Skip to main content

Membangun Kembali Bangunan Runtuh

Setiap dari kita pasti punya sebuah bangunan, yang dibangun atas dasar kehati-hatian. Membuat orang yang beranjak kian dewasa kian waspada terhadap keputusan-keputusan yang hendak dia ambil. Bangunan itu dibuat untuk membentengi diri, dari sakit hati yang membutakan. Bukan depresi yang membuat orang bunuh diri, tetapi kesedihan dan kesepian. 

Membentengi diri pemicunya adalah sakit hati, yang mengarah pada kesedihan. Kamu pasti mengerti jika sudah pernah sakit hati, bahwa kejadian serupa tidak ingin terulang lagi. Maka ketika itu terjadi, pelan-pelan secara otomatis hati akan membangun sebuah benteng pertahanan, yang menghalau jalannya luka untuk masuk kembali. 

Bisa dari kecewa karena pekerjaan, trauma bekerja dengan tipe orang tertentu sehingga benteng tersebut terbentuk untuk menghindari orang dengan tipe serupa. Tapi memang lebih banyak adalah karena urusan jatuh cinta. 

Sekali jatuh, kemudian ditinggalkan, lalu terluka dan membangun benteng yang berdiri kokoh. Tegap melindungi, agar jangan sampai jatuh untuk kedua kali. 

Siapa pernah?

Teman saya mengibaratkan kejadian runtuhnya colosseum sebagai representasi dari seseorang yang telah gagal mempertahankan bentengnya, ketika dihadapkan pada sebuah bekas luka, yang ternyata masih ingin ia buka kembali. 

Padahal jika ditinggal lagi, luka itu akan menganga, menyisakan desperasi yang mengarah pada keputusan-keputusan besar dalam hidup. Baik ataupun buruk. 

***

Namun bagaimana jika benteng itu terlanjur runtuh?
Bagaimana jika ternyata, perasaan yang pernah dibuang jauh-jauh itu ternyata hadir kembali tanpa bisa dibendung?

Tidak peduli sekuat apapun melawan agar jangan terjatuh pada lubang yang sama, tetap saja jatuh juga. Karena hati terlalu bodoh untuk melawan sesuatu yang menyenangkan. Seperti sorot mata menenangkan, atau senyum jenaka yang membahagiakan. 

Bukan mudah membangun bangunan runtuh. Apalagi jika sudah terlanjur tenggelam. Sebelum mengumpulkan puing yang berserak, terlebih dahulu kita harus menyelam ke dasar lautan. Bisa saja kita mati dalam proses menuju tempat puing-puing itu. Siapa yang tahu. 

Mati ataupun Kembali, ketika kita sampai di permukaan lagi, itulah hidup kita yang baru. Jika mati, seperti yang sering digambarkan oleh lelucon meme di media sosial - dead inside - kita tetap bisa  tertawa seperti biasa, berpura peduli seperti biasa, tapi sebetulnya tidak merasakan apa-apa. Is that bad? Belum tentu. Bisa jadi itu baik karena bisa membuat kita lebih fokus terhadap goal yang telah di tentukan. 

Tapi jika survive.. (dan ini yang jauh lebih baik).. maka kita bisa membangun kembali benteng yang jauh lebih kuat, dan jauh lebih tangguh. Meskipun akan memakan waktu, dan dalam prosesnya kita akan menemukan letih, perih, tergores, terseok, tapi suatu hari nanti jika bangunan itu telah utuh, kita akan mendapati hanya orang-orang yang sejati yang berada di dalam bangunan tersebut. Hidup akan jauh lebih bermakna jika dihabiskan bersama orang yang genuinely, unconditionally, love us. 

***

Membangun kembali sebuah reruntuhan, adalah dengan percaya bahwa ada suatu Energi Maha Dahsyat yang menggerakkan semesta. Urusan hati, hanya serpihan kecil bagian dari edaran galaksi. Pasti akan kembali. Jika sudah percaya terhadap takdir, dan segala yang terjadi adalah terbaik, kini tinggal menata bagaimana agar tidak kembali jatuh pada kesalahan yang sama. 

Menjaga diri, menjaga sikap, dan menjaga ucap. Adalah tiga keharusan yang harus diubah seiring dengan proses pembangunan berlangsung. Tentu kita akan menjadi pribadi berbeda setelahnya. orang tidak lagi menjadi dia yang sama selepas sebuah luka menyapa. Tidak, setidaknya jauh di dalam hatinya. Jangan takut untuk berubah. Jangan takut untuk menunjukkan dirimu yang berbeda dari yang dulu mereka kenal. Karena jika mereka sejati, mereka akan menetap dan tidak akan meninggalkanmu pergi. (Tapi kalau pergi, ya biarkan saja. Tidak semua orang akan menghabiskan sisa hidupnya bersamamu, sebagian hanya untuk numpang lewat memberi pelajaran). 

Maju ke depan secara perlahan. Jangan paksa hati untuk berhenti mencintai. Ajak ia, secara perlahan, untuk berpikir realistis. Baha hati yang tengah kau idami bukanlah milikmu, dan belum tentu akan menjadi milikmu, tidak peduli seberapa besar kau menginginkannya. 

Ajak hati berdiskusi, dan terus ingatkan ketika dia mulai membayangkan hal-hal indah yang mungkin akan terjadi jika kalian bersama, padahal belum tentu akan bersama. Ingatkan padanya, bahwa sakit hati jauh lebih menyakitkan dan proses penyembuhannya berbulan-bulan. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum jatuh terlalu dalam. 

Jangan larang hati untuk merasa senang. Biarkan ia, berlari menari setiap kali sebuah canda melintas dihadapannya. Setiap kali sebuah kata, terlontar terserap menyipunya. Biarkan ia menikmati indah itu. Seakan jatuh cinta, namun dalam kadar kehati-hatian yang tinggi. Karena hati tidak bisa dilarang. Ia sangat keras kepala. 

Tapi, begitu memasuki akhir hari, ajak ia untuk mengingat semesta. Mengingat betapa bahagia itu hanya sebentar, dan bukan miliknya. Ajak ia untuk berlogika. Sebentar saja. 

Membangun kembali sebuah reruntuhan, di tengah dahsyatnya gempuran kebahagiaan, adalah satu pendaman hal yang hampir setiap orang rasakan. Berjuanglah dalam diam. Jangan biarkan orang lain tahu apa yang tengah berkecamuk di dalam pikiranmu. Tuangkan semua dalam doa mu, karena hanya Dia yang Maha Tahu, Maha Memutuskan apa yang terbaik bagi hidupmu. 

***

Benteng saya kini tengah runtuh. Setelah sekian bulan berhasil menjaga hati, untuk tidak tercemar oleh distraksi. Tapi dengan begini saya jadi paham, bahwa selalu ada ombak dalam setiap sungai, sebagaimana awan dalam setiap langit. Hadir mereka mengganggu, tapi juga indah sekaligus. Mengerikan, sekaligus menakjubkan bagaimana Tuhan menciptakan sedih dan bahagia di dalam satu kesatuan. 

Karena begitulah niscaya. Setiap insan diciptakan berpasangan. Jangan khawatir jika sekarang kau belum menemukan separuhmu. Dia pasti datang, dengan caranya yang menakjubkan. Selama kau menaruh harapan, dan percaya bahwa dia akan datang. Love will find the way, no matter what. 

***
Jika saatnya tiba, kelak kau akan bangga, betapa kuatnya kau selama ini dalam penantian. Seperti Ed Sheeran, yang menyanyikan pendaman hatinya, dengan lirik yang nyaris sempurna.. 

“Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes”

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert