Skip to main content

Are you Complete?

Terus terang tiga hari belakangan ini saya agak kurang sehat seperti biasa. Bahkan sejak senin saya hanya masuk kantor dua kali, senin dan rabu itupun setengah hari. Selebihnya saya kerja dari rumah, ya meskipun selasanya sampai jam satu dini hari sih. (Tetep pamer. Haha)
Hari ini rupanya puncak semua protes dari anggota tubuh. Demam, pilek, dan sakit kepala menyerang sekaligus. Akibatnya saya tepar seharian, tidak ke kantor bahkan tidak bekerja. Hanya sempat buka laptop sebentar lalu ditutup lagi. Menutup mata pun susah karena telepon tidak berhenti berdering. Ya telpon ya pesan. Akhirnya saya matikan.
Damai itu hanya ada di dalam keheningan. Jadi tidak perlu repot-repot mencari-cari suara kalau sedang hening. Kecuali kamu sedang terperangkap dalam ruangan bersama orang yang tidak kamu sukai. Lain cerita.
Tapi malamnya, begitu saya sudah mulai bosan sendirian dan berdiam diri meringkuk di selimut, saya mulai berniat untuk menghubungi seorang teman.
Begitu ponsel saya buka, bahkan sebelum sempat mengetik nama nya di daftar telepon, teman saya itu sudah menelpon duluan. Are we soulmate? Hahahah. Lantas tertawa dan obrolan panjang pun mengalir deras.
Seusai obrolan, saya menemukan video lucu di instagram. Seorang pria sunda-gumelis yang memang sudah viral sejak lama. Langsung saya hubungi mamah supaya beliau menengok instagramnya. Tapi yang ada kita malah video call agak lumayan lama dan lupa dengan video instagram. Jadilah saya kirim video itu begitu saja. Biar bagi-bagi tawa.
Saat itu keadaan saya sudah jauh membaik. Setidaknya lebih baik ketimbang seharian saya menyendiri.
Lalu tak lama, seorang kawan lain pun bergumam melalui instagram, yang langsung saya respon via chat pribadi. Rupanya dia pun sama. Kami sama-sama sakit akibat pertemuan akhir pekan kemarin yang begadang sampai pagi. Tapi yang menggelikan adalah responnya yang serupa; are we soulmate? Hahaha.
Yah.. Harus diakui. Kita bukan remaja belasan tahun lagi yang kuat dan sanggup membelah Jakarta dini hari. Atau tidak tidur demi bisa bercengkrama tanpa batas. Kita adalah para pekerja sekarang. In their midtwenties with Job and responsibility. Embrace it.

***
Pada akhirnya saya memahami sesuatu. Bahwa cinta, bukan selalu yang datang dari perempuan untuk laki-laki atau sebaliknya. You can love your friends. Even though you know that one day they'll leave. But that's part of life. To leave and see who's coming back.
Saya beruntung dikelilingi oleh perempuan-perempuan hebat, yang bukan saja cantik secara fisik tapi cantik juga jiwanya. Sexy dengan individuality nya  dan tidak pernah takut untuk menunjukkan cerdas yang mereka punya (alias tidak perlu berpura-pura bodoh supaya dianggap cute).
My girls, definitely make me feel.. Less alone.
Sampai suatu nanti masing-masing kita menerima uluran tangan mereka yang meminta, sampai itu juga kita akan bahagia dengan cara kita sendiri. Meskipun itu berarti menghabiskan banyak waktu berpikir dan tertawa lalu berakhir dengan makan yang banyak. Haha.

***
Saya juga baru paham makna dari pasangan. Kata orang, pasangan itu 'melengkapi' 'potongan puzzle yang menutupi kekurangan kita' dan segala macam kiasan yang menunjukkan bahwa sepasang kekasih semestinya saling menutupi dan melengkapi.
Dulu Saya tidak begitu paham (atau saya pikir saya paham) apa yang dimaksud dengan 'melengkapi' disini.
Karena.. Apa yang harus dilengkapi kalau (misal) si laki-laki sudah punya semuanya.. Fisik, spiritual, keluarga,.. Tugas si perempuan dalam melengkapinya dimana? Memberinya keturunan?

Ya mungkin.

Tapi bukan itu.

Begini...

Kita tentu sepakat bahwa setiap orang punya kekurangan, bukan?

tapi tidak semua orang mampu menyadari kekurangan yang ia miliki. Kadang apa yang ia anggap sebagai kekurangan, bagi orang lain justru bukan suatu kekurangan karena masih bisa ditolerir, bahkan dia masih ada sisi lain yang jauh lebih buruk. Bisa jadi si orang ini tidak sadar akan sisi buruknya tersebut. Sampai... Pasangannya hadir untuk melengkapi. But wait. Belum sampai disitu.
Sebut saja saya punya teman. Seorang yang baik hatinya. Ia cerdas luar biasa, dan mampu melewati berbagai rintangan sendirian. Mandiri, perkasa, dan bisa diandalkan. Sepintas, dia memang punya semua karakter protagonis. Seolah tidak mungkin jika dia punya karakter jahat.

Singkat cerita, saya mengenalnya lama. Dan sebagai orang yang senang mengamati, akhirnya saya bisa menyimpulkan kekurangan terbesarnya dimana.

Dia terlalu fokus pada dirinya sendiri. Terlalu bangga akan hal-hal yang dia capai, meskipun tidak dia ungkapkan kebanggaan itu pada dunia. Namun kefokusan dan kebanggaan itu membentuk karakternya yang nyaris selalu abai pada urusan orang. Ia hanya peduli pada apa yang berkaitan dengan hidupnya, selebihnya terserah. Ya wajar sih, banyak orang yang demikian. Apalagi orang-orang yang hidup di perkotaan.

Jika dia mendengar cerita orang, hanya agar dia tampak mendengar. Bukan karena benar-benar peduli. Jika dia bertanya, itu hanya agar memecah hening dan mencairkan suasana bukan karena benar-benar ingin tahu.

Maka semesta mengirimkannya pasangan hidup yang 'melengkapi' dirinya. Seseorang yang selalu penuh cerita, penuh mimpi dan ambisi. Nyaris semua waktu komunikasi mereka dihabiskan untuk pasangannya. Ia kehilangan panggung, dan tidak tahu harus bagaimana.

Mereka pun menikah.

Pernikahan berlangsung bahagia, karena teman saya pandai berpura-pura dan menyembunyikan perasaan di depan khalayak.
Tidak ada yang tahu betapa tidak bahagianya teman saya ini. Tidak ada juga yang mau bertanya karena setiap orang sibuk dengan masing-masing urusan.

Menderita? Mungkin tidak. Tertekan mungkin iya. Jika teman saya tidak mau mengalah, maka seumur hidup pernikahan itu akan sengsara baginya.

Namun lama kelamaan saya mengamati ada perubahan besar dalam dirinya. Ia semakin tenang, tidak ambisius dan semakin bisa menjadi pendengar yang baik. Bukan hanya bertanya dan menanggapi, tapi juga mengingat hal detail untuk disampaikan suatu hari. Mungkin dia pun bahagia dengan dirinya yang baru. Karena mau tidak mau ia harus berubah menyesuaikan keadaan sang pasangan yang ia pilih dalam keadaan sadar.

***
Makna melengkapi bukan berarti seseorang harus terus bergantung pada pasangannya agar ia utuh dan menutupi kekurangan.

Tapi makna melengkapi lebih kepada bagaimana seseorang bisa menyembuhkan kekurangan terbesarnya, karena kehadiran sang pasangan.

Biasanya memang mengakui kekurangan, bahkan pada diri sendiri, susahnya bukan main. Jika ada skala kecil-menengah-besar, biasanya kita terjebak pada kekurangan-kekurangan skala kecil sampai menengah pada saat introspeksi atau kontemplasi. Kekurangan level 'besar' cenderung dihindari, karena.. Ah.. Gak mungkin masa gue sejelek itu.

Maybe.. Just maybe..

Sebelum kita menemukan pasangan, ada baiknya menelaah diri kita sendiri dulu. Mengakses mikrokosmos, dan bertanya apa kekurangan terbesar kita.

Lalu akui.

Mengakui kekurangan, membenarkan kelemahan sendiri, membuat kita bertanya lagi..

Mau berubah?

Jika jawabnya tidak, then life will stay the same.
 
Tapi jika jawabnya iya,..


Coba tengok pintu depan.
Mungkin jodohmu hendak mengetuk memberi salam

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert