Skip to main content

Sakinah, Mawaddah, Warahmah

Sebelum saya menuliskan apa yang saya pelajari hari ini, saya ingin mengungkapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya untuk Bang Arbi Valentinus yang meninggal pagi tadi, setelah beberapa hari berjuang melawan kerusakan pembuluh darah di kepalanya.

Dunia aktivis lingkungan kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, menyusul Alm Hapsoro yang juga meninggal di usia terbilang muda, lima tahun yang lalu.

Saya memang belum begitu mengenal beliau secara langsung, pun kesempatan bertemu apda saat perayaan hari jadi organisasi pecinta alam kami, saya lewatkan karena masih di Solo. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa hari itu, adalah hari terakhir mereka menyaksikan tawa bahagianya. semangat juangnya yang ia tularkan pada anak-anak muda. Tutur bijak dan menggelitiknya yang dengan sukarela ia bagi pada mereka yang belum begitu mengerti.

Tidak banyak orang secerdas beliau mau bergerak menjadi aktivis lingkungan. Ia seorang muallaf keturunan Tionghoa, cerdas luar biasa. Umumnya seseorang dengan kemampuan seperti itu sudah menjadi pebisnis besar, yang harta kekayaannya melimpah dimana-mana. Termasuk perkebunan kelapa sawit atau hutan industri.

Yah..
Bagaimanapun umur adalah misteri. Soalan yang tidak akan pernah terungkap kecuali memang sudah waktunya.

Selamat jalan Bang Arbi. Namamu, akan selalu melekat sebagaimana dulu semasa kami ber-Lawalata. Tidak pernah bertemu muka, namun kegigihan juangmu selalu disebut-sebut. Manusia pergi meninggalkan nama, maka berbahagialah abang disana, karena semua yang mengantarmu pulang, merekam semua semangat mu dalam menyelamatkan lingkungan.

Bahkan hutan dan kayu pun ikut berterimakasih padamu, karena keberanianmu mengungkap kebobolan hukum di negeri kita.

Innalillahi wa innailaihi rajiuun.

***

Kontras dengan kabar duka yang saya buka dari ponsel pagi tadi, suasana gembira nan haru menyelimuti segenap wajah yang hadir di gedung mewah di pusat perbelanjaan Kota Bogor.

Sepasang pengantin muda baru saja melafalkan akadnya. Sebuah proses pernikahan yang saya saksikan sendiri bagaimana rumit dan jatuh bangunnya. Semua orang melafazkan Hamdalah, lega bahwa akad berlangsung lancar. Suasana haru berubah menjadi gembira, tatkala MC mengarahkan ritual pada tradisi adat istiadat.

***

"Suami gue mana?" Tanya salah seorang manajer di tempat saya bekerja. Ia celingukan mencari laki-laki berjas, yang cukup tampan untuk seusianya. Sang istri pun sebenarnya sepadan, cantik rupawan yang tidak seorang pun meragukan.

"Tuh disana" ujar salah seorang penjaga buku tamu - rekan kerja sebaya saya. Berempat kami ditugaskan untuk berdiri dan menyapa ramah tetamu yang hadir. Berbalut kebaya pink yang dijahit khusus untuk acara ini.

"Habis dari mana?" Ibu manajer protes melihat suaminya yang cengengesan tak berdosa.
"Nyari pacar!" Jawabnya asal. Kami semua tertawa. Si istri mencubit lengan suaminya gemas. Mereka pun berlalu, masih tertawa.

***

"Ooo gue tahu. Kalo mau foto kurus bukan dari samping. Tapi dari depan!" Kali ini Ibu Direktur Keuangan mengomentari foto nya sendiri. Postur tubuhnya sebenarnya tidak sama sekali gendut, bahkan langsing dan berbentuk. Boleh dibilang usianya terpaut dua puluh tahun dari usia saya, tapi berat badannya, sepuluh kilogram dibawah saya. (Tolong jangan tertawa. Ini serius.)

Ehem.

"Yee ibu mah.. Emang ga genduuut" ucap saya dan seorang rekan serempak dalam koor dan nada yang sama. Tertawa.

Ibu direktur tetap ngotot menyampaikan teorinya bahwa foto dari depan bisa membuat terlihat lebih kurus dan bahwa dia saat ini sudah lebih gemuk

"Nih lihat. Tangan gue aja begini" ujarnya menunjukkan lengannya yang terbalut kebaya merah-hijau.

Sepanjang obrolan itu, suaminya berdiri di belakang menahan tawa. Tinggi tegap dan langsing, adalah postur yang saya kagumi pada bapak-bapak berusia lumayan tapi masih terlihat sangat prima. Ia tertawa gemas melihat kelakuan istrinya yang berusaha meyakinkan orang-orang bahwa dirinya gendut.

"Tuh suami ibu aja ngetawain" kata seorang rekan lagi masih tertawa. Si ibu balik tertawa dan menggandeng lengan suaminya.

"Eh tolong fotoin dong, katanya dia pengen difoto berdua" ibu direktur mengalihkan topik obrolan. Saya yang memang sengaja bawa kamera sendiri, (karena tahu hasil foto dari tukang foto akan lama keluarnya), langsung sigap mengikuti mereka, sambil berkata

"Yee ibu juga pengen di foto kali tuuh. Suka malu dah ah si ibu mah" dalam nada menggoda.

Lucunya, ibu direktur tetap tak mau mengaku bahwa ia ingin difoto dengan suaminya.

"Gua mah biasa ajaa. Dia nih yg pengen pengen mulu daritadi."

Saya tertawa tidak berani membayangkan kalimat tadi. #iykwim HAHA!!

Satu jepret,
Dua jepret,
Tiga jepret,

Dan seterusnya si ibu semakin merapatkan tubuh ke suaminya, mendekap erat mesra dan hangat. tersenyum dengan senyum paling bahagia yang pernah saya lihat selama berpengalaman memotret ibu ini. Bukan karena dia tidak bahagia, tp karena dia amat pintar menyembunyikan masalahnya, sehingga hanya kamera yg bisa melihat beban dibalik senyumnya.

***

Sepanjang acara tadi, tidak henti saya bertemu dengan rekan kerja - para konsultan beserta keluarganya. Satu dua sudah mengenal saya (and I have to put it here as a reminder that I was once be so pretty that they're ignoring me bc they don't know who I am) 😂

Dua contoh pasangan yg saya ceritakan di atas, adalah pasangan yang sudah belasan tahun menikah. Dua puluh tahun mungkin ada.

Tapi masih saja bertingkah seperti layaknya pengantin baru di depan semua orang yang melihat. Gemas.

"Saya dulu pertama ketemu ini" menunjuk suaminya "mata saya ijo-ijo pake soft lense" cerita istri direktur saya yang lain. Salah satu pendiri perusahaan ini. Kita sedang membahas kegagalan saya memasang soft lense, lantara sudah lama sekali tidak pakai benda satu itu. (Sejak kuliah semester awal, ketika saya tiap hari pakai soft lense ke kampus).

"Iya abis nikah jadi biru-biru di iming-imingi duit duit duit" dengan jenaka Pak Direktur memperagakan gerak melambaikan uang.

Kami semua tertawa.

"Ooh kirain waktu itu pas lagi gak pake soft lense, bu. Jadi bluurrr" canda ibu manajer yang suaminya menghilang karena cari pacar.

"Heeee enak ajaa" sergah Pak Direktur sambil memicingkan matanya.

Kami semua tertawa semakin keras. Barisan panjang antrian foto pengantin itupun ramai ledekan. Lelucon antara pasangan suami istri yang telah lama menikah.

Oh sungguh saya menikmatinya tanpa baper sesenti apapun. Saya sudah berhenti menginginkan cerita yang sama, atau serupa. Cerita saya akan menjadi milik saya. Berbeda dan pasti.. Sesuai dengan yang saya butuhkan.

***

Terlepas dari semua cerita-cerita indah dan tawa bahagia dari semua pasangan seharian tadi, ada satu yang mengganjal di hati.

Ada kisah pilu tentang bahtera yang bocor sana-sini. Kami tahu, namun kami tak mungkin menghakimi.

Pernikahan adalah lautan tak berbatas, yang hanya bisa diakhiri dengan maut atau ego. Mereka bilang, inilah ibadah terlama, sehingga menjadi penting bagi pasangan untuk selalu mau bekerja sama. Mau berintrospeksi diri dan mau saling memahami. Sudah bukan lagi mendengarkan levelnya, tapi memahami.

***

Seorang pria pernah mendekati saya, sebut saya ia sudah memiliki istri dan anak.

Setiap malam dia bercerita, tentang betapa lelah dia bekerja seharian. Mobilitas dan hidupnya sebagian besar dihabiskan dibalik setir. Padahal ia bukan supir.

Bapak itu menceritakan banyak hal, termasuk jalur yang ia tempuh setiap malam ketika pulang bekerja. Dan tempat-tempat yang ia sambangi ketika sedang penat dan ingin menyendiri.

Ia memutar lagu sendu. Tentang dua kekasih yang tidak bisa bersatu. Ia pun berkisah tentang mantan pacarnya.

Semuanya itu saya dengarkan dengan baik. Sesekali bertanya agar ia merasa ditanggapi. Dan memang saya senang mendengarkan kisahnya. Seperti merangkum pelajaran selama sepuluh tahun, dalam waktu tiga-empat jam.

Semenjak itu, ia sering berkomunikasi dengan saya. Bercerita tentang harinya, bertutur tentang rencananya.

Keluhnya, istrinya sudah sangat sibuk. Ia harus membagi kasih sayangnya pada lebih banyak hal yang ia cintai. Suami kini tak penting lagi, karena mungkin ia merasa bisa cari makan sendiri.

Maka itu pria tersebut senang bercerita pada saya. Karena ia merasa didengar dan merasa punya teman cerita. Sesekali dia mengajak saya ke teater, yg saya tolak dengan halus.

Jika saya mau nakal, saya bisa saja memanfaatkan situasi. Pria itu mau saja membelikan apapun yang saya inginkan. Tanpa harus punya hubungan lebih jauh. Kami pun jarang bertemu, tapi ia bisa saja mengirimi sesuatu yg manis yang bisa membuat luluh hati perempuan manapun. Dengan karir yang ia punya, mudah saja ia belikan saya separuh dunia. Bukan masalah baginya. Tapi apa saya tega?

***

Perempuan sering lupa bahwa rumah tangga dibangun dari dua sisi. Saking banyaknya berbicara, perempuan lupa mendengarkan. Saking seringnya menuntut, perempuan lupa menerima. Saking seringnya meminta, perempuan lupa memberi.

Ia lupa kalau suami nya pun butuh asupan gizi. Bukan hanya sekedar materi, tetapi sesuatu yang lebih dari takaran manusia; kasih sayang, ketenangan, penguatan. Sebuah ritual sederhana yang sering terlupa oleh penatnya pekerjaan.

Akibatnya para suami mencari bahu-bahu lain untuk bersandar. Dan ketika mereka mendapati hal itu, marah besar. Luapan emosi membutakan mata perempuan yang cemburu. Apapun ia lakukan, termasuk memukuli suami dengan batu. (Yes, that's happen)

Perempuan yang dilalap oleh api cemburu, tidak akan punya waktu untuk menyadari kesalahannya. Apalagi mengakui kekurangannya. Baginya dirinyalah sempurna. Sebaik-baik pelaku rumah tangga. Korban yang teraniaya.

Mereka tidak terima jika perempuan selalu menjadi pihak yang disalahkan. Nyatanya, Rasul sendiri mengibaratkan surga berada di telapak kaki mereka. Merekalah sumber penyangga rumah tangga. Perempuanlah pusat inti perputaran massa keluarga. Apa yang terjadi di rumah tangga, bersumber dari perempuannya. Ibunya.

Jika ibu tenang, seisi rumah akan ikut tenang. Jika ibu bahagia, seisi rumah akan ikut bahagia.

Tidak hanya soal energi yang menular, tapi sejatinya begitulah peran perempuan. Begitu besar dan berpengaruh sampai-sampai ibu disebut sebanyak tiga kali sebelum ayah.

***

Satu yang tidak pernah diajarkan kepada saya selama ini: self love. Saya tidak pernah diminta untuk mencintai diri saya sendiri, dan justru selalu dilatih untuk mendahulukan orang lain.

Konsep yang membuat saya tidak tahu bagaimana caranya bahagia dengan diri sendiri karena saya selalu menggantungkan bahagia pada orang lain. Dan ketika orang itu pergi, separuh bahagia yang sudah susah payah saya bangun pun ikut pergi.

Seorang perempuan, terlebih seorang ibu, harus tahu bagaimana caranya mencintai diri sendiri.

Melakukan sesuatu karena ia ingin lakukan itu, sebelum melakukan sesuatu karena ingin ridho Allah SWT.

Ibu yang menguasai self love, akan mudah bahagia dengan dirinya sendiri dan tidak dipusingkan oleh urusan orang lain. Ia tidak akan menolong orang jika bukan karena ia bahagia melakukannya. Bahagia demi bahagia ia jalin, yang ditularkan pada seisi rumah.

Seorang istri yang menguasai self love, akan menghadirkan ketenangan di tengah-tengah kepanikan. Tidak akan banyak menuntut karena ia tahu betul siapa dirinya dan apa yang ia butuhkan. Ia tidak akan mau membeli sesuatu yang hanya ia inginkan.

***

Chose your woman wisely, they represent you.

Bagi yang sedang mencari pasangan dan menunggu pasangan, nasihat lama itu betul; perbaiki diri sendiri dan buat daftar apa yang dibutuhkan dari pasangan.

Seseorang dengan 'daftar belanja' yang detail akan lebih cepat selesai berbelanja dan pulang ketimbang seseorang tanpa 'daftar belanja' karena mereka masih bingung apa yang akan dibawa, yg berujung pada window shopping tanpa batas.

So, make your list now! Menuju keluarga yang menenangkan, saling menerima, dan disayangi Yang Maha Kuasa.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …