Skip to main content

Dancing in the Rain

So many of us are waiting for 'someday' to be happy.

Wait for the next level to take a vacation.
Wait for married to be complete,
Wait for end of the year to burst the flame of resolutions,
Wait for Friday to get chill and relax,

And forgetting that we may never have that 'someday'.

Why don't we start from here and now to get chill and relax? To enjoy the chips without waiting the 'after gym' schedule? To eat the cake without have something to celebrate.

Minimalist makes 'now' matter. We simply enjoy the smallest win in our every day. Like the unexpected walk we take to buy veggies across the neighbourhood, or unexpected text from someone you haven't met for so long.

We don't have to wait for married to be loved by a person. Look around and see there are people who are there for you even in your darkest of time. In your ugliest phase.

***

I learn to enjoy the minutes I have now. As a working-single mid twenties woman. Even if the work is getting crazier and I should shed some tears at some point because of the loaded desk. Dealing with clutters I can't discard (while minimalism encourage me to always discarding the excess).

Now that I learn how to dance in the rain. And I'm quite expert on that, so I can teach you if you want. Take my hand, and follow my lead.

You see, people who say the Sun is a source of happiness, are the people who never try to dance in the rain.

Within the storm I harvest lessons.
Within the rain I sprout my happiness.

I can only do all that things, if I know how to enjoy the minutes I had. Right now.

This is part of self loving anyway.

***

To whoever is going through anxiety..
I pray for your freedom, from your own mind.
I pray that you find peace, and love that you need.
If you need some help, find someone to listen to your heart,
I'll do that. And maybe I won't give any advice unless you ask. Because I just want to hear all the story from you, and feel it for you.

The world is so busy right now.
Let's have time for each other.

Like the river, time is continuosly flowing. And never going back.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …