untuk apa khawatir lagi.

***

Kemudian kabar bahagia datang bertubi-tubi. Dari segala penjuru, lamaran dan pernikahan muncul terpatri di media sosial.

If you can't find happiness in your own, find in another person's. Saya turut berbahagia, terharu dan menitikkan air mata ketika seorang teman mengikat cincin di jemari lembutnya. Dia yang cantik dan pernah gagal membangun hubungan, kecewa tapi tidak patah semangat, akhirnya menjadi tempat berlabuh bagi seorang pejuang.

Pun housemate yang sering saya ceritakan, akhirnya menentukan pilihan dan menjatuhkan keputusan.

Belum lagi teman terbaik saya yang akhirnya menemukan hati yang ia cari, pada teman terbaik kami semua.

Dibalik padatnya jadwal dan pesawat-pesawat yang harus saya kejar, saya mendapati diri bahagia ditengah-tengah bahagia milik orang lain.

Dengan begitu saya jadi tahu, betapa small gestures yang ditampilkan oleh org yang sedang berbahagia, bisa berdampak positif dan menularkan energi baik.

***

Tidaklah sesuatu itu terjadi diatas bumi melainkan sepengetahuan Allah Pemilik Segala Kuasa. Dia Tahu bahkan jika ada daun kering sehelai pun jatuh.

Minimalist akan terus berusaha meyakinkan diri pada kebenaran-kebenaran semesta. Menikmati momen yang ada, karena ia tahu berpikir terlalu panjang belum tentu berbuah kesenangan. Bahwa tidak semua hal bisa kita rencanakan. Pun sebaik-baik manusia berencana, Dia lah yang akan menentukan.

Dalam Islam, ada kalimat Insya Allah, yang artinya; apabila Allah mengizinkan. Namun sering disalah artikan dengan: mungkin. Padahal Insya Allah adalah kalimat janji pasti, yang hanya Allah yang bisa membuatnya batal.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …