Skip to main content

Mother of Stars

Jauh perjalanan mencari intan pujaan
aduhai
dimana puan
mengapa pergi
tanpa pamitan
***
Sore, pergi tanpa pesan. Adalah penggalan lirik lagu di atas berasal. Saya kembali menembus rintik hujan malam hari, selepas menonton film yang begitu membuai.
***
Ketika seseorang telah menyadari dan merasa tercukupi kebutuhannya, ia tidak akan lagi berletih-letih mengejar dunia agar diakui. Berpenampilan, bukan lagi masalah baginya. Karena ia tahu, penampilan terbaik datang dari hati yang bahagia. Bukan dari seberapa mahal dan mewah pakaian yang dikenakan, tapi seberapa nyaman.
Ia pun akan lebih senang menyimpan penghasilannya, sebagai rasa menghargai atas usaha keras yang telah ia lakukan selama ini. Pun kalau harus digunakan untuk kesenangan, ia akan lebih memilih 'membeli' pengalaman ketimbang benda-benda.
Begitulah cara berpikir minimalist, yang sudah merasa puas dengan dirinya sendiri.
***
Dalam beberapa hari jalanan akan semakin ramai. Para pekerja kantoran akan merayakan hari terbayarnya usaha mereka selama sebulan terakhir. Jalanan akan ramai membludak, dijamin macet dimana-mana.
Mall? Apalagi. Menjadi salah satu tempat paling ramai yang menyesakkan. Saya suka ke mall pertengahan bulan. Sepi, lalu lintas pun sepi, parkiran lengang, dan tidak banyak diskon-diskon palsu yang bikin sakit mata.
Diskon-diskon dengan warna mentereng agar anda menengok. Yang sebetulnya hanya akan memancing anda membeli lebih banyak daripada yang anda butuhkan, sehingga anda membawa pulang sesuatu yang sebenarnya adalah mubazir.
Logikanya berbalik dari; semakin sedikit anda mengeluarkan uang, maka semakin hemat.. Menjadi semakin banyak anda mengeluarkan uang, maka anda semakin hemat. Beli dua gratis satu, padahal anda butuh hanya satu, kenapa harus bawa pulang tiga?
Maka sore tadi, saya mengambil jalan lurus tanpa mampir: menuju bioskop.
***
Marvel, dan serial heroiknya telah memikat jutaan pasang mata di planet ini. Saya salah satunya. Meskipun saya bukan seorang marvel freak, saya tetap menanti-nanti serial nya untuk bisa dinikmati di bioskop. Dan selalu, berusaha mendapat kesempatan paling awal sebelum para spoiler merusak suasana.
Thor, adalah favorit saya. Awalnya karena pemerannya, lama-lama saya terpikat dengan kisahnya. Dan sekarang, saya jatuh cinta pada pesan yang disampaikan.
Susah untuk kembali ke bumi seusai menonton film marvel, apalagi Thor. Saya tahu ini lebay, dan saya tahu not everyone will understand this overwhelming feeling. This is beyond paid. The number I spent for the ticket, is nothing to the joy it sparks inside my head. Not that I fell for the actors (which is.. Beyond words), but that I love every detail the director brought us. The effect, the sense of humor, the outfit, the set, the words, the messages. Everything.
And then I promise my self one thing: to inherit experiences, to my children.
You see.. People are not mature by age, we can always hear them say: age is just number. Maturity come with experience, and by experience isn't always the thing you face. It could be a story, like history we tell, thru visual or diction.

***
Suatu hari seorang perempuan akan jadi ibu. Dan belakangan ini sering terdengar sesama perempuan-ibu ibu- bertengkar mengenai pilihannya. Merasa pendapat sendiri paling benar. Apakah bekerja ataukah berumah tangga. Masing-masing dengan argumennya masing-masing, keep talking and never listening.

Lupa bahwa anaknya menyaksikan itu semua dan tanpa sadar meniru tabiat yang sama.
As a minimalist, saya nanti ingin menjadi ibu yang sedikit melarang, meski tidak juga terlalu membebaskan karena anak butuh tuntunan untuk memilih terutama saat fase-fase awal.
Memang bukan mudah dan selama ini saya hanya membaca teori dari buku dan artikel. Belum seberapa dibanding mereka yang telah praktek langsung.

Fiksi adalah satu media penyampai pesan paling jitu untuk anak-anak yang imajinasinya masih berkembang. Yang dindingnya masih transparan, mudah menerima berbagai kemungkinan. Saya masih ingat waktu kecil dulu, saya senang sekali mendengar penutur cerita melalui kaset tape. Tanpa gambar seperti televisi, membuat saya membayangkan setiap adegannya dengan bunyi-bunyi ilustrasi. Dan buku.. Ya. Buku cerita adalah harta karun bagi saya yang tumbuh di kota kecil sudut Indonesia sana. Jika saya punya satu buku cerita, maka buku itu akan saya baca berulang-ulang hingga halamannya sobek.

Sehabis menonton film Thor Ragnarok, saya kehabisan kata-kata. Saya ingin kembali ke bumi namun susah. Maka dalam satu hingga dua pekan ke depan, hanya ini yang akan saya bicarakan: semesta.
***

170 milyar galaksi, dan kita hanya salah satunya. Berada di tengah kumpulan bintang dan planet, menjadi satu-satunya rumah berpenghuni.
Sibuk memikirkan keselamatan planet melalui diskusi-diskusi mahal dengan solusi-solusi jitu tanpa realisasi. Beberapa orang yang merasa frustrasi akhirnya menarik langkah mundur dari kerumunan, dan berbangga hati atas 'hal kecil namun nyata' yang dia lakukan. Seolah melakukan hal kecil adalah terbaik di muka bumi ketimbang berdiskusi tanpa ujung.
Padahal melakukan hal kecil, bukan sebuah trophy kebanggan. Memang sudah sepatutnya itu kita lakukan. Wajar, gitu loh.

***
Mengapa mereka begitu peduli dengan planet bumi ketika justru tengah memasuki gerbang kehancuran?
Alasannya untuk generasi penerus. Takut anak cucu tidak bisa menikmati indah Gunung Semeru, padahal anak-cucu lah yang menyebabkan kotoran dan sampah menumpuk di Ranu Kumbolo.
Mereka ingin sekali mewariskan bumi pada generasi penerus, padahal,.jika benar yang dikatakan Odin, Asgard bukanlah tempat. Tapi bangsa.
Bumi bukan sekedar planet, tapi identitas. Bagi makhluk planet lain (jika ada), manusia adalah bangsa penghuni bumi (salah satu), dan yang terpenting bukanlah bumi itu sendiri. Tapi penghuninya. Manusianya.
Warisan terbaik untuk anak-cucu bukan saja air bersih dan hutan rapat, tapi mental yang dibentuk agar selalu berkecukupan. Bisa saja kita wariskan kepada mereka danau air tawar yang terbentang luas tanpa kerusakan, jika tidak kita sertai dengan warisan 'mental kebercukupan', tidak menunggu lama anak cucu pun akan bertikai memperebutkan setiap jengkal wilayah di atas air danau itu sendiri.

***
Saya ingin suatu nanti, menamai anak-anak saya dengan nama-nama bintang yang telah para pendahulu sematkan. Agar mereka menjadi cahaya-cahaya kecil milik bumi, yang tidak hanya mewarisi sepenggal wilayah tetapi juga sinar terang.
Bukan hanya menurunkan benda-benda pusaka, untuk mereka rawat dan jaga meski enggan, tetapi juga menurunkan prinsip dan ketenangan hati.
***
Hati cemas bimbang,
Harapan timbul tenggelam,
Aduhai,
permata hati
mungkinkah kelak
berjumpa lagi

Oh angin
bisikkanlah
malam ini

Hati cemas bimbang
harapan timbul tenggelam
aduhai
permata hati
mungkinkah kelak
bersua lagi

***
And if one day I name my children after the stars.. Will it make me be a..
Mother of Stars?

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …