Skip to main content

Minimalist Wedding


Kenapa saya menambahkan tulisan ini, karena saya tertarik dengan cerita seorang peserta diskusi di Union Yoga sore kemarin, mengenai pernikahannya yang cukup unik. 

Bertemu dengan suaminya melalui telepon salah sambung, lalu lima bulan kemudian menikah, yang disiapkan dalam waktu dua minggu, dengan total pengeluaran dua puluh juta, dan menghadirkan empat ratus lima puluh orang. Wow!

Mungkin ini terdengar terlalu ekstrim bagi sebagian orang, namun saya suka prinsip yang ia sebutkan (duh maaf saya lupa namanya, nanti kalau sudah ketemu akan saya link kan akun instagramnya), ia bilang bagus atau tidak bagus, kita pasti akan dikomentari orang. Karena dalam hidup, kalau bukan ngomentarin orang, yang dikomentarin. Jadi saya tidak masalah mau diomongin di belakang. Pun dia bukan bermaksud untuk mengajak orang mengikuti jejaknya, hanya mau berbagi bahwa bisa loh, di jaman sekarang menyelenggarakan pernikahan minimalist, meskipun anak pertama. 

***

Saya pribadi masih merasa insecure dengan konsep ini, sekalipun ingin sekali. Sejak pertama menemukan minimalism dan merasakan punya penghasilan lumayan -sebagai sebuah lonjakan pertama saya di awal karir- saya memendam keinginan untuk menikah secara minimalist. 

Yang saya rasakan kini adalah, semakin banyak penghasilan yang saya peroleh dari bekerja, begadang, sakit, kurang tidur, bolak balik bandara dan puluhan telepon tak terjawab, semakin sedikit uang yang ingin saya keluarkan untuk hal-hal yang kurang esensial. 

Semakin saya bisa mengerti yang mana kebutuhan, dan yang mana yang 'biar kelihatan keren'. Maka saya berhenti disitu. Berhenti di 'kebutuhan'. Apalagi kata founder Tangan di Atas (TDA), live below your mean. Artinya, ketika kita sanggup membeli seharga 100 jt, belilah 50 jt. Ketika sanggup membeli Fortuner tapi gak nabrak tiang listrik  maka dia memilih beli Avanza. Agar selalu ada selisih, dan bukan justru sebaliknya, karena tidak sanggup beli, maka pakai kartu kredit.

Gaya hidup over consumerism yang ditawarkan kartu kredit itu juga bisa jadi sumber ketidakbahagiaan seseorang. Dia bisa punya gaji besar, tapi tidak akan pernah cukup karena harus selalu membayar tagihan. Dan selalu tergoda untuk terus membeli karena kartu kredit memang menggiurkan. 

Tapi untuk bisa menyelenggarakan pernikahan minimalist.. apa mungkin?

Disamping saya anak pertama, saya pun cucu pertama untuk Eyang dan nenek saya (untuk Oma dan Opa saya sudah cucu ke tujuh belas jadi ya wasalam). Mereka amat menunggu kehadiran sang menantu, dan terselenggaranya pernikahan. 

Saya takut mengecewakan mereka dengan menyelenggarakan pernikahan minimalist, yang gaunnya hanya 10 ribu lalu dirombak oleh ibunya yang suka menjahit, katering hanya dengan tujuh juta, seserahan hanya dengan sepatu nike dan alat olahraga. (Oh itu pernikahan ala mbak tadi). 

***

Melalui Minimalism ini saya ingin sekali mengingatkan kepada mereka, bahwa bahagia sejatinya tidak bisa diukur dengan pesta mewah. Kecewa, mungkin ada kalau hidup hanya untuk opini orang. Tapi apa yang kita jalankan, adalah hidup kita sendiri. Opini mereka akan selalu ada meski pernikahan diselenggarakan di gedung mewah sekalipun. Ada orang tidak mau minimalist karena takut dianggap ah lu minimalist karena kere kan. Padahal kalau dia mau tidak peduli,. akan jauh lebih baik. Meski sulit menghiraukan komentar negatif yang ditujukan pada kita. 

Apalagi pada generasi yang selalu dibiasakan dengan pujian. 

Kembali pada esensi menikah. Untuk apa dan Untuk siapa? Jika jawabnya untuk ibadah, mestinya pengeluarannya bukan yang bikin resah ketika takbir hingga salam. Bukan yang membuat hutang, selepas pesta digelar. Bukan juga yang membuat bangkrut dan tidur dalam kost-kostan, selepas memberi makan ribuan orang tak dikenal. 

Sewajarnya saja. Jika memang mampu, silakan. Tapi jangan sampai dipaksakan. Jika sebenarnya mampu, tapi tidak mau, juga silakan. Karena kemampuan kita yang mengukur. 

Minimalist wedding itu mungkin, dan kita tidak butuh WO untuk mengaturnya. Cukup kita sendiri, dan pasangan. Hitung-hitung sambil menjajaki keburukan satu sama lain, kan kita hidup, selamanya bersama. Tidak mungkin ganteng terus kan suami kita. Haha.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert