Skip to main content

K.I.Y (Keep It for Yourself)

Di jaman yang serba bebas ini, orang bebas mengutarakan pendapat dan isi hati kepada orang lain bahkan mengenai hal-hal paling tidak penting sekalipun.

Setelah lima hari berada di pelosok Kalimantan Timur dengan jarak tempuh perjalanan sejauh Manado - Gorontalo, hari ini adalah hari pertama saya libur dan berada kembali di Bogor. Namun tepat ketika saya tiba di rumah, teman serumah mencetuskan ide untuk nonton film di bioskop.. Sebenarnya ide itu sudah tercetus duluan, dan sudah lebih dulu saya wujudkan sendirian. Tapi tak apa, hitung-hitung merayakan hari istimewa;

7 10 20 17 😂

***

Matahari sudah melewati separuh perjalanannya berotasi ketika saya tiba di antrian kemacetan perlintasan kereta api. Pukul dua siang dan Bogor sedang panas-panasnya. Panas menyengat yang membuat sesak napas. Siapapun akan mudah marah dalam kondisi itu. Apalagi kalau ia sedang lelah.

Ban motor saya tiba-tiba bocor. Motor yang memang kurang terawat karena jarang dipakai itu, tiba-tiba menambah kesulitan ditengah desakan dan himpitan kendaraan semrawut.

Rasa panas menyergap semakin ketat saat saya tahu kebocoran ini amat parah. Ingin marah tapi apa gunanya. Saya berusaha menenangkan diri sambil menunggu kereta lewat. Pelan meminta teman untuk turun dan berjalan menyebrang, sembari saya menuntun motor sendirian.

Cuaca panas memang bukan sahabat siapapun. Menjaga kepala tetap dingin adalah kelihaian yang harus dimiliki seorang minimalist.

Bahkan ketika kaki saya nyaris dilindas oleh seorang pengendara motor yang tidak sabaran, saya hanya diam menatapnya tajam. Saya memicingkan mata dan melempar ekspresi tidak suka. Itu hal terjauh yang bisa saya lakukan. Jika saya berteriak atau membentak, tidak akan juga mengurangi rasa sakit dan noda yang tertinggal. Apalagi efek jera. Orang jaman sekarang sudah susah untuk diberi efek jera dengan amarah jalanan.

Setelah berhasil menyebrang rel kereta, saya menuntun motor dijalanan menanjak. Panas yang menyengat membuat lelah menjadi cepat terasa. Kaki saya sampai gemetar setelah tiba di tempat tambal ban. Tapi itu nanti,. Yang saya mau ceritakan adalah tentang reaksi orang-orang terhadap orang yang sedang kesulitan.

"Neng itu ban nya bocor!" Teriak seorang supir angkot yang sedang menunggu antrian perlintasan kereta dari arah berlawanan.

Saya hanya membalas menatap tanpa berkata apa-apa.

Disusul satu dua pengendara motor yang melewati saya, juga mengingatkan hal yang sama. Beberapa pasang mata menoleh mengikuti arah gerak saya yang sangat lambat. Bahkan ada ibu-ibu yang menunjuk-nunjuk ban motor saya dari balik kaca angkot.

Satu hal yang terlintas di pikiran saya:

They should really learn not to give their opinion if people didn't ask.

Diteriakkan 'ban nya bocor!' Oleh seorang supir angkot, memang dipikirnya saya sedang apa menuntun motor? Sedang tamasya melihat-lihat keramaian kota? Ya tentu saja saya amat sadar dan tahu bahwa ban saya bocor. Itulah kenapa saya menuntun motor.

Ibu-ibu yang menunjuk-nunjuk saya sambil menggumamkan entah apa; apa untungnya bagi mereka membicarakan seseorang yang tengah tertimpa musibah? Padahal mereka jelas tidak bisa membantu. Melihat dan menunjuk-nunjuk mungkin di sebagian negara akan dianggap tidak sopan. Tapi disini mungkin dikira hiburan.

***

Seorang perempuan paruh baya, mungkin, mengambil tempat di sebelah saya saat menonton film Blade Runner di bioskop. Awalnya saya tidak keberatan, karena saya tidak terlalu ambil pusing siapa yang duduk disebelah siapa.

Sampai ibu itu merusak nyaris semua suasana dengan gumamannya yang amat tidak berguna. Ia mengomentari segala macam detil dalam film, yang justru merusak hening yang tercipta. Pembuat film tentu ingin menciptakan efek dramatis agar penonton terkesan, dan berkat ibu itu, efek dramatis menjadi menjengkelkan karena ia akan terus menerus berbicara; menebak plot, mengomentari wajah si aktor/aktris, bergumam bahwa ini 'hanya' film dan semua itu tipuan...

Ditambah lagi dengan bau makanan yang ia sembunyikan diam-diam di tasnya, yang ia makan dengan berisiknya bunyi kantong plastik.

Setelah kecewa dengan film Kingsman lalu, saya akhirnya menemukan film amat bagus yang betah saya tonton, namun orang disebelah saya, tanpa ia sadari, telah merusak malam selebrasi seorang asing yang ia tak kenal. Hanya karena ucapan-ucapan tidak perlu yang ia lontarkan atas dasar hak asasi.

Orang punya kebebasan berbicara dan berpendapat. Itulah kenapa sekarang orang-orang tidak ada yang mau berhenti bicara.

Terlebih perempuan. Berbicara tanpa kenal lelah, dan sedikit sekali mau mendengarkan. Sedikit sekali mau mengerti, seakan dunia berevolusi mengitari dirinya.

***

I will tell my daughter, please dont grow up like that.

Kita semua punya pemikiran. Punya pendapat dan pengalaman.

Tapi tidak semua orang punya keinginan untuk mendengarkan itu semua.

Jangan beri pendapat tanpa diminta, karena orang hanya akan mendengarkan dari sosok yang mereka anggap sebagai panutan. Kecuali dia bertanya, simpan saja pendapatmu untuk dirimu sendiri.

Tidak ada yang terlalu penting dan terlalu tidak penting di dunia ini. Jika seseorang bertanya, jawab dengan apa adanya. Jangan berharap menyembunyikan sesuatu agar orang repot-repot mencari dan menemukannya sendiri. Simpati tidak akan sedalam itu kini, apalagi dari seorang asing.

Hanya keluarga terdekat yang bisa kita andalkan untuk bersimpati pada kita. Untuk bisa mengerti hal-hal yang tidak kita katakan. Hanya mereka yang menganggap kita istimewa saja yang mau menyelam lebih dalam, mencari tahu tentang kita, sibuk menelusuri nama kita di mesin pencari, dan mau memahami kita.

Orang berubah dengan cepat. Jangan terlalu lekat. Mereka bisa sewaktu-waktu menghilang dan wooff...! All gone.

Bahkan perasaan dan sepotong hati yang telah kita titipkan pun akan hilang bersamanya. Manusia cukup tega untuk membunuh sesama, kenapa mereka tidak tega untuk menyakiti hati sesama.

***

Seorang teman pernah bertanya "dengan latar belakang seberagam ini, kemana tempat yang kau sebut sebagai 'rumah?'"

Pertanyaan yang hingga kini masih menggelitik saya, karena sebetulnya saya pun menanyakan hal yang sama untuk diri saya sendiri. Punya ayah orang Gorontalo asli, ibu keturunan campuran Solo - Cianjur, lahir di Manado dan besar di Bogor dan Merauke, saya tidak tahu kemana harus menyebut tempat berpulang. Jika ditanya "orang mana?" Saya akan bingung menjawab. Namun saya memutuskan untuk menjawab dengan mantap: "Gorontalo!" Jika pertanyaan berlanjut pada hal-hal yang saya tidak tahu, saya siap mengalihkan pembicaraan, dan saya cukup mahir memainkan peran.

Mungkin bukan pertanyaannya yang membuat saya geli sendiri, tapi cara seseorang  bertanya pada orang lain.

Dari situ saya sadar bahwa orang sangat senang diberi pertanyaan mengenai personal kehidupannya. Dan dari film Blade Runner saya tahu alasannya: karena pertanyaan personal membuat kita merasa diinginkan. Wanted and desired.

Dunia yang serba berbicara ini membuat orang semakin ingin dimengerti tanpa mau mengerti. Ingin didengar tanpa mau mendengar. Ingin diinginkan tanpa mau.. Menginginkan.

Minimalist hanya akan berfokus pada apa yang penting. Eliminate the excess, and kept what reallu matter. Begitupun dengan berbicara.

Mereka hanya akan mengutarakan apa yang penting, dan menyingkirkan hal-hal tidak penting agar semua terjaga dalam seimbang. Agar tidak terlalu kebanyakan bercanda atau kebanyakan bekerja.

Minimalist sadar bahwa orang punya waktu terbatas untuk mendengar, jadi mereka akan menganalisa kalimat yang digunakan agar tidak terlalu panjang lebar bertele-tele. Banyak pesan yang ditanggapi dengan salah karena penyampainya tidak menyampaikan dengan jelas maksud dan tujuannya.

Salah paham adalah sumber masalah penting dalam setiap bidang pekerjaan. Jadi jaga lisan kita sebelum menjadi salah satu sumber salah paham.

***

In the end, saya kembali ke rumah dengan lelah, ngantuk di sepanjang jalan, dan kesulitan unzipping my back.

Jika benar apa yang akan terjadi di tahun 2049 seperti yang diramalkan Blade Runner, maka saya khawatir para perempuan single di masa itu akan semakin kesulitan menemukan kekasih hati karena laki-laki lebih memilih pasangan Artificial Intelligence yang hanya mengucapkan hal-hal yang ingin mereka dengar, dan memperlihatkan hal-hal yang ingin mereka lihat.

Seperti menyambut sepulang kerja, selepas hari melelahkan, menawarkan minuman penenang, berdandan cantik, dan menawarkan segala jenis bantuan.

Well..

Keunggulannya, mereka tidak begitu banyak berbicara hal tidak penting. Sedikit mengeluh. Dan menyenangkan.

Jadi untuk bisa menyenangkan, kurang-kurangi saja deh kebiasaan berkomentar, apalagi yang tidak berfaedah seperti ibu tadi mengomentari orang yang nonton sendirian tapi membeli paket makanan lengkap dan banyak.

The KEY is: K.I.Y

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert