Skip to main content

So Long.. Dream,

Sejak orangtua tidak memperbolehkan saya untuk mengambil jurusan Hubungan Internasional seperti yang saya idamkan sejak kelas 2 SMA, saya mulai men-design karir impian yang mendukung peran saya sebagai perempuan. Alasan orangtua sebenarnya sederhana, bagi mereka jurusan HI akan menghasilkan para diplomat - dan diplomat artinya akan tinggal berpindah-pindah. Kontras dengan saya yang adalah seorang perempuan. 'Masa nanti suami yang ikut kamu pindah' begitu alasannya ketika saya merajuk di komunikasi via telpon. Saat itu saya benar-benar kecewa. Beranggapan betapa kolot dan sempitnya cara berpikir mereka, karena bahkan pada saat itu - delapan tahun lalu - sudah banyak diplomat perempuan, dan HI tidak hanya mencetak para diplomat, sebagaimana jurusan kehutanan tidak hanya mencetak para penyelamat hutan.

Sebagai orang yang senang sekali bepergian, saya memimpikan karir yang bisa membawa saya bertualang kesana kemari, tanpa harus menetap berbulan-bulan. Kemudian saya tambahkan dengan flexibility, karir yang membebaskan saya untuk bekerja dari rumah dengan waktu yang fleksibel sehingga bisa menyesuaikan dengan pekerja utama dalam rumah tangga; suami.

Rupanya mimpi tersebut bersambut, dengan pekerjaan yang saya jalani sekarang, memenuhi semua kriteria karir yang saya inginkan. Yang dengan mudah men'jebak' saya ke dalam kesibukan yang amat saya nikmati. Jika saat itu saya tidak menuruti kata orangtua, mungkin saya tidak akan berada di sini sekarang.

***

Setiap orang pasti punya mimpi, semenjak ia masih menjadi janin yang sibuk menyerap gelombang energi magnetik bumi yang berubah-ubah seiring pergerakan matahari bumi dan bulan, ia sudah mengantongi mimpi. Setidaknya impian orangtua nya, meski tidak semua orangtua membisikkan mimpi itu pada anak-anak mereka.

Siang ini dalam perjalanan Soekarno Hatta - Sepinggan, saya menonton film yang belum sempat saya tonton (padahal sudah ditunggu sejak pertama diumumkan); La-La-La Land. Film yang menceritakan tentang dua orang pengejar mimpi, yang jatuh cinta namun tidak bersama; demi mimpi.

Terlepas dari kisahnya yang menampilkan semua hal yang saya impikan dari sebuah dating (the music, the show, the stars, and the snob :p) film La-La-La Land menyadarkan saya untuk tidak terlalu muluk dalam mengejar mimpi dan ambisi. Ada cinta yang akan disesali ketika gelimang pencapaian sudah kita raih, namun kosong karena hati tidak bersandar pada yang semestinya.

Sedangkan dalam Film Kingsman The Golden Circle, kita diperlihatkan untuk tidak lupa pada mimpi kita yang dulu. Katakanlah jika saat ini kita sudah living the life we dreamt of, kita pasti punya mimpi kedua. Seorang mata-mata, sebelum masuk bergabung dalam kesatuan tentara, bermimpi ingin menjadi ahli kupu-kupu yang meneliti beragam jenis kupu-kupu dan berambisi untuk menemukan spesies baru. Dari Film Kingsman TGC, saya berkesimpulan bahwa mimpi kedua ini tidak boleh dilupakan. Harus tetap dipegang, agar mungkin suatu saat menjadi alternatif ketika kita sudah bosan dan tidak ingin lagi hidup dalam kemonotonan.

***
Jika saat ini saya sudah utuh, lengkap dalam hidup yang saya impikan, saya masih punya mimpi kedua. Rancangan impian yang nantinya dapat membuat saya menyesuaikan diri pada siapapun yang Allah hadirkan untuk saya.

Tentang perempuan dan peran pentingnya di rumah, saya ingin belajar untuk bisa detaching pada ambisi, ego dan keinginan yang hanya akan membuat saya menjadi orang yang tidak betah di rumah.

Sehingga jika sewaktu-waktu saya harus berhenti, saya akan lakukan dengan senang hati. Kewajiban mempertahankan rumah tangga sampai ke surga, jauh lebih penting ketimbang kewajiban menyelesaikan laporan yang tidak pernah ada yang baca.

***
Mungkin...

Mungkin saya akan diprotes sebagian feminist yang selalu menuntut kesetaraan peran. Tak apa. Bagi mereka pendapat mereka, dan bagi saya pendapat saya. Hidup di bumi ini hanya selintas. Enam puluh tahun paling lama. Dua puluh tahun pertama telah digunakan untuk mempelajari hal-hal dasar yang berada di permukaan. Sepuluh tahun setelahnya untuk belajar hal-hal yang agak lebih mendalam, kepada pemahaman yang menghubungkan arti dan makna.

Mungkin hanya dua puluh tahun efektif kita punya, sebagai ajang mengumpulkan sebanyak-banyaknya poin manfaat dari pelajaran-pelajaran yang sudah kita simpan dalam memori. Dan saat itu, mungkin kita sudah diberi amanah dengan anak. Satu? dua? tiga? atau lebih. Siapa yang akan membimbing mereka dalam mencari pembelajaran dasar-permukaan dalam dua puluh tahun pertama hidup mereka kalau bukan perempuan, ibu nya?

Mungkin ada yang bisa membagi waktu dan pikiran antara mimpi, ambisi, dan kewajiban. Tapi sebaik-baiknya pekerjaan, adalah yang dilakukan dengan fokus dan tertata. Ada ruang-ruang untuk mereka yang ingin tetap berada dekat dengan anak tapi tetap menghasilkan. Namun ruang itu menuntut kreatifitas agar bisa terbuka. Perempuan di design dengan kemampuan kreatifitas lebih dari laki-laki. Akses lah bagian ruang itu, agar tetap menjadi seorang produktif, mandiri, tanpa harus abai.

***

Pada apa yang saya pelajari hari ini tentang mimpi, ada satu hal yang baru saya sadari. Bahwa ternyata selama ini, saya tidak pernah memimpikan kriteria seperti apa yang akan menjadi pendamping hidup saya. Seperti yang saya tulis di postingan sebelum ini; daftar belanja saya masih kosong.

Setelah karir, maka kini tugas saya adalah menulis satu persatu daftar belanja kriteria pasangan. Seperti karir, mungkin poin nya tidak banyak. Paling banyak mungkin tiga. Atau empat. Mungkin. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …