Skip to main content

Menunggu

Satu menit, dua menit,
Sepuluh menit, lalu satu jam,
Yang ditunggu belum juga datang. Berulang kali kita meyakinkan diri sendiri, bahwa ini akan berujung. Dia akan datang,
Dua jam, tiga jam,
Hilang entah kemana. Kita masih duduk di tempat yang sama. dengan sabar menghintung derai awan.
Gelisah mulai datang, satu persatu menyapa menggoda..
'Mungkin dia tidak akan datang. Mungkin penantian inia akan sia-sia. Mungkin kamu harus beranjak dari dudukmu dan mencarinya'
Tapi tidak.
Kamu yakinkan dirimu untuk duduk menunggu. Karena demikian perintahnya, agar menunggu saja
Dia bilang dia pasti datang. Dia ada dan Dia yang menciptakan dia.
Empat jam, lima jam,
Kembali hatimu gelisah. Kamu mulai lelah. Dan mulai ingin menyerah.
Matamu terkantuk menahan perih, namun kau hibur hati agar tetap tenang di sisa hari.
Dia akan datang, begitu bisikmu.
Enam jam..
Sesosok muncul dari kejauhan.
Berdebar dada mu menatap bayangan yang mendekat.
Bahagiamu mulai buncah. Tenangmu mulai nyata.
Perlahan bayangan itu semakin jelas.
Semakin nyata.. Semakin jelas.
Kamu tetap duduk menunggu. Dengan sabar, menyiapkan senyum manis terbaikmu.
Kini ia telah dekat. Sangat dekat hanya berjarak satu depa.
Kalian bersapa.
Tapi bukan.
Kamu kembali duduk
Kecewa?

Nanga Kemangai, 24 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2