Skip to main content

Silence or Meaningless Talk

"Waah.. Hebat ya kamu kepikiran! Aku aja gak kepikiran!"

Atau

"Aku kan buruh nine to five, Senin itu berharga. Kamu enak freelance.. Everyday is Sunday. Hahaha"

Atau mungkin yang lebih familiar

"Sabar.. Dingertiin aja. Mungkin dia lagi ada urusan yang gak bisa ditinggalkan, dan juga kondisi nya dia lagi sakit/rusak alatnya"

Or worse..

"Berdoa aja, selipkan doa mu di setiap waktu. Aku berdoa dan kini terkabul."

But this is the worst:

"Ih kamu gendutan bangeet. Tuh liat perutnya"

"Yaampuun itu perut apa kantong kuda"

"Chubbu banget ih gendut. Dulu gak begini kok bisa sih"

"Diet dong makanya berusaha!"

***

Seberapa sering kita 'terjebak' dalam pembicaraan tanpa arti, yang sebetulnya tanpa sadar saat itu kita tengah merobek-robek perasaan seseorang?

Ya, saya juga masih sering. 2017 seolah memberikan sebuah cermin raksasa diletakkan di hadapan saya, sehingga saya paham kini. Bahwa banyak yang - tanpa sengaja dan maksud apa apa- terlontar dari mulut saya, telah melukai hati seseorang diam-diam.

***

Cara kerja hati memang sempurna. Dalam diam dan tanpa aba-aba bisa berputar haluan. Dan manusia, pandai sekali bermain peran. Bersikap seolah berteman, padahal menusuk dari belakang. Bersikap seolah gembira, padahal menangis tersayat.

Kalimat pertama yang saya sebutkan, bisa juga bermakna "saya lebih hebat dari kamu!" Meskipun tentu maksud pelontar kalimat adalah "kamu hebat bisa kepikiran hal itu" tapi dengan tambahan "aku aja gak kepikiran" bisa disalah artikan bagi hati yang berseberangan. Yah.. Jika mau dibilang hati yang negatif, ya silakan saja. Saya tidak mau terburu-buru menghakimi seseorang berhati negatif atau tidak hanya dari kesan-makna harfiah yang ia terjemahkan.

Kenapa?

Karena takaran hati berbeda dengan takaran beras. Tidak ada tolak ukur yang mutlak bagi seseorang untuk merasakan gembira yang sama atau sakit yang sama. Cara kerja hati masing-masing orang berbeda, dan tentu kita semua sepakat bahwa setiap orang pasti berbeda.

Begitu pun halnya dengan nasihat. Seberapa sering kita dicurhatin oleh seseorang, lalu berakhir dengan nasihat-nasihat yang sebetulnya melintas sepintas di benak kita?

Pernahkah terpikir bahwa orang yang sedang menceritakan permasalahannya ini telah memikirkan persoalan ini berhari-hari, berminggu bahkan berbulan-bulan sebelum dia memutuskan untuk bercerita pada kita? Dan ketika kita memberinya nasihat, nasihat itu hanyalah yang terlintas, yang baru saja terpikir oleh kita, dan.. Yah.. Tidak ada artinya.

Kecuali kalau dia memang datang untuk meminta nasihat. Beda cerita.

Menyuruh orang untuk bersabar bisa disangka kita menganggap dia tidak sabar.

Seperti kalau kita menyuruh orang untuk makan, itu karena kita beranggapan bahwa dia belum makan. Atau menyuruh orang tidur karena dia belum tidur. (Mana mungkin kita suruh orang yang sedang tidur agar tidur. Kecuali kalau tengah bercanda, dan tidak mungkin kita bercanda pada orang yang tengah kesulitan dan mencurahkannya pada kita, kan?)

Menasihati orang agar memahami kondisi orang lain, seolah menghakimi bahwa dia tidak pengertian pada kondisi orang lain. (Padahal siapa tahu dia justru sudah menahan emosinya dan mengendalikan pikirannya karena berusaha memahami kondisi orang lain itu).

Menasihati orang agar berdoa, apalagi dengan menambahi contoh diri sendiri yang doanya dikabulkan, sama dengan menganggap dia tidak berdoa dan "lihat doa saya dikabulkan nih"! No? Kamu tidak berpikir demikian? Well ya, itu menurutmu. Lain menurut orang yang menerima perkataanmu.

Mungkin saat ini kamu tengah berpikir bahwa orang-orang yang memaknai kalimat positif itu dengan makna negatif adalah orang yang hatinya negatif.

Tidak apa.

Kita semua adalah jiwa yang bebas dalam pikiran. Sebebas saya berpikir bahwa anda juga adalah orang yang negatif. Simple as that.

***

Karena orang positif dan memiliki sikap, tidak akan berlenggang kangkung seenaknya dan meminta dunia mengerti akan perilakunya.

Dia pun tidak akan selalu merasa benar dan selalu menjadi korban dalam setiap konflik yang menimpa.

Dan yang paling utama, orang positif akan bijak memilih kata-kata. Lebih baik diam ketimbang menertawakan fisik rekan lain, meskipun teman dekat sendiri. Think Twice before you talk.

Meski tidak semua orang bisa menikmati hening, setidaknya pilih topik yang tidak merobek perasaan orang lain.

Menertawakan fisik  tentu bukan pilihan bijak. Pun jika kita menertawakan fisik kita sendiri untuk mencairkan suasana, bukan pilihan bijak. Kenapa? Karena tidak semua orang akan berpikir sebaliknya (seperti yang anda ekspektasikan ketika sedang menjelek-jelekkan diri sendiri), dan tidak semua orang suka mendengar orang lain mempertontonkan kebodohannya.

Meskipun itu lucu. Ya. Lucu. Sangat lucu dan selalu berhasil membuat orang tertawa. Baik itu tawa lucu, tawa kasihan, atau tawa menghargai.

Yang jelas, momen ketika anda menertawakan fisik orang lain atau fisik anda sendiri, adalah momen dimana wibawa anda luntur perlahan.

Oh you dont care about prestige? Go on then. And leave us here.

***

Hal paling baik yang bisa seseorang lakukan untuk orang lain di muka bumi ini adalah: mendengar. Ear won't hurt you. Tidak seperti lidah yang dikenal tak bertulang namun sanggup mematahkan tali silaturahmi manapun.

Cukup dengan excuses yang tidak berguna. Tidak usah terlalu banyak menjelaskan apa yang kau anggap adalah pembenaran, karena orang punya waktu amat terbatas untuk mendengar.

Simpan saja nasihatmu untuk dirimu sendiri. Good if it works on you. Jangan buat orang lain berpikir kau sombong dengan kebaikanmu.

Tidak usah terburu-buru mengambil topik sepele dan remeh temeh untuk mencairkan suasana. The world has plenty of important things to talk other than your friend's stomach.

Did you know that flying cars are now operating in trial version? No? Because all you care about is your friend's stomach.

***

Hening hanya bisa dinikmati oleh dua orang yang serasi. Yang vibrasi nya menyatu dalam frekuensi yang sama. Sebelum kita bisa menikmati hening, (juga tanpa repot-repot mempostingnya di sosial media agar dunia tau kita sedang nikmati hening), maka sebelum itu juga kita bisa mengenal siapa kita sebenarnya.

Hanya sedikit orang yang sudah benar-benar menemukan jalannya. Kelahiran kedua, atau yang kita sebut demikian.

Kelahiran pertama adalah ketika ibu mengeluarkan kita dari rahimnya, menjadikan kita hidup ke dunia, bermain tanpa kenal usia.

Kelahiran kedua adalah ketika kita paham kemana arah tujuan kita. Setiap orang diembankan tugas yang berbeda, dan orang yang sudah mememukan tugasnya, akan kembali hidup dan menjalaninya penuh makna.

How beautiful is that.. Being born again. Knowing what we meant for.

***

Ya. Saya suka hening kini. Malu dengan saya yang dulu, yang tidak pernah inginkan hening. Tidak pernah berhenti bicara bahkan dalam situasi dramatis sekalipun. Saya malu,. Tapi kini saya tahu. Belajar dari kesalahan demi kesalahan yang membentuk saya menjadi orang yang baru. Yah.. Semoga saja begitu. Menjadi baru.

Tapi bukan berarti saya tidak punya selera humor. Saya masih suka tertawa. Menertawakan hal-hal sepele semacam sandal jepit terseret motor pagi tadi. Atau anak kecil yang mengaku environmentalist when she was only two (she even can't spell en-vi-ron-men-talist).

Atau Marvel. Ya. Selera humor Marvel. 😂

Anyway..

Minimalism adalah metode agar kita mampu mengendalikan diri. Memberi ruang untuk lebih banyak berpikir agar tindakan yang diambil lebih tepat dan bijak. Tidak terburu-buru apalagi sia-sia. Minimalism berarti juga memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena waktu, adalah mystery none can tell. Cepat ketika bahagia, lambat ketika senang, but above all.. It will never return.

Menikmati setiap detik, setiap saat hanya dengan hal-hal berguna. Melakukannya untuk diri sendiri, agar jika kita bahagia, sekitar pun akan tertular.

Jangan takut akan hening.
Hanya kelompok yang paham caranya menikmati keheningan bersama, akan mampu bekerja dalam ritme tanpa tanding.

For understanding is a rare thing,
You should have it for your self.

You know.. Rare is gold.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …