Skip to main content

2017

Hari ini saya dibuat takjub oleh indahnya sungai jernih yang mengalir ke laut. Meski berada di hilir, jernihnya masih bisa menampakkan dasar air yang berpasir dan dihuni ikan-ikan kecil. Maha Besar ciptaan Tuhan, Dia yang menganugerahkan ini semua dengan cuma-cuma, dan kita yang terlalu sibuk meninggalkan-Nya untuk dunia. 

***

Tahun akan segera berakhir, pesta-pesta diskon dan bonus-bonus belanja sudah mulai menggema dimana-mana. Tiket pesawat mulai sulit di dapat, dan di saat yang sama harga-harga semakin melangit. 

Setiap toko, setiap outlet berlomba menjanjikan kebahagiaan dengan menampilkan harga se rendah mungkin. Semakin banyak anda beli, semakin hemat uang yang dikeluarkan. RIP logic. 

Sambil menulis ini saya teringat sebuah spanduk di satu ruko, yang saya baca sambil menunggu pesanan nasi goreng di godok oleh abang super berkeringat dan hanya pakai kaos dalam warna putih (ehem -_-). Daripada membayangkan yang tidak-tidak seperti keringatnya menetes indah di adukan nasi goreng saya, mengalihkan pandangan pada apapun yang bisa saya baca, selain handphone. Disana tertulis: Sehabis lebaran kehabisan dana? Jaminkan surat-surat anda disini, proses mudah, cepat cair, dan cicilan ringan, sehingga kalau ada rejeki bisa tinggal di lunasi! 

Sedetik pertama setelah membaca itu saya masih belum mengerti. Di detik berikutnya baru saya senyum-senyum sendiri bukan karena si abang mulai mengelap keringatnya sambil mengangkat ketek ya. Logika berpikir seperti apa ini.. begitu ujar saya dalam hati. 

Jadi.. (ini saya mulai mencerna dan berpikir dari cara pikir si penulis iklan), jadi.. kita hari raya (lebaran sebutlah). Menghabiskan uang (karena hari besar selalu identik dengan membeli barang baru). Lalu keuangan menipis selepas lebaran, dan… kita berhutang!! Kita perlu berhutang untuk menutupi kenyataan bahwa kita tidak se-kaya yang kita tunjukkan di depan keluarga saat lebaran. Lalu, untuk melunasi hutang itu, kita mencicilnya sedikit demi sedikit selama setahun - atau dua - sampai lebaran berikutnya tiba??! 

Is it just me, or this is too stupid? 

Oops, pardon my words. 

Kenapa harus berhutang kalau memang kita tidak punya uang? Kenapa harus membeli berlebihan kalau pada akhirnya harus berhutang?

Minimalist bukan hanya milik orang kere seperti yang dituduhkan sebagian orang kepada mereka yang mulai menjalankan minimalism. Minimalist adalah hidup bersahaja dengan apa yang kita punya. 

Pak, Buk, apa tidak lelah terus menerus gali lobang tutup lobang untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan? Yang sebetulnya tanpa itu pun kita tidak lantas jadi mati atau jadi kehilangan harga diri. Pesta akhir tahun, diskon hari raya, sebetulnya hanyalah giringan marketing agar konsumen membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan, atau mereka butuhkan tapi dalam jumlah yang berlebihan. Excess is never good, saya baru tersadar setelah menggunakan krim malam berukuran jumbo, yang saya beli saat diskon (oh ya tentu saya juga masih membeli barang diskon ketika memang butuh), dan tidak ada krim ukuran kecil yang tersedia. Si mbak petugas juga dengan cepat menerangkan bahwa dengan harga yang sedikit lebih mahal, saya mendapat isi krim yang jauh lebih banyak, ditambah lagi sedang diskon. 

Sekarang baru saya sadar, saya tidak butuh krim sebanyak ini. Pada akhirnya jika sudah lewat masa tenggang krim ini akan expired dan dibuang dengan banyak sisa. Kecuali kalau saya olesi diatas roti tawar gandum campur nutela. -_-

Apa lagi yang dijanjikan lebih murah jika beli banyak? Pakaian? Makanan? Barang elektronik? Please don’t buy that. Guru matematika dan ekonomi kita di sekolah dulu akan menangis kecewa melihat anak muridnya membeli dalam jumlah banyak, berharap lebih hemat. Sedih. 

***

Hari besar seperti pergantian tahun atau hari raya, bukan untuk dinikmati dengan membeli barang. Bukan menjadi ajang menghambur-hamburkan uang untuk tujuan yang tidak jelas. Momen ini justru terbaik digunakan untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama orang yang dicintai. Bukan mengajak mereka makan di mall, lalu sibuk masing-masing dengan ponsel dan game masing-masing. Rumah, adalah empat dinding, yang berisikan pasang-pasang mata penuh cinta, dan debar jantung penuh sayang. Disanalah bahagia bersumber. Dari celotehan sederhana, dan permainan yang melbatkan semua anggota keluarga.  Yang bisa diperoleh tanpa harus menghabiskan uang dalam jumlah berlebihan. 

Kita tidak perlu mendidik anak kita sedari kecil untuk terbiasa berbelanja setiap kali mereka libur sekolah. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana mereka akan menghadapi hari esok, dengan atau tanpa kita.

***

Saya bersyukur berkesempatan menutup (menjelang menutup) akhir tahun dengan menyaksikan sendiri aliran sungai jernih luar biasa. Tidak terbayang bagaimana indahnya sungai yang dijanjikan Tuhan di surga, tapi  I look forward to see it. 

Saya juga takjub dengan transformasi yang telah terjadi melalui serangkaian perjalanan yang tak henti saya jalani selama setahun ini. Mulai dari Palembang di bulan Januari, hingga Kalimantan Timur di bulan Desember. If I look back, I almost not recognise my older self. 

Dua tahun lalu saya mengambil keputusan yang amat besar. Bimbang dan luar biasa sedih saat itu, persis seperti analogi tumbuh gigi dalam tulisan saya sebelumnya, growing pain. Saat ini, kembali saya dihadapkan pada pilihan besar yang harus saya ambil, namun dengan situasi yang agak sedikit berbeda. Jika dulu saya selalu tahu apa yang saya mau dan apa yang akan saya lakukan untuk meraihnya, kali ini saya hanya tahu apa yang saya mau, dan saya tidak tahu bagaimana setelahnya. Jika keputusan besar ini saya ambil, lantas apa? Jika saya memutuskan untuk berdiri di posisi A, lalu bagaimana? 

Sangat berbeda dari saya yang biasanya.

Namun entah kenapa ada keyakinan kecil dan amat kuat yang mendasari keputusan ini. Saya terus menerus mencari kejernihan berpikir agar keputusan ini bukan lagi keputusan impulsive seperti yang sering saya ambil, dan saya diberi jalan oleh Dia untuk menyaksikan air-air jernih di berbagai sudut kampung. 

Meski saya belum tahu apa yang akan terjadi setelah ini, dan belum punya rencana bagaimana mengatasi jika hal-hal berubah memburuk, anehnya saya tidak lagi grasak-grusuk panik dan serba mendung (ya mendung sih sedikit karena harus terlepas dari rutinitas yang biasa dilakukan), tapi selebihnya.. saya merasa ringan. 

Mungkin ini efek minimalism yang sedang terjadi di diri saya. Berhasil melepaskan, discarding sentimental item. Saya sebut sentimental karena rutinitas ini adalah hal paling berharga, paling saya damba, dan saya pertahankan selama ini. Tiba-tiba harus saya lepas, meski berat, untuk alasan yang saya sendiri pun tak tahu apa. 

***

Kita selalu ketakutan jika hidup dalam ruang kosong, sehingga kita senantiasa memenuhi dinding ruang dengan pernak-pernik yang dibeli dalam harga diskon atau murah atau berbonus. Kita takut hidup dalam ruang kosong, seolah kosong berarti tidak memiliki apa-apa dan akan sulit melakukan segala sesuatu. Pun kita takut hidup dalam ruang kosong, sehingga kepala tak henti berencana, lupa bahwa segala yang direncana punya Pengatur Sang Maha Memutuskan, yang hanya pada-Nya kembali segala keputusan dan rencana. 

Minimalist.. they let go, and have faith. That things will always get better, no matter how empty the room is. 


Things will always get better. Always (Kata Cika). 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …