Skip to main content

Pay Less, Craft More

We've been waiting the entire life to be happy. Why won't we start today, fulfill the moment, and live life to the fullest?

Year end is coming, and as a newbie minimalist I should evaluate my self over and over again. 
I haven't declutter for the past two months. I got trapped into job, and I barely have no time for hobby. I am exhausted for no reason and still have so much work to do. 

Does it make me a failed-minimalist?

***

Before anyone put any judgment on me, I'll let the wind blow and move all the whisper out. Because I'm not living my life for other people. I'm doing this for me and my clarity. And it's so simple to be happy again after a frustrating days at work. 

One week in West Kalimantan, with limited signal and bunch of work, and ugly weather, I feel like drowning in the river of responsibilities. I have let go the dream I've kept for so long, I have releasing every ambition and live for nothing. Almost. 

Until I moved back to the town, having a small talk with a friend - meaningful one- and decided to start another new page. 

Moving out seems so easy to me now, because I haven't live in my own house yet. Maybe this month I'll proceed to move in, as the house building is getting cracks here and there of an emptiness. The idea of changing my life, is always fascinate me. I keep changing at every stage of life, thus.. require a different level of me. 

Thinking about starting a new life, I am now imagining an empty wall, and empty room. Soon enough, the room will be filled with clutter. With all my stuff I'll take. 

So before that happen, I have made some plan, to create DIY organizers.

I'll post it here later. 

So.. 

before you think that you're sad, or not yet deserve to be happy, remember this:

Every day, is our day. every minute, will never return. we are all waiting for death. And to fill the gap, we must do something beneficial, something that we can use. Instead of moaning, and crying (but it still ok to do that sometime), move your feet up on the ground and start creating stuff from left-over. used cloths, turns into napkin, used bedsheet turns into curtain, everything that you can use instead of throwing away. 

Despite of cheering our mood, this activity will help you get some saving. You don't have to buy lipstick rack because you can create it from used toilet paper cartoon. 

Look closer, and pay attention to little detail. Maybe, at some weird spot, you find what you've searching for. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …