Skip to main content

The Dialogue from Within

It takes courage to tell the truth. And whatever it is you're hiding.. I wish that one day, you'll find a way to tell it. 

***

Jangan remehkan the power of a good word. You may never know how deep a word bleed. Even though you got silent as an answer, never tired of spreading the good words. Berbicara yang baik, atau diam. Begitu pesan Rasul dalam ajaran Islam.

Karena hari ini, setelah mendung menggelayut sejak dini hari dan saya berangkat ke kantor kehujanan dan basah pukul sembilan, saya merasakan betapa terbantunya kalimat-kalimat baik yang dilemparkan oleh rekan-rekan melalui perpesanan singkat.

Mungkin sesederhana kalimat penyemangat agar bisa survive di hari ini seperti biasa, atau sesederhana pertanyaan singkat dari teman serumah yang sedang bertugas jauh di pulau seberang yang mengkhawatirkan keberadaan saya dan ancaman Badai Dahlia. Atau.. sesederhana ucapan selamat berakhir pekan, yang meskipun cuma bercanda.

Semua itu membuat saya berhasil menegakkan kembali sandaran kursi, melipat meja dan membuka jendela punggung yang sempat tertekuk dan senyum yang sempat memudar. Hari yang mendung, menjadi senyum-senyum, karena tahu bahwa masih ada kok orang yang peduli meskipun saya tinggal sendiri. Pun setelah matahari sudah jauh terbenam dan saya baru beranjak meninggalkan ruang kerja sekitar pukul delapan, berusaha menghilangkan beban pikiran dengan mengelilingi mall terdekat, senyum itu belum hadir hingga ada pesan singkat bertuliskan 'selamat berakhir pekan'. Selanjutnya saya berkeliling seperti biasa, memasuki semua gerai, dan pulang dengan tenang.

Kenapa hal-hal indah datangnya selalu dengan sederhana? Karena kebutuhan dasar manusia selain pemenuhan kebutuhan fisik, sebenarnya mudah sekali. Komunikasi. Saya percaya bahwa seisi semesta ini berkomunikasi, dengan caranya masing-masing. Kita saja manusia yang terlalu mengedepankan indera untuk saling memahami, sehingga lupa bahwa ada metode pembawa pesan yang jauh lebih dalam dan bermakna dari sekedar berbicara.

Ketika kebutuhan itu sudah terpenuhi, maka lengkap sudah hidup seorang manusia itu. Dia dalam pencariannya, fulfilling the gap between born and death, akan mudah berfokus pada tugas yang telah dititipkan sejak ia diciptakan. Tidak lagi perlu sibuk mencari pelarian, pelampiasan, atau penenang karena ia tahu kemana harus berpulang dan 'berkomunikasi'.

Benda-benda pun berkomunikasi. Itulah sebab kenapa benda tertentu akan mudah rusak jika tidak dirawat, atau jika mulai tidak diinginkan. Seolah tahu bahwa ia akan segera terganti, atau pemiliknya sudah tidak menginginkannya lagi. Mereka berkomunikasi, melalui partikel atom penyusunnya yang selalu bergerak. Beredar dalam orbitnya, yang teratur meski tampak acak. Perputaran, pergesekan, yang menimbulkan frekuensi-frekuensi, yang selaras dengan garis edar bumi terhadap matahari. Dalam dunia empat dimensi, maka frekuensi ini akan membentuk sebuah garis lurus berkesinambungan satu sama lain, yang dalam ilmu fisika diketahui sebagai String Theory.

Dalam Islam, hal ini juga bisa diterjemahkan sebagai 'benda-benda pun berdzikir pada Allah' tidak ada satupun benda yang tidak mengingat Tuhannya. Bahkan awan, angin, dan laut yang terlihat menakjubkan sekalipun, memuji Dia sebagai satu-satunya Dzat Yang Maha Kuasa.

Sekarang, siapakah kita, manusia, yang hanya memenuhi pikir untuk memenuhi hasrat semata, dan lupa kemana semua ini kan bermuara?

***

Berkeliling mall sendirian adalah satu-satunya saat dimana saya bisa berdua dengan diri saya sendiri. My most favorite person. Saya selalu suka menghabiskan waktu dengan orang yang bisa membuat saya lupa untuk menengok ponsel, dan dalam urusan nge-mall, orang itu adalah diri saya sendiri. I date my self, tonight. 

Kebiasaan ini sudah berlangsung selama empat tahun belakangan. Saya pergi ke mall, melihat-lihat setiap pajangan, memasuki setiap outlet, dan baru beranjak pulang menjelang tutup toko. Dua sampai empat jam adalah waktu yang saya butuhkan untuk sekedar berjalan berkeliling tanpa duduk sekalipun. Kadang saya makan, kadang benar-benar hanya berjalan berkeliling. Kalau dulu saya pasti membeli sesuatu, tapi sejak memilih minimalism, saya bisa tahu bagaimana berdialog dengan diri sendiri ketika menemukan barang yang tidak saya butuhkan, tetapi lucu dan affordable, dan disitulah saya mulai melatih mengendalikan diri.

Rupanya orang selalu lupa mengajarkan kita untuk menguasai kemampuan 'menikmati diri sendiri' enjoying your own company, is the basic survival skill you need. Yang tidak diajarkan bahkan dalam Diklatsar pecinta alam paling sangar sekalipun (ooiya saya tahu itu. Saya menjalankan pendidikan mapala selama dua belas bulan, setiap akhir pekan, dan hanya bolos sebanyak dua kali meskipun saat itu kaki saya sempat terkilir dan bengkak dan harus duduk menunggu di rumah pohon menonton mereka yang berlatih membuat api).

Your vibe attract your tribe, dan ketika kita menikmati diri sendiri, bahagia yang terpancar akan menarik orang lain untuk menikmatinya bersama kita. Dan itulah yang saya lakukan, semalaman ini demi menyambut akhir pekan yang datang tiba-tiba. (Saya terlalu berfokus pada deretan panjang tugas yang tak terselesaikan sampai tidak sadar bahwa besok adalah long weekend).

Setiap orang punya caranya sendiri untuk menenangkan diri, dan bukan berarti jika kamu sudah memilih untuk menjadi minimalist, otomatis sudah tidak bisa lagi pergi window shopping. Bisa saja, dan justru itu bisa jadi ajang menantang diri sendiri untuk menguji seberapa logis dirimu menghadapi hawa nafsu belanja yang disertai dengan iming-iming diskon dan cashback. (Moreover in year end sale. Ugh). 

Saya berhasil malam ini, dengan niat membeli sepasan baju untuk dipakai ke pesta, namun berakhir dengan hanya membeli sabun muka yang memang sudah habis. Baju batal dibeli, karena selain tidak ada yang cocok, juga saya pikir saya masih bisa mengkombinasikan apa yang ada di lemari. Dan jika saya beli satu baju, saya harus mengeluarkan satu baju yang dari tumpukan simpanan, dan saya tidak tahu baju mana yang harus saya sisihkan.

Begitu cara minimalist bekerja. Tidak melulu tentang berhemat dan mengurangi pengeluaran, tapi juga memutar otak agar tetap kreatif dengan memanfaatkan apa yang ada. Memaksimalkan apa yang ada, hingga benar-benar tidak berfungsi ketika masa nya tiba.

Banyak laki-laki beranggapan 'perempuan cuma bisa menghabiskan uang' yang saya dengar sendiri dari seorang rekan dalam perjalanan pulang dari bandara. Mendengarnya, seperti ditusuk pedang perang. Tapi saya harus akui, ada benarnya anggapan itu jika dilihat dari perspektif global.

Sayangnya, saya harus katakan bahwa, banyak juga perempuan yang pandai sekali mengatur perekonomian rumah tangganya. Mungkin dia banyak belanja, tapi dia juga pintar menghasilkan uang. Mungkin dia tidak pintar menghasilkan uang, tapi dia tahu caranya berhemat. Mungkin juga, dia pintar menghasilkan uang, tapi juga pandai berhemat tapi tetap tampil elegan dan berkelas.

Whoo,

If you're a man, and you have the last type I mentioned.. keep her. Never let her go. Women like that, once you betray their heart, they'll never return to you the same. 

Nyatanya perempuan yang justru bisa berhemat adalah perempuan yang hobinya belanja. Karena saking seringnya belanja, dia bisa membedakan mana produk bagus dan produk murahan. Tidak akan mudah tertipu dengan diskonan karena dia hafal nyaris semua daftar harga dalam benaknya. Dia tahu kapan diskon itu benar-benar diskon, atau diskon yang telah dinaik turunkan pakai katrol seperti hati. 

Dia juga tahu kapan waktu yang tepat untuk mendapat gratisan, buy one get one, buy two get cashback, add one thousand get two, dan seterusnya. Dia hapal momen dimana toko A yang menjual kebutuhan pribadinya akan memberlakukan harga rendah pada produk tertentu.

Tenang, perempuan seperti ini harus dibiarkan belanja sendirian. Semakin sering dia berpengalaman dalam belanja, semakin sedikit belanja-belanja impulsive yang dia timbulkan. (Percaya dulu saja, buktikan nanti pada pasangan masing-masing).

***

Komunikasi dan belanja, mungkin terkesan tidak ada hubungannya. Tapi pernahkah kita berpikir, kenapa belanja membuat kita bahagia?

Karena dalam proses belanja ada banyak dialog yang kita lakukan dengan diri sendiri. Dan ketika kita berhasil membuat keputusan, apakah akan membeli benda itu atau tidak, kepuasan yang didapat bukan saja karena berhasil membawa pulang barang baru, tetapi juga karena berhasil memenangkan diskusi. Dengan diri sendiri.

Dialog-dialog kecil dengan diri sendiri itulah yang kita butuhkan untuk menghadapi semua hal dalam hidup. Meskipun sudah berpasangan, belum tentu pasangan kita sepenuhnya memahami dan mengerti apa yang tidak terkatakan. This is a lifetime process, and the only person who'll understand you in and out, is your self. Take care of her first. 

***

Mungkin kebiasaan ini tidak akan hilang dari saya. Berkeliling di pusat perbelanjaan. Bukan saja mall. Bisa jadi pasar, pecinan, apapun yang terdekat yang bisa dijangkau.

Minimalism juga adalah lifetime process. Know your self, in the midst of being alone. Love the rain, while waiting for the storm to pass. When the rainbow comes in, the love you deserve will find you. Don't be afraid of the past. No matter how bad you were, The Almighty always forgive if you ask Him to. Find clarity at heart, only then you'll open a window you never knew exist. And that.. is the only window you've been searching for. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …