Skip to main content

Women Can Never be Alone

"Yes, they can!"
"No, they can not!"
"YES, they can!!"
"NO, they..."

Enough!

You have your thought, I have mine. Now if you'll excuse me, I wanna explain my opinion about this topic. It's up to you now, whether you wanna be an open minded human who hear all possibility, or a dumbass close-minder who talk a lot and make a hell out of social media. 

***

Women can never be alone, because that's what they were created to. As accompany of Adam. Sejak semula perempuan sudah diciptakan untuk menemani sang Adam. Lantas kenapa sekarang protes kalau disebut sebagai 'perhiasan dunia'? Kenapa merasa tidak terima?

Mereka tidak bisa hidup sendirian, itulah kenapa filsuf atau nabi selalunya adalah laki-laki, yang pergi menyendiri agar diberi kejernihan berpikir. Perempuan tidak bisa melakukan perjalanan sendirian, akan sangat repot untuk mereka dan kecemasan mereka. Meskipun jika dipaksakan pasti bisa juga, tapi akan berbeda hasilnya dengan laki-laki.

Saya bicara begini, bukan karena saya seorang perempuan yang takut bepergian. Justru karena saya sudah pernah merasakan rasanya melakukan perjalanan sendirian, antar kota antar negara, saat usia saya masih di awal dua puluhan.

Jika kita melihat ada seorang perempuan, dengan tangguhnya melawan dunia, tampil di depan banyak orang, menolak untuk menikah dengan alasan 'takut berkomitmen' atau 'semua cowok sama saja' coba lihat lebih dalam kepada perempuan itu. Jangan buru-buru menghakimi dia, atau menyanjung kehebatannya. Diam, dan amati.

Ketika kita menelusup lebih dalam, kita akan melihat sirat-sirat kesedihan dan kesepian dari raut wajahnya. Dari matanya, atau dari bahasa tubuhnya. Saya cukup lihai dalam menafsirkan gerak-gerik orang, pemahaman yang kadang saya gunakan tapi lebih sering saya abaikan karena bikin pusing kalau memahami semua orang yang mampir. Perempuan akan mudah merasa kesepian jika sendirian, mereka pasti butuh teman, dan sebaik-baik teman untuk perempuan lemah adalah.. laki-laki.

Sekuat-kuatnya perempuan, pasti butuh teman. Yang membedakan perempuan lemah dan perempuan kuat adalah siapa teman yang mereka pilih. Ada perempuan yang selalunya memilih laki-laki sebagai teman pengisi hari, akibatnya ia sering gonta ganti pasangan, namun tidak pernah bisa berkawan baik dengan sesama perempuan. Karena sesama perempuan memang cenderung akan saling melawan, dan sulit untuk bisa disatukan.

Empowered women, empower woman. Saya percaya jika seorang perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain dalam hidupnya (dalam situasi apapun, apakah pekerjaan atau rumah tangga), maka level sabarnya sudah tidak diragukan lagi. Level keyakinan, kepercayaan diri dan kelegowoannya sudah setara seorang ratu.

Dan untuk bisa menjadi ratu, seorang perempuan harus bisa mendinginkan kepala sang raja. Sejatinya itulah tugas perempuan. Penyejuk hati, bukan pengobar ambisi.

***

Ibu Ainun, istri dari Pak Habibie, adalah sosok perempuan yang selama ini saya jadikan panutan dalam hati. Setiap kali saya bertemu dengan seorang laki-laki yang amat mengedepankan diri sendiri, saya akan mengingat Ibu Ainun di dalam pikiran saya.

Tentu anda setuju betapa terpukul Pak Habibie atas kepergian istrinya, bukan? Puisi ia ciptakan, buku ia tulis, untuk meratapi kepergian Sang Istri. Bagi saya, pasti ada alasan dibalik semua tangis itu, selain karena tangis kehilangan ditinggal pergi.

Tangis penyesalan.

Ya, saya melihat Pak Habibie sangat menyesal atas kepergian Ibu Ainun, mungkin karena semasa hidupnya Pak Habibie agak 'lupa' dengan hadirnya beliau. Ia terlalu sibuk dengan dunianya, mimpi dan ambisinya, sibuk menceritakan segala sesuatu yang wara-wiri di kepalanya, sampai lupa membuka mata melihat lebih dalam seperti apa kondisi sang istri.

Bisa terbayang bagi saya, perempuan yang sedang sakit namun amat lihai menyembunyikan penyakitnya di depan suaminya sendiri. Itulah kenapa Ibu Ainun pantas mendapatkan penghargaan cinta suci.

Seorang perempuan cerdas yang berhasil menyelesaikan pendidikan dokternya, malah meninggalkan karirnya begitu saja demi seorang laki-laki yang bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit. Ibu Ainun telah meninggalkan ambisi dan egonya di meja akad. Selepas ia dan Pak Habibie menuntaskan acara pernikahan, seiring dengan langkahnya turun dari pelaminan, ia telah menyingkirkan kehidupannya sendiri untuk menuntun kehidupan dan karir gemilang suami dan anak-anaknya.

Perempuan, semestinya memang seperti itu.

Saya salah selama ini mengira bahwa saya berhak mendapat kesuksesan setara dengan Pak Habibie, padahal saya semestinya berperan bagai Ibu Ainun. Karena semestinya memang perempuan identik dengan pengorbanan. Bukan justru sebaliknya. Meskipun biasanya di awal kisah cinta, selalu terlihat laki-laki lah yang banyak berkorban untuk bisa mendapatkan sang perempuan.

Maka patutlah setiap kita (perempuan) memilih laki-laki yang pantas mendapatkan pengorbanan kita. Begitu akad terikrar, disitulah hidup dan surga kita ada pada bahagia mereka.

Dengan pertimbangan inilah saya yakin bahwa perempuan tidak bisa sendiri. Karena jika mereka sendirian, untuk siapa mereka akan berkorban. Dan tanpa pengorbanan, apakah perempuan bisa disebut sebagai 'perempuan seutuhnya' ?

***

Terimakasih telah mendengar pendapat saya. Now if you please, I'd be really happy to hear yours. 

Best, 

Woman.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2