Skip to main content

Change!

Saya selalu dibuat terkagum dengan cara Semesta bekerja. Keajaiban-keajaiban kecil yang saya jumpai sehari-hari, membuat saya selalu yakin bahwa tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Mungkin bagi para penganut Tak-bertuhan akan menganggap probability sebagai kunci, namun probability pun tidak akan bisa menjelaskan, mengapa peluang-peluang itu muncul dan saling cross path satu sama lain. Semesta tidak se-gamble itu bermain peran.

***

Sejak menulis post yg berjudul Growing Pain, jauh di dalam hati sebenarnya saya semakin merasa gelisah. Tapi karena saya tidak tahu apa sebabnya, maka gelisah itu saya buang jauh-jauh. Saya netralisir dengan berbagai cara, termasuk kembali pada Yang Maha Kuasa melalui cara-cara yang Dia suka.

Satu pertanyaan yang membuat saya tidak tenang adalah 'untuk apa semua ini?' Yang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan serupa; untuk siapa, akan kemana, dan seterusnya.

Mungkin karena pengaruh usia yang masih (belia) middle twenties inilah saya seperti sedang sakit-tumbuh gigi.

***

Saya tidak ingin kehilangan diri saya sendiri di tengah-tengah kesibukan yang kian menggila. Apalagi sampai mengorbankan waktu yang mestinya dihabiskan untuk bahagia. Ada porsi-porsi tertentu yang harus saya penuhi sebagai perempuan bekerja, yang juga masih berstatus anak dari seorang ayah. Namun porsi-porsi itu kadang dikorupsi oleh perasaan tanggung jawab berlebihan, yang baru saya sadari belakangan ini, ternyata itu hanyalah realisasi dari inkompetensi saya dalam me-manage pekerjaan.

Semesta kemudian mempertemukan saya dengan jadwal yang sudah diatur sejak lama. Rapat kantor tahunan, yang kali ini dibawakan dengan nuansa berbeda. Ada coach kenamaan yang akan mengajarkan mengenai strategi management. Yang, tanpa saya duga (karena saya malas baca rundown), terselip juga acara muhasabah.

Whoa.. Memang perusahaan kami perusahaan kecil, dan kebetulan orangnya muslim semua. Jadi mudah menyatukan bahasa ketika si pelatih susah mulai membahas ayat-ayat Al-Quran.

Coach ini mengajarkan tentang makna. Dalam muhasabah juga disinggung tentang makna. Berderai air mata sejak pertama lampu dimatikan dan Nama Tuhan diperdengarkan. Sejak kita dimintai ampun tentang dosa-dosa masa lalu. Saya menangis terisak meskipun sudah tahu dan sudah punya ekspektasi tentang bagaimana jalannya muhasabah.

Bukan kebetulan hari ini saya duduk mendengarkan mereka secara bergantian lalu menangis oleh pertanyaan yang sama.

Saya selalu bisa dibuat takjub jika menyadari betapa besar pengaruh minimalism terhadap karakter saya selama enam bulan terakhir.

***

Lalu ada sebuah perpisahan. Ada juga permulaan yang baru. Semua tidak lagi sama, sebagaimana roda yang terus berputar, berubah.

Namun apapun itu, every change is for the better. Things always get better. Always. (Cika)

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk